
Sesampainya di rumah Dhifa, David dikejutkan dengan keadaan rumah Dhifa yang terlihat sepi dari biasanya. Tidak ada seorangpun satpam yang berada di pos keamanan begitupun dengan Bodyguard penjaga yang biasanya berjajar rapi di depan pintu dan halaman rumahnya Dhifa, semuanya hilang seolah mereka tak satu pun pernah ada disana.
*lni Aneh, ke mana mereka semua*. Gumam David pelan.
la merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel untuk menelpon seseorang.
" Aku di luar... ceritakan saja nanti... dia bersamaku...buka pintu nya."
Tut tut tut
Sambungan telepon terputus dengan muka David yang merah padam. Beberapa menit kemudian seseorang perempuan yang berpakaian serba laki\-laki lengkap dengan penutup kepala dan mukanya keluar mengendap\-ngendap dari arah semak\-semak belukar yang tumbuh di dekat pos keamanan. Setelah memastikan keadaan sekitar aman, lalu ia masuk kedalam pos keamanan lalu menekan tombol rice di layar laptop keamanan gerbang. Dan alhasil kini palang pintu gerbang mulai terbuka secara perlahan.
Ketika David sudah melewati gerbang ia lalu menurunkan kaca mobil Seraya melirik kearah perempuan tersebut untuk masuk ke Mobilnya di waktu yang tepat. Hanya dengan isyarat namun peremuan tersebut langsung mengerti dan mengangguk sebelum akhirnya menghilang kembali dalam kegelapan.
David melajukan Mobilnya ke depan pintu rumah dan turun mobil dengan wajahnya yang tegas. Ingin rasanya ia membangunkan Dhifa, namun ini sudah larut malam. Perkiraannya untuk sampai ia targetkan pada jam 8 malam, Namun karena kemacetan selalu membuat semuanya menjadi terlambat.
"Maaf Dhif!" kata David sebelum menjulurkan tangannya untuk menggendong Dhifa.
*Ini orang apa karung beras ya! Berat banget* . Serapah David kewalahan.
kini Dhifa sudah berada di dalam gendongan David. Nafasnya masih teratur menandakan kalau Dhifa masih terlelap dalam tidurnya. Suasana di ruang tamu masih begitu sepi seperti di luar tadi, namun pandangan David masih tertuju ke arah kamarnya Dhifa karena menurutnya Dhifa tidak boleh tahu perihal ini.
David membaringkan Dhifa secara perlahan di atas tempat tidur dengan perlahan pula ia menyelimuti Dhifa hingga menutupi lehernya. Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya mendekatkan dirinya untuk mencium kening Dhifa selama beberapa detik.
*Have a nice dream bee*. Bisik David pelan.
Tiba\-tiba pintu kamar Dhifa terbuka dengan munculnya seorang perempuan yang terkesan begitu anggun.
"Dave, bisa kita bicara sebentar!" tanya Anna, mama Dhifa.
"Baik, nyonya" Jawab David Seraya mengikuti langkah tuannya yang keluar dari kamar Dhifa dan menuju ke arah ruang tamu. Di sana Anton, ayah Dhifa. sudah duduk dengan matanya yang terus bergonta\-ganti melihat laptop dan berkas\-berkas di hadapannya yang sangat banyak dan berceceran di sana sini.
" Duduklah Dave, aku akan selesai sebentar lagi." kata Anton dengan matanya yang masih terpaku pada laptop.
" Duduklah dulu!" lanjut Anna menambahkan.
Tanpa membantah David langsung duduk dengan matanya yang terus mengawasi sekeliling karena merasa seperti ada yang memata\-matainya dan *hap*! matanya menangkap pergerakan itu di atas pohon dengan pakaian serba hitam. Sosok itu mulai melarikan diri karena ketahuan, sebab Ketangkap basah oleh David yang menetapnya secara terang\-terangan.
*Bereskan dia*. bisik David pelan di earphone tanpa sepengetahuan kedua tuannya yang duduk di depan.
"Sebelumnya aku minta maaf Dave, karena mungkin aku harus mengatakannya Meski aku juga sulit untuk mengungkapkannya." kata Anton dengan menarik nafas dalam dalam.
"kami tidak bisa memperkerjakan mu lagi di sini. Bukan maksud kami untuk memecat mu, itu tidak pernah terpikirkan oleh kami. Hanya saja..." kata\-kata Anna tergantung dengan ia menghembuskan nafasnya pelan.
"Perusahan kami mengalami kebangkrutan, semua saham kami sudah banyak yang terjual untuk membayar hutang kami. Kami hanya mempunyai beberapa saham lagi yang tersisa, harapan kami untuk bangkit seperti suatu hal yang mustahil terjadi." kata Anton melanjutkan.
" Jadi karena alasan itu Anda memberhentikan seluruh karyawan di rumah ini." Tanya David datar.
Tanpa menjawab keduanya hanya mengangguk dengan menahan nafas panjang.
" kalau memang itu alasannya aku tetap tidak ingin berhenti!" kata David pasti.
" Tapi ekonomi kami tidak cukup lagi untuk mengaji mu, Dave! " Jawab Anna.
" tuan nyonya, Saya tidak pernah mempermasalahkan itu. Saya akan tetap bekerja meski anda tidak mengaji saya." kata David tetap pada pendiriannya
~♥~