I'm yours

I'm yours
16 ( Kesepakatan keluarga )



Leon dan Lea saling menatap dengan ekspresi yang terkejut.


" Tapi Pap ... aku kan sebentar lagi akan melaksanakan praktek ku," kata Lea keberatan.


Leon menatap Lea yang masih merasa keberatan dengan pelaksanaan pernikahan itu.


" Keputusan kami sudah bulat, dan kau tak boleh membantah, Lea. Atau kita putuskan saja hubungan pertunangan ini!" tegas Erka.


" JANAGAN !!" teriak Lea dan Leon bersamaan


Semua keluarga tampak tersenyum melihat kekompakan mereka.


" Baiklah, aku menyetujuinya." Leon menoleh pada Lea saat wanita itu menyetujui pernikahan itu.


" Are you serious?" tanya Leon memegang tangan Lea.


Lea menoleh pada Leon dan tersenyum.


" Aku tidak akan mengecewakan mu lagi," sahut Lea menggenggam tangan Leon.


" Thank you, I love you so much." Leon langsung mencium kedua punggung tangan Lea.


Lalu mereka melanjutkan obrolan tentang rencana pesta pernikahan itu.


Lea dan Leon tak mengadakan pesta pernikahan yang meriah. Karena mereka juga masih di sibukkan dengan urusan masing-masing.


Yang terpenting, mereka menikah dan tentang urusan pesta akan dilakukan setelah Lea lulus dari kuliahnya.


.


.


Dua hari berlalu, Alea sudah mulai menjalani praktek nya di perusahaan Adelard.corp.


Dan tidak ada yang tahu tentang rencana pernikahan nya dengan Leon kecuali keluarga mereka.


Lea menjadi sekertaris dari Angre, karena sekertaris Angre sedang cuti melahirkan.


" Lea, apa semua berkas nya sudah beres?" tanya Angre.


" Sudah, Tuan." Angre tertawa mendengar Lea memanggilnya dengan sebutan Tuan.


" Kenapa kau tertawa? apa ada yang lucu?" kata Lea melihat heran pada Angre yang masih tertawa.


" Jangan memanggilku dengan sebutan Tuan, Lea. Aku geli mendengarnya," kata Angre masih dengan tawanya.


Lea ikut tertawa saat mendengar ucapan dari sang bos.


" Seharusnya kau tertawa jika aku menggelitik mu seperti ini," kata Lea sambil menggelitik area perut Angre.


Tapi ternyata yang di klitik pun tak bergeming.


" Apa kau tak merasa geli?" tanya Lea sambil menggelitik Angre.


" Tidak," sahut Angre singkat.


" Ck, menyebalkan." Lea langsung menghentikan menggelitik Angre dan mengambil berkasnya.


Angre tertawa melihat ekspresi Lea yang terlihat kecewa karena dirinya malah tak tertawa saat dirinya di klitik oleh Lea.


Lalu mereka berjalan beriringan menuju ruang meeting.


.


.


" WHAT ... MEREKA AKAN MENIKAH!!" kata Keylin terkejut.


" Ya, sayang. Aku mengetahui hal ini dari tuan Thoy langsung tadi," kata dadi Keylin.


" Tapi kenapa Leon tak mengabari ku sama sekali sampai saat ini, Dad."


Keylin merasa frustasi mendengar berita Leon akan menikah.


" Itu mungkin karena kau tidak se sepesial tunangan nya itu," sahut Hendrik lagi.


" Pulang lah, key. Daddy ada rencana yang bagus agar pernikahan itu gagal." Lalu langsung memutuskan panggilan itu.


Keylin langsung bersiap untuk langsung terbang hari itu juga.


Dan kebetulan sekali, ternyata putrinya Keylin memang mencintai Leon.


Sementara itu Leon bersama Thoy sang Daddy, tengah sibuk di perusahaan nya.


Mereka sedang meluncurkan produk terbaru dari perusahaan tersebut.


" Bagaimana tentang berkas-berkas pernikahan mu, Leon?" tanya Thoy setelah menyelesaikan meeting nya.


" Semua akan siap besok, Dad," sahut Leon sambil menandatangani berkas di meja itu.


" Apa perlu kau langsung menikah besok, Leon?" tanya Thoy.


" Tidak perlu, Dad. Aku akan menikah setelah acara launching produk terbaru kita." Leon menaruh kembali berkas yang sudah di tandatangani. Dan langsung di bawa oleh sang asisten.


" Baiklah, dan Daddy akan mengumumkan pernikahan mu di acara launching nanti," sahut Thoy.


" Itu terserah pada Daddy."


" Bagaimana dengan keylin, Leon?" tanya Thoy penasaran.


Leon menatap sang daddy yang duduk bersandar di kursi yang berada di ruang meeting itu.


" Aku tidak pernah memiliki hubungan dengan nya, Dad. Dia sendiri yang terus mengejar ku, dan memberikan tubuhnya pada ku. Aku hanya mengikuti permainan nya," sahut Leon.


" Jika dia mengajakmu ke ranjang, kau akan mengikuti nya juga?" tanya Thoy lagi.


" Come on, Dad. Aku tidak pernah bercinta dengan nya," kata Leon meyakinkan sang daddy.


" Aku sudah memberi tahu Hendrik tentang pernikahan mu, dan Daddy pastikan sebentar lagi Keylin akan muncul di hadapan mu. Jadi kau haru menjaga sikap mu dan tak terpancing oleh permainan nya," kata Thoy mengingat kan putra nya.


" Ya, Dad. Aku pasti akan lebih hati-hati setelah ini." Lalu mereka keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke ruangan masing-masing.


.


.


Sore menjelang, Leon berjalan keluar dari perusahaannya sambil menghubungi seseorang.


" Hallo, Honey. Apa pekerjaan mu sudah selesai?" tanya Leon saat panggilan nya tersambung.


" Ya, sebentar lagi. Aku hanya sedang membereskan berkas-berkas untuk persiapan meeting Angre besok pagi," sahut Lea dari seberang telepon.


" Baiklah, aku akan menjemputmu. See you." Leon langsung memutuskan panggilan nya dan masuk kedalam mobil sportnya.


Dia menjalankan mobilnya menuju perusahaan Adelard.corp.


Kini dia sudah tiba di depan gedung perusahaan milik Angre. Tempat dimana pujaan hatinya sedang melaksanakan praktek di perusahaan itu.


Leon keluar dari mobilnya dengan mengenakan kacamata hitam nya. Lalu duduk di depan mobilnya.


Hal itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian di sana.


Alea keluar dari lobby bersama Angre. Leon menoleh dan tak suka dengan keakraban Lea dan Angre.


"Leon ... Kau sudah lama disitu?" tanya Lea menghampiri Leon.


Leon membuka kacamata hitam nya dan tersenyum pada Lea.


" Tidak, aku baru saja sampai."


Lalu Leon merengkuh pinggang ramping Lea dan mengecup bibirnya di hadapan Angre.


" Honey, jangan mencium ku di tempat umum," kata Lea mendorong dada bidang Leon.


" Kenapa? kau malu? terbiasa lah dengan hal ini, karena aku akan sering mencium mu di tempat umum. Agar semuanya tahu bahwa kau hanya milikku," kata Leon.


Lalu melihat kearah Angre yang tampak memalingkan pandangannya.


" Ah ya, Angre. Kenalkan dia __"


" Leonardo Guesson, tunangan Lea dan sebentar lagi akan menikah dengan nya dalam hitungan hari," kata Leon memotong perkataan Lea sambil mengulurkan tangannya pada Angre.


" Senang bertemu dengan mu, Tuan. Saya Angre sahabat yang selalu ada untuk Alea. Dan tidak perlu memperjelas hubungan mu dengan Lea. Karena Lea cukup sering menceritakan tentang Anda padaku," kata Angre sambil menjabat tangan Leon.


Mereka saling menatap tajam satu sama lain tanpa melepas tautan tangannya.