
Makan malam itu pun berjalan dengan lancar. Pertunangan Alina dan Mike sudah di sepakati oleh dua keluarga.
Dan mereka memutuskan untuk melangsungkan pesta pertunangan itu Minggu depan, dimana akan di adakan di mansion keluarga Bramasta karena Alina yang meminta hal itu.
Alina tidak ingin merepotkan Momy Abel yang kesehatan nya masih belum pulih total. Dan dia tak mau Momy nya itu kecapean dan berakibat dengan kesehatan nya.
Kini semua tampak mengantarkan keluarga Ivander ke depan beranda mansion. Mereka tampak saling berpamitan dan langsung masuk kedalam mobil masing-masing.
Mike membuka pintu mobilnya tapi pandangan matanya tertuju pada Alina yang berdiri belakang kursi roda Abel.
Tatapan mereka bertumpu. Dan Alina langsung tersenyum pada Mike.
Pria itu membalas senyuman itu dan dia langsung masuk kedalam mobilnya.
.
.
Kini Alina sedang berada di kamar Abel. Dia membantu sang Momy berbaring di atas ranjang dan membenarkan selimut nya.
" Good night, Mom."
Alina mengecup kening Abel dan tersenyum pada nya.
Abel tampak menatap intens wajah sang putri. Lalu dia memegang tangan Alina dan menyuruh nya untuk duduk di ranjang.
" Ada apa, Mom? apa ada yang masih kau butuhkan?" tanya Alina lembut.
" Tidak. Momy hanya ingin menanyakan sesuatu padamu," sahut Abel.
Alina menatap wajah sang Momy dengan intens.
" Hmmm ... Bertanyalah. Aku akan menjawab semua pertanyaan dari Momy," sahut Alina.
" Apa kau bahagia dengan pertunangan ini? apa ada yang memaksa mu disini? apa Dev yang sudah merencanakan semua ini?" tanya Abel.
Alina terkejut saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Abel padanya.
" Tidak. Aku bahagia dengan pertunangan ini, kenapa Momy bertanya seperti itu?" tanya Alina.
" Kau terlihat sedikit tertekan dan senyuman di wajah mu itu, aku tahu arti senyuman itu, Al."
Alina tersenyum dan menatap wajah sang Momy. Dia mengusap lembut punggung tangan Momynya itu dan mencium punggung tangan nya.
" Aku bahagia dan Mike adalah pilihan ku, bukan Kak Dev. Aku hanya memikirkan kesehatan Momy. Aku ingin Momy selalu ada di sisiku sampai aku melahirkan cucu-cucu Momy, hanya itu yang aku pikirkan," sahut Alina.
Able tersenyum dan memeluk sang putri.
" Aku tahu dia pria yang baik dan dari keluarga yang baik. Dev tidak akan membiarkan adiknya jatuh ke tangan seorang pria yang tak baik," sahut Abel dan Alina pun tersenyum.
" Baiklah. Good night, sayang."
Alina langsung keluar dari kamar itu setelah mencium kedua pipi sang Momy.
Abel masih menatap kepergian sang putri sampai pintu itu tertutup.
" Mereka pasti akan menjagamu, Sayang," gumam Abel.
.
.
Pagi menjelang.
Alina sudah siap dengan setelan formal nya. Wanita itu menatap pantulan dirinya di depan cermin sambil merapikan rambutnya yang sudah dia tata rapi.
" Done. Ayo kita mencari cuan!!" gumam Alina sambil mengambil tasnya.
Dia keluar dari kamar nya dan langsung menuruni tangga. Saat menuruni tangga, dia mendengar suara seseorang yang sangat dia kenal.
Alina mengedarkan pandangannya dan melanjutkan perjalanan ke ruang makan, tempat dimana asal suara itu berasal.
Lalu langkah kaki nya terhenti saat melihat sosok pria yang duduk di ruang makan bersama keluarganya.
" Alina ... akhirnya kita bertemu lagi," kata pria itu.
Alina tampak tak tersenyum dan ekspresi wajah nya pun berubah.
" Ya. Kita bertemu lagi," sahut Alina tanpa ekspresi.
Lalu dia melanjutkan langkah kaki nya menuju ruang makan.
" Kak, aku akan langsung berangkat. Dan aku akan sarapan di kantor. Ada urusan penting sebelum aku menghadiri meeting pagi ini," kata Alina sambil mengambil Roti isi yang sudah di siapkan oleh Zea.
" Baiklah. Hati-hati dan jangan mengebut," sahut Dev.
Alina tersenyum dan berpakaian pada kakak serta Momynya.
" Aku pergi dulu, Mom."
Alina menciumi seluruh wajah sang Momy dan juga punggung tangan nya.
" Bye ... semuanya!"
Alina berbalik pergi dari ruang makan dan ekspresi wajah nya tampak berubah. Ada guratan emosi di sana dan dia seakan tak suka dengan kehadiran pria itu di mansionya.
' Kali ini kau tidak akan bisa melewati batasan mu lagi, Exo!'