
Ke esokan harinya.
Seperti biasa, Alina akan bangun pagi-pagi sekali. Dia langsung berolahraga sedikit di ruang gym yang ada di apartemen nya.
Wanita itu mengenakan headset di telinga nya dan mengatur kecepatan mesin treadmill nya lalu dia mulai berlari.
Setelah beberapa menit dia kembali memencet tombol yang ada di bagian depan treadmill untuk menambah kecepatan nya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Alina langsung menekan tombol yang ada di headset bluetooth nya dan panggilan pun otomatis tersambung.
" Hallo, Al. Jangan lupa meeting nanti di perusahaan milik Mike, aku tak bisa hadir karena harus cepat-cepat kembali ke negara x karena si kembar sedang sakit dan kakak ipar mu kewalahan. Kau tak keberatan jika langsung kakak tinggal?" kata Dev dari seberang telepon.
" Iya, Kak. Serahkan urusan itu padaku. Aku akan menanganinya," sahut Alina dengan nafas yang ngos-ngosan.
" Baiklah. Berkas nya sudah ada di asisten mu, jaga dirimu baik-baik disini. Love you," ucap Dev yang sudah mengerti kebiasaan adiknya yang selalu berolahraga di pagi hari.
" Oke. Hati-hati kak, Love you to."
Lalu mereka sama-sama memutuskan panggilan itu.
Alina menekan tombol untuk mengehentikan mesin treadmill. langkahnya pun mulai berhenti perlahan dan dia langsung turun dari alat olahraga nya itu.
Wanita itu mengambil handuk nya dan mengusap keringat yang membasahi tubuhnya.
Setelah itu Alina berjalan ke dapur minimalis nya dan meminum air putih. Dia juga memanggang roti dan juga membuat jus buah untuk menemani makan pagi nya.
CEKLEK
Roti itu keluar dari mesin pemanggang. Alina mengambil alat pencapit untuk mengambil roti dan meletakkan nya di piring.
Dia membawa piring yang sudah berisi roti dan juga jusnya menuju meja makan. Lalu dia mulai menikmati makanan sendiri.
Alina kini sudah tumbuh dewasa dan sudah sangat mandiri. Dev sudah sangat percaya pada sang Adik. Alina yang manja kini sudah tak ada lagi.
Gadis itu kini berubah menjadi wanita dewasa yang cantik dan sangat mandiri. Dia menikmati hidup nya yang sudah sangat sempurna meskipun tidak ada pria di sisinya.
Bahkan Dev sempat merindukan Adik manjanya yang dulu sering berteriak padanya. Sungguh aneh, dulu dia berdoa semoga adiknya itu merubah sikap manja nya.
Namun saat gadis itu kini menjelma menjadi wanita dewasa yang mandiri dan tangguh. Dev malah menginginkan adiknya itu bersikap manja lagi seperti dulu.
.
.
Kini jam sudah menunjukkan puku 7. Alina keluar dari dalam kamar nya dengan penampilan cantik dan rapi.
Wanita cantik itu memakai rok span ketat yang panjang nya di atas lutut nya dan membungkus bokong sintal nya.
Dia mengenakan blouse yang berbeda kupu-kupu dan memakai blazer yang senada dengan roknya.
Rambutnya di ikat tinggi bak ekor kuda dan memperlihatkan leher jenjang nya. Sungguh penampilan yang cantik dan menggemaskan.
Alina keluar dari apartemen nya setelah mengenakan high heels nya. Dia berjalan menuju lift dan lekas menekan tombol yang ada di samping lift hingga membuat pintu lift itu terbuka.
Dia masuk dan menekan tombol yang bisa membawanya turun ke lantai pakir dimana mobilnya berada.
Ting
Dia membuka pintu mobil dan segera masuk kedalam. Dengan cepat dia menyalakan mesin mobilnya dan memakai sitbelt nya setelah meletakkan tas nya di kursi yang ada di samping nya.
Mobil pun perlahan malanu dan keluar dari area parkiran basemen. Dengan santai Alina melakukan mobilnya keluar dari area gedung apartemen nya dan langsung menuju perusahaannya.
Tidak lupa ada satu mobil yang mengikutinya dari belakang. Dan Alina sudah biasa dengan hal itu karena mobil yang ada di belakangnya adalah mobil dari para bodyguard yang selalu mengikuti nya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Alina langsung mengambil headset yang tersedia di mobil jok mobil nya.
" Hallo."
" Hallo, Nona. Semua berkas untuk rapat sudah saya siapkan beserta dokumen dari Tuan Dev. Apa kita langsung saja menuju perusahaan Ivander.Corp?" tanya Nina, asisten kepercayaan Alina.
" Hmmm ... Kita langsung bertemu di perusahaan itu saja."
" Baik, Nona."
Panggilan pun langsung di putus oleh Alina dan meletakkan kembali headset nya.
Wanita itu menghela nafasnya. Entah kenapa dia sedikit gugup karena sudah tahu perusahaan itu milik pria muda yang tampan dan sudah berkenalan dengan nya.
" Huuuft ... Oke. Tetap fokus Alina, tidak perlu gugup karena ini bukan pertama kalinya kau menangani meeting seperti ini," gumam Alina menyemangati diri nya sendiri.
.
.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di perusahaan Ivander,corp. Mike baru tiba di perusahaan nya.
Pria tampan itu berjalan dengan tubuh tegap nya yang tak berekspresi. Dengan langkah lebar nya, dia masuk kedalam lift khusus pimpinan dan membawanya naik menuju lantai dimana ruangan nya berada.
Ting
Pintu lift terbuka. Pria itu langsung keluar dan langsung di sambut oleh sang asisten.
" Apa semua persiapan nya sudah siap?" tanya Mike sambil melangkah kan kakinya.
" Sudah, Tuan. Dan perwakilan dari perusahaan Bramasta sudah menuju kemari," sahut Reo.
" Bagus ... aku akan memeriksa nya terlebih dahulu," sahut Mike yang kini sudah ada di depan pintu ruangan nya.
" Baik, Tuan."
Mike langsung berjalan menuju kursi kebesaran nya.
Reo langsung meletakkan semua berkas yang ingin di periksa oleh sang bos ke mejanya.
Dan pria itu lekas mengambil berkas itu dan memeriksa nya setelah menduduki kursi kebesaran nya.
Tiba-tiba pikiran nya terfokus pada nama Alina.
' Shiitt ... kenapa aku jadi susah berkonsentrasi hanya dengan melihat namanya saja,' batin Mike.