
Rombongan keluarga Angre dan Lea tiba di bandara secara bersamaan. Karena memang keluarga Lea terbang lebih dulu.
Erka kembali menghubungi ponsel anak dan menantunya, namun tetap tak tersambung.
Lalu ada telepon dari Dev ke ponsel Belle.
" Hallo, Dev. Aku sudah tiba di bandara," ucap Belle dengan suara yang bergetar karena khawatir.
" Aunty. Datanglah ke rumah sakit xx. Lea sudah melahirkan," sahut Dev.
" Benarkah?? syukurlah. Jadi karena hal itu ponsel mereka tak bisa dihubungi?" tanya Belle dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.
" Tidak, Aunty. Bukan karena itu, ada hal buruk yang menimpa Angre," ucap Dev.
" Angre?? ada apa dengan nya, Dev?" tanya Belle yang kembali khawatir.
" Cepatlah datang kemari." Dev langsung memutuskan panggilan itu.
Dia takut Belle akan bertanya lebih lanjut tentang kejadian buruk ini.
Lalu dia kembali masuk kedalam perawatan Lea.
Lea sudah di pindahkan ke ruang perawatan bersama bayinya. Bahkan Thoy dan Martha juga ada di sana.
Lea masih menangis dalam pelukan Martha. Dia mengingat perkataan sang suami sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
" Aku akan melakukan apapun bahkan mengorbankan diriku untuk melindungi mu." Itu perkataan Angre yang Lea ingat.
" Aku mencintaimu sampai akhir hayat ku." kata-kata Angre pada Lea saat berada di tepi pantai sebelum kemalangan itu terjadi.
Lea terus menangis. Mengingat semua perkataan sang suami. Pria itu benar-benar membuktikan perkataan nya.
Dia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan sang istri hingga dia yang tertabrak. Dia juga membuktikan pernyataan cinta bahwa dia mencintai Lea hingga akhir hayat nya.
Bahkan sebelum menghembuskan nafasnya, pria itu tetap menyatakan perasaannya.
Semua orang yang ada di ruangan itu menangis. Zea, istri Dev sedang menggendong tubuh mungil bayi Lea dengan air matanya yang menetes.
Wanita itu menatap wajah mungil itu yang memang sangat mirip dengan mendiang daddy nya.
" Dia terlahir kembali dengan berwujud kan malaikat kecil ini," ucap Zea.
Semua orang langsung menatap kearah Lea.
" Ya. Itu sangat benar," sahut Dev yang berada di samping Zea.
" Angre menghembuskan nafasnya hari ini, dan hari ini juga putranya lahir ke dunia," ucap Dev lagi.
" Apa kau sudah menyiapkan nama untuk putra mu, Lea?" tanya Zea.
" Ya. Angre sudah menyiapkan nama untuk bayi kita," sahut Lea lirih.
" Siapa namanya?" sahut Dev.
" LEANGGA ANGRE ADELARD."
Lalu Lea kembali menangis namun tak bersuara.
" Itu nama yang sangat bagus," kata Marta sambil mengusap air mata yang terus menetes di pipi Lea.
Alina menghampiri sahabat nya itu. Dia memeluknya sambil mengusap lengannya.
" Bersabarlah, Sweety. Ada kami disini yang akan selalu bersama mu. Kau tidak akan kesepian karena sudah ada Angre junior yang akan selalu merepotkan mu. Kau harus menjadi ibu yang kuat untuk Beby leangga, Oke."
Kata-kata dari Alina membuat Lea tersenyum. " Thank you," ucap Lea lirih.
CEKLEK
Suara pintu dibuka. Rombongan keluarga Lea dan Angre masuk kedalam ruangan itu.
" Sayang ... Kau baik-baik saja?" tanya Mona menghampiri sang putri dan memeluknya.
" Kau membuat kami sangat khawatir," ucap Erka sambil mengusap puncak kepala sang putri.
Lea kembali menangis dalam pelukan Mona. Belle menghampiri Lea dan ikut memeluk nya.
" Selamat, sayang. Kau berhasil melahirkan putra mu dengan selamat," kata Belle.
Lea pun semakin menangis dan tak bisa berkata-kata.
Edrick menatap semua orang yang ada di ruangan itu. Tapi dia tak melihat keberadaan putra nya yang seharusnya berada di ruangan itu juga.
" Dimana Angre?" tanya Edrick.
Semua orang yang ada di ruangan itu terdiam dan tak ada yang menjawab pertanyaan dari Edrick.
" Ya. Dimana Angre, sayang? apa dia masih mengurus administrasi mu?" tanya Belle.
Lea semakin menangis mendengar pertanyaan itu. Mona dan Belle saling menatap dan itu membuat mereka khawatir.
" Dia kecelakaan, Uncle," sahut Dev.
" WHAT!!!" sahut Belle dan Edrick bersamaan.
" Lalu dimana dia sekarang? bagaimana keadaan nya?" sahut Belle semakin khawatir.
" Seharusnya kalian mengatakan hal itu sejak tadi," ucap Erka yang juga mulai khawatir.
Pasalnya dia melihat wajah putri nya yang memerah dan matanya yang sembab karena terus menangis.
CEKLEK
Pintu kamar perawatan Lea dibuka dan seorang perawat laki-laki muncul dari balik pintu.
" Permisi ... Jasad Tuan Angre sudah selesai di otopsi."
DEG
Orang tua Lea dan Angre langsung lemas mendengar perkataan dari perawat itu.
" Apa maksudmu!!! Jasad? Otopsi?" bentak Edrick.
Lalu Edrick menatap kearah Dev dengan tajam.
" Jelaskan ini semua padaku, Dev!!" tegas Edrick.
Sementara Belle tampak menangis sambil memegang dadanya.
" Maaf. Polisi meminta beberapa perwakilan dari keluarga korban untuk ikut mendengarkan hasil otopsi dari korban. Permisi."
Perawat itu langsung keluar dari ruangan itu setelah menyampaikan informasi itu.
Edrick, Erka dan juga Dev mengikuti langkah perawat itu. Mereka ingin mendengar kan hasil otopsi nya.
Sementara Belle dan Mona menangis sambil memeluk Lea.
" Aku ingin melihat nya, antar aku untuk melihat nya, aku mohon!" ucap Lea.
" Jadi itu semua benar adanya, sayang?" tanya Mona.
Lea mengangguk kan kepalanya. Hal itu membuat Belle terduduk lemas dan Alina menghampiri Belle dan merangkul nya.
" Aku ingin melihat putraku, antar aku kesana. Mungkin dia hanya mengerjai kita saja, kan?" ucap Belle seperti tak percaya bahwa putranya sudah tiada sebelum dia melihat nya sendiri.
Lalu Alina merangkul bahu Belle Berjalan keluar dari ruangan itu. Lea turun dari ranjangnya dan duduk di kursi roda dengan di bantu Mona.
Mereka juga keluar dari ruangan itu dan ingin melihat jasad Angre.
Sementara Zea, dan Marta tetap berada di ruangan itu menjaga bayi Leangga.
" Kemana Leon, Aunty?" tanya Zea sambil menaruh Beby Leangga ke ranjang nya.
" Dia keluar bersama Thoy. Dia di mintai keterangan oleh polisi sepertinya."
.
.
Dokter menjelaskan apa yang membuat Angre tiada dalam tragedi kecelakaan itu.
Disana sudah ada Leon dan Thoy yang sedang di mintai keterangan oleh seorang polisi. Erka menatap tajam kearah Leon.
' Kenapa dia ada disini?' batin Erka.
" Dari semua keterangan yang kami kumpulkan dari orang-orang yang melihat kejadian itu. Tuan Angre tertabrak oleh truk dengan begitu keras hingga membuat dia terpental jauh hingga sekitar 5 meter dari tempat kejadian." Kata seorang polisi.
Hal itu membuat Erka dan Edrick begitu terkejut mendengar penjelasan dari polisi itu.
" Untuk kelanjutan nya biar dokter yang menjelaskan kenapa korban sampai tiada di lokasi kejadian."
" Saya sudah melakukan serangkaian pemeriksaan pada tubuh korban. Dia mengalami cidera parah di kepala nya karena terbentur ke aspal dengan begitu keras. Empedunya pecah hingga dia mengeluarkan darah begitu banyak dari mulutnya. Dia juga kehilangan begitu banyak darah karena darah juga keluar dari cindera di kepalanya.
Dan organ dari dalam tubuhnya rusak. Mungkin itu karena dia tertabrak dengan keras dan terjatuh di aspal dengan begitu keras."
Edrick begitu lemas saat mendengar penjelasan dari dokter dan polisi. Dia berlutut di hadapan mereka. Dia tak bisa lagi menopang bobot tubuhnya.
Leon menghampiri nya dan menguatkan nya.
" Lalu dimana dia sekarang?" tanya Erka.
" Kami sudah membersihkan tubuhnya dan sekarang sudah ada di ruangan jenazah."
DEG
Belle yang kebetulan berada di area itu langsung terjatuh ke lantai saat mendengar perkataan dari dokter itu.