I'm yours

I'm yours
35 Ang-Le



" Sayang ... tenanglah. Aku tidak akan melahirkan hari ini," kata Lea menggenggam tangan Angre.


" Tapi kau tadi bilang akan mahirkan?" sahut Angre masih fokus dengan kemudinya.


" Itu hanya salah paham, sayang. Jadi tenanglah, oke," kata Lea.


Angre pun kembali tenang. Mereka melanjutkan perjalanan nya dengan santai ke rumah sakit.


Lea mulai memakan es cream yang di belikan oleh sang suami.


Setibanya di rumah sakit. Lea dan Angre langsung masuk kedalam rumah sakit dan berjalan bersama menuju ruangan dokter kandungan karena mereka sudah memiliki janji dengan nya.


Angre selalu menemani sang istri jika sedang melakukan kontrol rutin kehamilan nya.


" Selamat pagi, Dokter Rini," kata Lea masuk kedalam ruangan dokter itu.


" Selamat pagi Nyonya Lea, bagaimana kabar mu hari ini? sepertinya kalian terlihat sedang sangat senang," sahut dokter Rini yang melihat wajah bahagia dari kedua nya.


Lea dan Angre pun duduk di kursi di seberang meja dokter Rini.


"Apa yang kau rasakan saat ini Nyonya Lea?" tanya dokter ini.


"Cukup baik, Dokter. Dia bergerak sangat aktif akhir-akhir ini di dalam sana," kata Lea sambil mengelus perut buncitnya.


"Ya. Di usia yang sekarang ini memang dia akan bergerak dengan sangat aktif. Jika gerakan nya berkurang kau harus memeriksakan nya karena itu akan berbahaya," kata cerini menjelaskan.


Lea dan Angre tampak mendengarkan dengan seksama penjelasan dari dokter Rini.


"Mari saya periksa dulu," kata Dokter Rini.


Lalu Lea pun membaringkan tubuhnya di ranjang yang ada di ruangan itu.


Dokter Rini memeriksa tekanan darah Lea terlebih dahulu sebelum dia mengoleskan gel ke permukaan perut Lea.


Lalu menggerakkan alat di atas perut Lea untuk memeriksa kandungan Lea, agar bisa melihat keadaan janin yang ada di dalam kandungan Lea.


Angre tampak fokus menatap kearah layar monitor sambil menggenggam tangan Lea.


Di sana dia melihat bayi mereka dengan begitu jelas.


" Lihat. Dia selalu menyembunyikan wajahnya jika kita sedang ingin melihat wajah nya," kata Angre yang begitu gemas karena tak bisa melihat wajah sang bayi.


Lea hanya tertawa pelan mendengar celotehan Angre.


" Aku sering merasakan seperti sedang cegukan dari dalam perut ku, Dokter. Apa memang dia yang sedang cegukan?" tanya Lea sambil terus menatap kearah monitor.


" Ya. Itu bayi mu sedang cegukan," sahut Dokter Rini.


" Apa itu tidak berbahaya, Dokter?" tanya Angre.


" Tidak. Itu wajar saja karena dia sedang melatih pernafasan nya," sahut Dokter Rini.


"Apa kalian ingin tahu apa jenis kelamin bayi kalian? tanya Dokter Rini.


"Bisakah itu, Dokter?" kata Angre excited.


"Aku ingin tahu jenis kelaminnya, Dokter," sahut Lea.


Lalu Dokter Rini pun kembali menggerakkan alat itu. Dia seolah mencari sesuatu dengan terus menatap kearah monitor.


"Kandungan bayi mu sangat sehat, beratnya pun sudah standar dan normal di usia kandungan nya yang sudah 7 bulan. Dan dia terlihat memang sangat aktif di dalam sini. Sepertinya dia berjenis kelamin laki-laki itu terlihat dari kelaminnya ini," kata Dokter Rini sambil menunjuk ke arah layar monitor itu.


"Hallo ... boy. Berhentilah bergerak dan tunjukkan wajah mu pada Daddy," kata Angre yang membuat Lea dan Dokter Rini tertawa.


Lalu bayi itu berhenti bergerak dan mulai menunjukkan wajahnya yang tadinya tertutup oleh kedua tangannya.


" Ya. Dia pasti sangat hafal dengan suara Dady nya. Karena Daddy nya selalu mengajaknya berbicara meskipun aku sedang terlelap," sahut Lea.


" Itu agar dia merasakan kehadiran Daddy nya sejak dalam kandungan, sayang," kata Angre.


" Ini tak adil. Kenapa wajahnya sangat mirip dengan Daddy nya saja," omel Lea.


" Karena dia Angre junior, sayang. Bukan Lea junior," sahut Angre sambil mencium kening Lea.


Dokter Rini hanya tersenyum. Dia meletakkan alat nya dan menghapus gel yang ada di perut Lea.


Lea bangkit dari ranjang dengan di bantu oleh Angre hingga menuruni ranjang itu.


" Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?" tanya Dokter Rini sambil berjalan kearah kursi kerja nya.


" Belum, Dokter," sahut Lea.


" Kalau begitu kalian harus menyiapkan nama yang bagus untuk bayi kalian, karena kalian sudah mengetahui jenis kelaminnya, kan?" kata Dokter Rini sambil menuliskan resep vitamin untuk Lea.


" Ya. Aku akan segera mencarikan nama yang bagus untuk Angre junior," jawab Angre.


" Anda sangat beruntung karena Tuan Angre selalu menemani mu saat kontrol rutin kehamilan, kebanyakan dari ibu hamil pada umumnya selalu menggerutu saat memeriksa kehamilan nya tanpa di dampingi sang suami," kata Dokter Rini.


" Ya. Karena aku pria yang amat sangat bertanggung jawab, Dokter," jawab Angre dengan percaya diri.


" Tapi dia sangat protektif padaku, Dokter. Dia bahkan meninggalkan perusahaan nya karena ingin menjagaku 24 jam penuh. Wait ... bukan 24 jam penuh tapi sepanjang hari," kata Lea yang membuat Dokter Rini tertawa dan menggelengkan kepalanya.


" Itu tidak baik, Tuan. Itu akan membuat Nyonya Lea stres karena terkekang," sahut Dokter Rini.


" Kau dengar itu, Tuan?" kata Lea yang membuat Dokter Rini kembali tertawa.


" Baik, Nyonya," sahut Angre yang langsung mendapatkan pukulan dari Lea.


" Kau suami yang cukup siaga," kata Dokter Rini.


Lalu mereka pun keluar dari ruangan Dokter Rini setelah cukup lama berbincang disana.


Setelah selesai menebus resep vitamin yang diberikan oleh Dokter Rini. Angre dan Lea memutuskan untuk pergi ke tempat perlengkapan bayi terlengkap di kota itu.


Mereka akan langsung berbelanja untuk keperluan bayi mereka. Karena mereka sudah mengetahui jenis kelamin bayi nya.


Dalam perjalanan menuju tempat perbelanjaan itu. Senyum mereka selalu mengembang.


Tangan Angre tak pernah melepaskan genggaman tangannya pada sang istri meskipun dia sedang menyetir.


Sesekali dia mencium punggung tangan Lea. Dan Lea pun tersenyum pada sang suami.


Dia merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat mencintainya. Dia juga bersyukur Tuhan masih memberikan nya kesempatan untuk bisa merasakan cinta lagi untuk sang suami.


" Maaf jika aku selama ini terlalu bersikap protektif pada mu," kata Angre.


" Hmmm ... aku mengerti dengan hal itu, Thank you," kata Lea sambil mencium punggung tangan sang suami.


Lalu mereka pun tiba di sebuah perbelanjaan perlengkapan bayi yang cukup terkenal di kotak itu.


" Kau siap untuk memburu perlengkapan bayi kita?" kata Angre sebelum keluar dari mobilnya.


" Ya. Aku menunggu momen ini," sahut Lea dengan senyum sumringah.


Dia memang sangat ingin berbelanja untuk kebutuhan bayinya. Bahkan dia sudah mencatat semua barang yang ingin dia beli di dalam ponsel nya.


Lalu Angre keluar dari dal mobil dan berjalan menuju pintu mobil di samping nya. Dan membuka kan pintu mobil untuk sang istri.


Pria itu mengulurkan tangannya pada sang istri yang bahkan terlihat sangat cantik ketika sedang hamil.