
Angre menatap kearah Erka. Dia tampak berpikir keras untuk mengambil keputusan ini hingga akhirnya dia menyetujui pernikahan itu.
" Aku sangat mencintai Lea, Uncle. Dan aku akan membuktikan hal itu dengan menikahinya," kata Angre setelah lama berpikir.
Lalu Alea tersadar, wanita itu memegang kepalanya sambil mengedarkan pandangannya.
" Apa yang terjadi pada ku?" kata Lea lirih.
Angre membantu Alea yang ingin bangkit duduk di ranjang itu dengan menyusun beberapa bantal agar Alea bisa bersandar ke bantal itu.
" Kau pingsan tadi, Honey," kata Erka.
BRAKK
Terdengar pintu dibuka dengan begitu keras, semua kompak menoleh kearah pintu.
Terlihat Mona yang berlari menghampiri Alea dengan air mata membasahi pipinya.
" Sayang ... kau tidak apa-apa, kan?" kata Mona memeluk tubuh Alea.
Alea kembali menangis di dalam pelukan mom nya itu. Mona mengusap punggung sang putri sembari menenangkan nya.
" Tak apa, ada kami disini. Oke! kami sangat menyayangi mu dan akan selalu ada untukmu. jangan pikirkan hal itu," kata Mona.
Dia sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi. Dan bahkan dia menampar keras pipi Leon yang sudah babak belur akibat pukulan dari Erka dan juga Angre.
Lalu Erka mendekati ranjang. Dia berlutut di samping Lea dan menggenggam tangan nya.
" Aku sudah membatalkan pernikahan itu. Tapi pernikahan itu masih akan berjalan," kata Erka yang membuat Lea menatap nya.
" Apa maksud mu, Honey?" tanya Mona tak mengerti.
" Aku punya satu permintaan untuk mu, sayang. Dan ini adalah perintah, kau harus menerima ini demi papy," kata Erka menatap sang putri.
" Aku akan menerima apapun perintah dari papy. Apapun itu meskipun papi akan menikah kan ku dengan pria asing," kata Lea.
Dan itu diluar ekspektasi Erka dan Angre. Mereka saling menatap sebentar.
" Kau serius dengan apa yang kau katakan barusan, sayang?" tanya Erka.
" Ya. Aku ingin tetap menikah karena jika aku sudah menikah pria brengsek itu tak akan ada lagi kesempatan untuk mendekati ku," sahut Lea yakin.
" Menikahlah dengan Angre."
Perkataan Erka membuat Mona dan Lea menatap kearah Angre.
" Dia sahabat ku, Pap. Aku tidak mau menghancurkan kehidupan nya hanya karena aku," kata Lea.
" Dia bersedia menikahi mu, sayang," kata Erka meyakinkan Lea.
" Tidak, Pap. Dia sedang mencintai seorang wanita saat ini dan dia sedang menunggu nya, aku tak mau melibatkan Angre dalam hal ini," sahut Lea.
" Tapi kau tidak tahu bahwa wanita yang sedang aku cinta itu Kau, Alea!"
Alea terkejut mendengar hal itu dan menatap Angre. " Aku tak mengerti," sahut Lea.
" Kau tidak akan mengerti karena aku menyembunyikan hal ini," kata Angre.
" Kau berbohong, dan aku tidak akan percaya lagi dengan ucapan manis para pria kecuali Papi," sahut Alea mengalihkan pandangannya.
Yang dia tahu, Angre hanya sekedar tertarik padanya dan tak menyangka bahwa pria itu ternyata menaruh hati untuk nya selama ini.
" Will you marry me?"
Angre langsung melamar Alea di depan Erka dan Mona.
" Tak usah melamar ku seperti itu karena aku merasa jijik dengan hal itu. Aku menerimamu karena aku membutuhkan status dari pernikahan ini," sahut Alea.
" Baiklah. Tak masalah. Dan bersiaplah akan hidup menderita dan penuh sandiwara dengan ku," kata Lea yang membuat Angre tersenyum miring karena melihat sifat Lea yang sudah kembali. Lalu mencabut selang infus yang menempel di tangan nya.
" Sayang ... apa yang kau lakukan?" kata Mona.
" Tenanglah, Mom. Aku tak selemah itu sampai aku diberi cairan infus hanya karena sedang patah hati," kata Lea bangkit dari ranjang itu.
Wanita itu berjalan dan masuk ke dalam kamar mandi, sementara yang lain hanya menatap nya.
Lea hanya mencuci mukanya di wastafel setelah itu langsung keluar dari kamar mandi. Dia melihat kearah cermin dan langsung merapikan riasan nya yang sedikit luntur karena menangis.
Lalu dia membuka cincin yang melingkar di jari manisnya dan membuangnya ke tempat sampah.
" I'm ready," kata Lea.
" Kau yakin dengan hal ini, sayang?" tanya Mona khawatir.
" Ya Mom. Aku sangat siap," sahut Lea berjalan menuju pintu.
Dia berhenti dan berbalik lagi.
" Mom, aku pinjam cincin mu," kata Lea.
" Pakai cincin ini," kata Angre memberikan cincinnya.
" Oke. Thanks Angre. Nanti aku akan langsung mengembalikan nya pada mu," kata Lea menerima cincin itu dan memakai nya.
" Tidak usah di kembalikan, itu milik mu. Coba baca tulisan yang ada di dalamnya," kata Angre.
Lalu Lea membuka lagi cincin itu dan langsung melihat tulisan yang ada di dalam nya.
Disana tertulis nama Aleana dan Angre. Lea hanya menatap nya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
" Jangan melakukan hal-hal yang manis di depan ku, aku sangat membenci hal itu," kata Lea menatap tajam pada Angre.
Lalu wanita itu berjalan dengan anggun ke luar kamar itu seolah tak terjadi apapun tadi.
Semua mengikuti langkah Lea yang langsung menuju pesta launching yang masih terlihat meriah.
' Sepertinya dia akan sangat membenci hal-hal yang manis karena itu akan mengingatkan nya dengan Leon. Aku akan menghindari hal itu,' batin Angre.
Alea sudah bersikap seperti biasa. Dia kembali menjadi Alea yang cuek. Tapi selama wanita itu merasa nyaman dengan hal itu, keluar pun hanya bisa mendukung dan mendampingi nya.
Lalu Erka naik keatas podium bersama sang istri dan Lea beserta Angre.
" Selamat malam semua. Ku harap kalian menikmati pesta ini dan terimakasih sudah hadir dan masih menunggu pengumuman bahagia yang akan kami sampaikan," kata Erka pada semua tamu undangan nya.
Semua para tamu melihat kearah nya dan memperhatikan apa kiranya yang akan di sampaikan oleh sang empunya Pesta.
Jauh di belakang para tamu, Leon berdiri disana bersama kedua orang tuanya yang hendak meninggalkan ruangan itu.
" Aku mengundang kalian semua untuk menghadiri acar pesta pernikahan dari putri kami Aleana Mouvrik dengan Angre Adelard di hotel milik keluarga kami lusa."
Deg
Leon merasa jantungnya berhenti berdetak mendengar pengumuman itu. Karena yang seharusnya di umumkan itu adalah pernikahan nya dengan Alea bukan malah dengan Angre.
Dan itu membuat hatinya begitu kesal dan langsung meninggalkan tempat itu dengan badan yang babak belur.
Thoy dan Marta mengikutinya dari belakang. Mereka hanya menerima dengan pasrah keputusan dari Erka karena ini memang adalah salah dari Leon.
Dari atas podium, Alea melihat kepergian Leon dan keluarga nya dengan ekspresi datar nya. Entah apa yang kini sedang di rasakan oleh wanita itu setelah apa yang terjadi malam itu.
Hanya Lea yang tahu.