I'm yours

I'm yours
11 ( LDR part 2 )



Satu bulan berlalu, Hubungan Leon dan Lea tampak begitu renggang. Mereka hanya berkomunikasi hanya dengan saling mengirim pesan singkat.


Keduanya sama-sama disibukkan oleh pekerjaan nya masing-masing. Lea tak lagi ambil pusing tentang hubungannya dengan Leon.


Wanita itu sekarang hanya memasrahkan hubungan ini pada takdir. Lea tak pernah menelepon Leon begitu pun sebaliknya.


Mereka hanya menanyakan kabar masing-masing melalui pesan singkat dan itu pun mereka lakukan beberapa hari sekali.


" Lea, apa kau sudah memutuskan akan melaksanakan praktek magang di perusahaan mana?" tanya Alina.


" Mungkin aku akan melaksanakan praktek di perusahaan teman Daddy ku," sahut Lea sambil berjalan kearah mobilnya.


" Baiklah, Nanti kita bertemu lagi di club. bye," kata Lea masuk kedalam mobilnya.


Kini Lea seakan kembali ke setelan awal, dia begitu cuek terhadap orang-orang di sekitar nya. Dan dia juga sudah mulai merokok lagi setelah kepergian Leon keluar negeri.


.


.


" Surprise ...," teriak Keylin saat Leon membuka pintu ruangannya.


" Oh God, kau mengagetkan ku, key." Leon langsung menutup kembali pintu ruangan itu.


" Sorry, Kau sedang sibuk hari ini, sayang?" kata Keylin mengalungkan lengannya di leher pria itu.


" Aku sedikit sibuk, ada apa kau kemari? apa urusan butik mu sudah selesai, key?" kata Leon membiarkan tangan Keylin melingkar di lehernya.


" Sudah, semua urusan di butik sudah selesai. Jadi aku kemari untuk mengejutkan mu," kata Keylin.


Lalu wanita itu perlahan mendekati bibirnya ke pria tampan yang ada dihadapannya, dan **********.


Leon menyambut ciuman itu sambil menekan tengkuk leher Keylin agar bisa memperdalam ciumannya. Dia sangat menikmati ciuman panas itu hingga dia merebahkan tubuh Keylin di atas sofa, lalu dia menindihnya.


Hubungan Keylin dan Leon semakin dekat, Leon sepertinya sudah menerima kehadiran Keylin tapi hanya sebatas teman dekat.


Dia sudah merasa terbiasa oleh kehadiran Keylin di sekitarnya, dan dia tidak keberatan dengan hal itu.


Bahkan dia sering bermesraan dengan berciuman panas dengan keylin. Wanita itu bahkan sering mengajaknya bercinta tapi Leon selalu menolaknya.


Meskipun begitu, Wanita itu tak patah arang. Bahkan wanita itu sering memuaskan hasrat pria itu dengan menggunakan mulut nya. Dan Leon tak keberatan dengan hal itu.


Tapi bukan kah itu sama saja, dia telah mengkhianati cinta nya terhadap Lea. Dia pikir yang terpenting dia tak bercinta dengan wanita lain.


Seperti saat ini. Dia berciuman dengan hot bersama Keylin di ruangan nya. Dia menggendong tubuh Keylin ke kamar pribadinya yang berada di pojok ruangan itu.


Leon menurunkan Keylin diranjang itu, lalu dengan cepat dia membuka kancing kemeja yang di pakai oleh wanita itu.


Dia membukanya dan langsung ******* apa yang ada di balik kemeja itu. Dia sering melakukan hal itu pada Keylin dengan membayangkan wajah Lea.


" Ahhh ...," ******* itu keluar dari mulut Keylin saat Leon dengan lihai memainkan lidah nya di puncak dadanya.


Leon terus bermain di area itu sambil memainkan tangan nya di area terlarang wanita itu.


Keylin bahkan sudah mendapatkan puncaknya hanya dengan permainan tangan Leon. Lalu dia membalikkan posisi nya.


Dia mendorong tubuh Leon, hingga pria itu tersentak diatas ranjang. Lalu dengan cepat Keylin mengeluarkan benda tumpul yang berada di balik kain hitam itu.


Keylin memainkan lidah nya di atas benda itu. Dan Leon sangat menikmati kelihaian Keylin dalam hal itu.


Sampai Leon pun mengerang dan menyemburkan benih nya. Lalu Keylin menghentikan aksinya.


" Kau masih belum ingin melakukannya?" kata Keylin dengan menggesekkan dadanya ke dada Leon yang terbuka.


" Tidak, aku masih tetap pada pendirian ku." Leon langsung bangkit dari ranjang itu dan berjalan menuju kamar mandi.


" Sepertinya aku memang harus menggunakan cara yang licik," gumam Keylin menatap kepergian Leon.


.


.


Lea menoleh dengan ekspresi datar nya.


" Hai, Angre."


" Kau baru pulang?" tanya pria itu menghampiri Lea.


" Hmmm," sahut Lea cuek sambil berjalan masuk kedalam gedung apartemen nya.


" Kita jadi ke club malam ini?" tanya Angre berjalan beriringan dengan Lea.


" Ya, aku butuh hiburan karena terlalu sibuk dengan urusan kampus," jawab Lea berhenti di depan pintu lift.


" Apa kau membutuhkan bantuan ku? mungkin saja aku bisa membantu urusan kampus mu," kata Angre menawarkan diri.


Ting ...


Pintu lift terbuka. Lea dan Angre sama-sama masuk kedalam lift karena apartemen mereka berada di lantai yang sama.


" Tidak perlu, Angre. Terimakasih," sahut Lea bersandar di dinding lift sambil menyilangkan tangannya di dadanya.


" Bagaimana hubungan mu dengan tunangan mu?" tanya Angre berdiri di seberang Lea dan menghadap kearah Lea.


Lea tersenyum miring sambil memainkan kunci mobilnya.


" Entahlah, aku hanya pasrah kan hubungan ini pada takdir," jawab Lea.


" Lalu bagaimana tentang perasaan mu?" tanya Angre lagi.


Lea menatap pada Angre dengan seringai tipis di bibirnya.


" Itu tidak penting, dan ku rasa itu bukan urusan mu."


Ting ...


Pintu lift terbuka. Lea langsung keluar dari dalam lift dan berjalan kearah pintu apartemen nya.


Sementara Angre, dia berdiri di lorong apartemen itu sambil melihat kearah Lea yang terus berjalan menjauhi nya.


" Aku harus menyelidiki tentang pria itu, sepertinya ada sesuatu di balik hubungan mereka."


Lalu Angre berjalan menuju pintu apartemen nya dan langsung masuk kedalam nya.


.


.


Drt drt drt


Ponsel Lea berbunyi saat Lea masih berada di kamar mandi. Dan itu panggilan dari Leon.


" Kenapa dia tak pernah mengangkat telepon dari ku," gumam Leon lalu melemparkan ponselnya ke sofa.


Lalu dia keluar dari ruangan nya untuk mengadakan meeting bersama para direksi.


Lea keluar dari kamar mandi, dia langsung membuka lemari nya dan mengambil pakaian nya.


Setelah dia memakai pakaiannya, dia merias wajahnya sebentar. Dia melihat pantulan dirinya di cermin.


" Perfect," gumamnya.


Lalu Lea melihat kearah ponselnya, dia mengambil benda pipih itu dan merebahkan tubuhnya.


Dia melihat ada panggilan tak terjawab dari Leon, senyumnya tersungging lalu dia menghubungi ponsel Leon.


Drt drt drt


Ponsel Leon berbunyi di atas sofa. tidak ada yang mengangkat telepon itu karena sang empunya sedang mengadakan meeting di ruangan lain.


" Huuffft, selalu saja seperti ini." Lea melemparkan ponsel kesamping nya, lalu memejamkan matanya.