
Keesokan harinya, Leon terbangun pagi-pagi sekali. Pria itu langsung keluar dari apartemen nya dan melakukan joging di taman dekat gedung apartemen nya.
Dia tak membawa ponselnya, karena dia hanya sebentar berjoging memutari taman itu.
Drt drt drt
Ponsel Leon berbunyi, namun yang punya ponsel sedang tak ada di kamar itu.
Keylin melihat Leon yang sedang berolahraga pagi di area taman, lalu dia menyusulnya.
" Leon ...," panggil Keylin.
Leon tak menggubris panggilan itu, karena dia tahu pasti siapa yang sedang memanggilnya.
" Kenapa kau sombong sekali, Leon," kata Keylin yang saat ini sudah berada di samping pria itu.
" Karena aku malas melayani mu," sahut Leon sambil terus berlari menjauhkan Keylin.
' Baiklah, permainan ini belum di mulai, sayang. Lihat saja, nanti kau tak akan bisa menjauh dariku,' batin Keylin sambil terus berlari mengejar Leon.
.
.
" Dia tidak mengangkat telepon ku!!!" teriak Lea sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.
" Coba saja lagi, Lea. Jangan menyerah," kata Alina sambil memakai sepatunya.
" Aku sudah 5x menelponnya, tapi dia tetap tak mengangkat teleponnya," kata Lea frustasi.
" Mungkin dia sedang sibuk, Lea," sahut Al sambil menyiapkan tasnya.
" Ini masih sangat pagi, Al. Dia tidak mungkin berangkat ke kantor sepagi ini, kan?" sahut Lea.
" Ck, ayo cepat Lea. Kita akan terlambat jika kau terus berbaring di ranjang itu," kata Al yang kini sudah siap untuk berangkat ke kampus nya.
" Huuffft, baiklah. Ayo," sahut Lea bangkit dari ranjang itu.
Mereka pun keluar dari gedung itu dan langsung masuk kedalam mobil Alina. Kali ini Alina yang menyetir, karena Lea sedang galau dan Alina takut Lea tak bisa konsentrasi.
Kini mereka sudah sampai di gedung kampus nya. Al dan Lea langsung masuk kedalam kelasnya, karena mereka ada kelas pagi hari ini.
" Lea, tetap lah berkonsentrasi. Jangan pikirkan tentang Leon, dia sudah menjadi tunangan mu, bukan? jadi kau harus percaya pada nya," kata Alina menyemangati sahabat nya itu.
" Okey," sahut Lea sendu.
" Semangat dong, Lea," kata Alina.
" Oke, semangat."
Lalu mereka pun mengikuti kegiatan belajar nya dengan semangat.
' Baiklah, aku akan menyibukkan diri ku dengan kuliah ku. Dan aku akan secepatnya menyusul mu setelah kuliah ku selesai, Leon,' batu Lea.
.
.
Leon masuk kedalam kamarnya, setelah melakukan olahraga serta makan pagi di cafe dekat gedung itu.
Pria itu langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah beberapa menit dia ada didalam kamar mandi, dia langsung keluar dan mengganti bajunya dengan setelan kemeja nya.
Kini Leon sudah siap untuk berangkat ke perusahaan, dia mengambil ponselnya di meja nakas.
Pria itu duduk sebentar di tepi ranjang untuk memeriksa ponselnya terlebih dahulu, sebelum dirinya berangkat ke perusahaan.
Dia melihat banyak panggilan tak terjawab dari Lea, Lalu dia mencoba menelpon sang tunangan tapi sayangnya tak ada jawaban dari Lea.
" Mungkin dia sedang sibuk dengan kuliahnya. Oke, aku akan sangat sibuk dengan pekerjaan ku disini. Dan itu adalah pesan terakhir darimu, bukan?" kata Leon bermonolog.
Lalu dia memasukkan benda pipih itu kedalam saku jasnya, dan keluar dari apartemen nya.
Di lobby, dia kembali bertemu dengan Keylin.
" Leon, boleh aku menumpang untuk pergi ke butikku?" kata Keylin menghampiri Leon.
" Kemana mobil mu?" sahut Leon sambil berjalan keluar dari loby.
" Mobilku belum datang, Jadi boleh ya, aku numpang. Hari ini saja, aku janji," bujuk Keylin.
" Baiklah," sahut Leon.
" Thanks, Leon. Sebagai ucapan terima ku, nanti malam aku akan mentraktir mu makan. Dan kau tak boleh menolak," kata Keylin sebelum keluar dari mobil Leon.
" Terserah," sahut Leon cuek.
Leon pun langsung mengendarai mobil nya menuju perubahan nya yang memang searah dari butik milik Keylin.
.
Kini Leon sudah tiba di gedung perusahaan milik keluarganya, dia berjalan dengan tegak ke dalam gedung itu.
" Selamat datang di perusahaan ini, Tuan," kata seorang asisten kepercayaan Daddy nya.
Leon hanya tersenyum dan terus melangkah kan kakinya.
Semua pegawai yang sudah mengenal Leon tampak menundukkan kepalanya saat berhadapan dengan sang big bos.
" Wahh, apa dia bos kita?" tanya seorang pegawai yang menempati meja resepsionis.
" Ya, dia Tuan muda Leonardo Guesson. Putra dari Tuan Thoy Guesson," kata seorang pegawai resepsionis yang sudah lama bekerja di perusahaan itu.
" Dia tampan sekali," kata pegawai itu lagi.
.
.
Kini Leon sudah berada didalam ruangan yang biasa di tempati oleh sang Daddy. Dia langsung memeriksa dokumen yang menumpuk di meja itu.
" Uncle, satu jam lagi kita adakan meeting dengan para direksi di perusahaan ini," kata Leon tanpa melihat kearah Moni, asisten nya di perusahaan itu.
" Baik, Tuan." Moni pun langsung berbalik dan ingin keluar dari ruangan itu.
Tapi langkahnya terhenti saat mendengar Leon memanggilnya.
" Apa ada yang anda perlukan lagi, Tuan?" kata Moni sopan.
" Uncle, Tidak perlu formal padaku. Aku sudah menganggap mu sebagai Uncle ku, jadi kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan Tuan lagi, oke," kata Leon.
" Tapi __"
" Ini perintah!!" tegas Leon memotong perkataan moni.
" Baiklah, jika itu mau mu. Uncle permisi dulu," kata Moni.
Setelah itu, Leon langsung disibukkan oleh pekerjaan nya di perusahaan itu, dan tak lagi memikirkan tentang Lea.
.
.
Kini Lea dan Alina sudah menyelesaikan mata kuliah pertamanya, saat ini mereka sedang berada di kanti kampus. Karena mereka tadi tak sempat sarapan pagi.
" Huuuft, lagi-lagi dia tak mengangkat teleponnya," kata Lea sendu.
" Dia pasti sangat sibuk disana, Lea. Dan kau pasti masih ingat dengan pesan terakhir mu pada nya, kan?" kata Alina sambil menyantap makanannya.
" Huuuft, iya. Aku ingat," sahut lea tak semangat.
" Ayolah, Lea. Kau terlihat bukan seperti Lea yang ku kenal," kata Alina.
" Lalu, aku terlihat seperti apa?" sahut Lea sambil mengacak makanannya.
" Kau terlihat seperti ...," ucapan Lea menggantung.
" Seperti apa?" tanya Lea penasaran.
" Seperti seorang janda yang baru bercerai dari suaminya," kata Alina sambil tertawa.
" Aal ... itu tidak lucu!!" teriak Lea mencebik.
" Bagaimana kalau nanti malam kita ke club?" tanya Alina.
" Apa kau yakin? Kau tak takut dengan kakak mu?" kata Lea.
" Eemmm ... aku yakin," sahut Alina.
" Baiklah," sahut Lea, lalu menyantap makanannya yang sedari tadi hanya di acak-acak olehnya.