
Mike langsung memalingkan wajahnya saat melihat seorang pria yang ternyata asisten Dev di perusahaan. Dan bukan lah Alina.
Dev melihat ekspresi wajah Mike yang sedikit kecewa. Dan dia hanya tersenyum miring dan membiarkan hal itu.
" Ini berkas-berkas yang anda minta, Bos."
Dev melihat kearah sang asisten dan mengambil berkas yang di berikan oleh Jo.
" Baiklah. Apa semua nya sudah kamu periksa?" tanya Dev sambil memeriksa berkas-berkas itu
" Iya, Bos. Saya sudah memeriksa nya," sahut Jo.
" Letakkan ini di meja kerja ku, dan kau tunggulah di sana," sahut Dev menyerahkan berkas itu kembali pada Jo.
Pria itu hanya menganggukkan kepalanya dan langsung pergi dari hadapan Dev setelah menunduk hormat pada semua para tamu sang bos.
Mike menghela nafasnya dan dia beranjak dari sofa.
" Mau kemana, Mike? apa kau mau pulang karena Alina tak bisa hadir di acara makan malam ini?" tanya Dev yang masih saja menggoda Mike.
" CK. Aku hanya ingin ke kamar mandi," sahut Mike sambil berlalu pergi dari ruangan itu.
Dev hanya terkekeh sementara yang lain tampak menggeleng kan kepalanya.
Tak tok tak tok
Suara langkah kaki seseorang yang menggunakan high heels sedang menuruni tangga.
Semua orang tampak menatap kearah tangga, begitu pun dengan Mike yang masih tak jauh dari tempat itu.
Pria itu menoleh dan menatap seorang wanita cantik yang menuruni tangga dengan anggun. Dia tersenyum dan berbalik menghadap kearah tangga dimana Alina tengah menatap kearah nya.
" Kau tak jadi ke kamar mandi, Mike?" tanya Dev dengan senyum tengilnya saat melihat Mike langsung kembali setelah kedatangan Alina.
" Just shut up!" tegas Mike.
Pria itu berjalan menghampiri Alina dan mengulurkan tangannya pada wanita itu dan membantu nya menuruni tangga.
Alina tersenyum canggung karena disana dia bagian seorang putri.
" Thank you," ucap Alina lirih.
Mike tersenyum dan menggandeng tangan Alina menuju ruang tamu dimana keluarganya berada.
" Selamat malam semuanya. Maaf jika kalian menunggu ku terlalu lama," ucap Alina sopan.
Wanita itu menyapa semua keluarga Mike dan mencium punggung tangan nya. Dan dia kini sedang berdiri di hadapan seorang gadis cantik yang tengah menatapnya sambil menganga.
" Heii ... kau melamun?" tanya Alina yang langsung menyadarkan Eris.
" Eh ... Maaf. Aku hanya mengagumi kecantikan mu, kakak ipar," kata Eris spontan.
Alina tampak tersenyum lalu dia mencium pipi kanan dan kiri Eris.
" Semua sudah lengkap, jadi kita langsung makan malam saja. Bagaimana?" tanya Dev.
" Ya. Setelah itu kita bisa langsung membahas pertunangan Mike dan Alina," sahut Roman.
Dan mereka semua pun bangkit. Lalu berjalan kearah ruang makan yang sudah rapi dengan semua makanan yang sudah tersaji di atas meja.
Kini semua berkumpul dan sedang menikmati makanan yang tersaji di atas meja panjang itu. Dev melihat ruang makan besar itu yang tampak ramai dan dengan suasana kekeluargaan yang hangat.
Alina tampak sedang melayani sang Momy dan juga menyuapinya meskipun Abel menolak hal itu.
Tapi Alina kekeh dan Abel pun menuruti kemauan sang putri yang benar-benar ingin memperlakukan Abel seperti ratu.
Roman dan Elis melihat perhatian Alina pada Abel dan mereka tersenyum senang.
" Sepertinya Mike tidak salah memilih calon menantu untuk kita saat ini," bisik Roman pada Elis.
" Ya. Aku sangat yakin dia wanita yang baik," sahut Elis berbisik juga.
Makan malam pun berjalan dengan hikmat dan lancar. Semua keluarga Ivander sangat senang dengan sambutan serta makanan yang di sajikan dalam jamuan makan malam itu.
.
.
Kini semua tampak sedang bersantai di ruang keluarga. Ruangan itu lebih luas dari ruang tamu, disana juga sangat rapi dengan koleksi Gucci mahal yang bertengger disana.
" Aku ingin pertunangan itu di laksanakan minggu depan," kata Roman mengawali pembicaraan itu.
" Ya, aku pun berpikir seperti itu, Uncle."
Mike dan Alina tampak saling menatap sekilas. Hubungan mereka masih canggung bahkan mereka tak pernah berhubungan lewat sambungan telepon.
" Bagaimana? kalian setuju?" tanya Roman.
" Ya. Lebih cepat lebih baik," sahut Mike.
Alina menatap kearah Mike dengan ekspresi wajah yang tak bisa di tebak.