I'm yours

I'm yours
13 ( Teman Lea )



Drt drt


Leon melihat ponselnya yang berbunyi. Dia langsung membuka pesan yang masuk dalam ponsel nya.


" Siapa pria ini?" gumamnya sambil melihat foto Lea yang sedang memeluk seorang pria dari belakang.


Lalu dia membaca pesan yang di kirim kan lagi oleh anak buahnya.


"Namanya Angre Adelard, dia adalah sepupu dari nona Alina. Dan mereka bertiga bersahabat karena Angre juga di perintahkan oleh Tuan Devandra untuk menjaga 2 gadis itu yakni Alina dan Alea."


Tulis seorang anak buah Leon.


Leon terus memandangi foto itu sambil mengerutkan keningnya.


" Aku percaya pada Lea, tapi aku tak percaya pada pria itu."


Lalu Leon memasukkan ponselnya kedalam saku jasnya, dan keluar dari ruangan nya.


.


.


Keesokan harinya, Alea sedang dalam perjalanan menuju perusahaan milik Angre.


Wanita itu langsung masuk kedalam gedung itu dan berjalan di loby menuju meja resepsionis.


Dengan penampilan dan wajah yang cantik cukup menjandikan Lea pusat perhatian di lobby itu.


" Ada yang bisa saya bantu, Nona?" tanya seorang pegawai resepsionis dengan sopan.


" Aku sudah ada janji dengan tuan Angre. Dimana ruangan nya?" kata Lea.


Pegawai itu melihat penampilan Lea dari ujung kaki sampai ujung kepalanya.


" Kalau boleh tahu dengan Nona siapa ya?" tanya resep itu.


" Aleana Mouvrik," sahut Lea menyebutkan namanya secara lengkap dan jelas.


" Baik, aku akan menghubungi asisten tuan Angre terlebih dahulu." Lea hanya menganggukkan kepalanya.


Dia menghembuskan nafasnya kasar sambil duduk di kursi yang ada di lobby.


Setengah jam kemudian, ada seseorang yang menghampiri Lea.


" Alea ... kenapa tidak langsung ke ruangan ku?" kata Angre berdiri di hadapan Lea.


Lea mendongakkan kepalanya melihat wajah pria itu. Lalu dia melihat kearah wanita yang menjaga meja resepsionis dengan wajah datar nya.


" Aku tidak tahu dimana ruangan mu," kata Lea berdiri.


" Kau bisa menanyakan itu pada resepsionis, bukan?" kata Angre menggandeng tangan Lea.


" Sudah, dan dia hanya bilang akan menghubungi asisten mu saja. Jadi aku menunggumu disini."


Angre langsung menghentikan langkahnya dan menoleh pada wanita yang sedang menjaga meja resepsionis.


" Apa dia melayani mu dengan baik?" tanya Angre pada Lea, tapi menatap pegawai nya yang berdiri di meja resepsionis.


" Iya, dia sangat sopan padaku tadi. Ada apa, Angre?" tanya Lea.


Angre menghampiri meja resepsionis dengan tatapan tajam nya.


" Apa kau sudah bosan bekerja di perusahaan ini?" tanya Angre dengan nada yang dingin.


" Ti_tidak, Tuan," jawab nya sedikit gugup.


" Lalu?"


" Saya minta maaf, Tuan. Aku pikir dia hanya wanita yang iseng," sahut wanita itu dengan menundukkan kepalanya.


Angre terus menatap nya dengan tatapan yang mengintimidasi.


" Sudahlah. Dia hanya berwaspada saja," kata Lea menarik tangan Angre.


" Ingat-ingat nama Alea!!" tegas Angre.


Lalu berjalan dengan menggandeng tangan Lea menuju lift khusus di gedung itu.


" Huuuft ... siapa gadis itu? sepertinya dia cukup spesial di mata Tuan Angre," kata resepsionis itu.


Ting ...


Pintu lift terbuka, Angre menggandeng tangan Lea keluar dari lift dan berjalan menuju ruangan nya.


" Angre ... aku rasa kau tak perlu menggandeng tanganku," kata Lea.


Angre tak menjawabnya dan langsung membuka pintu ruangannya dan masuk kedalam.


Angre berjalan kearah kursi kebesarannya dan mendudukkan Lea di kursi yang ada di seberang mejanya.


" Mana surat pengajuan magang mu?" kata Angre duduk di kursinya.


" Bukankah aku harus menyerahkan ini ke bagian HRD, Angre?" tanya Lea sambil menyerahkan surat pengajuan nya pada Angre.


" Kalau sudah ada aku di hadapan mu, lalu untuk apa kau menyerahkan surat ini pada HRD? I'm the boss kalau kau lupa," kata Angre sambil memeriksa surat itu.


Lea tertawa pelan mendengar ucapan dari Angre.


" Baiklah Bos," kata Lea sambil tertawa.


.


.


Leon mengangkat telepon dari sang Momy sambil berjalan menuju mobilnya.


" Leon, bisa kau pulang hari ini?" kata Marta dengan nada yang terdengar khawatir.


" Ada apa, Mom? apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Leon masuk kedalam mobilnya.


" Lira penyakit nya kambuh, Leon. Dia terus mengigau dengan memanggil nama mu," kata Marta.


" Baiklah, Mom. Aku akan berangkat sekarang, kebetulan hari ini aku tak terlalu sibuk," jawab Leon sambil mengendarai mobil nya langsung menuju bandara.


" Oke. hati-hati Leon, see you." Leon langsung menutup panggilan itu.


Dia langsung menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan penerbangan nya hari ini.


.


" Kakak ... kak Leon. Kakak dimana?" gumam lira terus memanggil nama Leon.


" Sabar ya sayang. Kakak mu sedang dalam perjalanan kesini," kata Marta sambil mengusap puncak kepala lira.


" Leon akan kemari?" tanya Thoy.


" Ya, dia akan terbang hari ini," jawab Marta menoleh pada sang suami.


" Baguslah. Karena ada hal penting yang mau aku tanyakan padanya," sahut Thoy duduk di sofa di kamar lira.


" Tentang apa, Honey?" tanya Marta menghampiri sang suami.


" Tentang hubungannya dengan Alea," kata Thoy melihat kearah lira.


" Ada apa dengan hubungan mereka?" tanya Marta sedikit khawatir.


Thoy tidak menjawab, dia hanya menatap kearah lira yang sedang tertidur di ranjangnya.


.


.


Lea pergi dari perusahaan Angre tepat pada jam makan siang, dia langsung menjalankan mobilnya kearah mansionnya karena ingin menemui sang papi yang baru tiba dari Prancis.


Dalam perjalanan menuju ke mansionnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Lea langsung mengambil earphone dan meletakkan di telinga nya.


" Hallo, Al. Ada apa?"


" Alea !! aku sudah ada di bandara!! Kakak sudah menjemput ku!!" teriak Alina dari seberang telepon sampai Lea melepaskan earphone nya.


" Al !! bisakah kau tak berteriak? aku bisa tuli jika kau selalu berteriak seperti itu," kata Lea sambil memakai kembali earphone nya.


" Hehe ... Sorry. Sampai jumpa 3 bulan kemudian, Lea. I Will Miss you!!" kata Alina dengan nada yang dibuat-buat seolah menangis.


Alea tampak tertawa mendengarnya.


" Sepertinya aku tidak akan merindukan mu," kata Lea sambil tertawa.


" Kau jahat Lea!!" bentak Al mencebik.


" Hati-hati jangan lupa kabari aku nanti, bye." Lea langsung menarik telepon itu.


" Huuuft ... Oke. Setidaknya tidak akan ada yang mengganggu tidur ku lagi," kata Lea sambil fokus dengan kemudinya.


.


.


Leon tiba di negara nya, dia turun dari pesawat dan langsung masuk kedalam mobil milik keluarga yang sudah menunggu nya.


Dalam perjalanan menuju mansionnya, dia mencoba menghubungi Lea. Tapi Lea tak mengangkat teleponnya.


" Ck, selalu seperti ini." Leon memasukkan ponselnya kembali.


Kini dia tiba di mansion keluarga Guesson. Dia langsung masuk kedalam, langkahnya terhenti saat mendengar seseorang memanggil namanya.


"Leon ..." panggil Thoy.


" Ya, Dad?" sahut Leon menoleh pada sang Daddy.


" Ikut aku," kata Thoy berjalan menuju halaman mansion.


Leon mengikuti sang Daddy di belakangnya.


" Bagaimana hubungan mu dengan Alea?" tanya Thoy saat berada di halaman mansion tanpa menoleh pada Leon.


Leon tak langsung menjawab, dia tampak berpikir. Kenapa dady nya menanyakan hubungan nya dengan Alea.


" Apa ada sesuatu yang terjadi pada hubungan kalian?" tanya Thoy menoleh pada Leon yang terpaku di belakangnya.


" Hubungan kami sedikit merenggang. Kami terlalu sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing," jawab Leon sambil melangkah kan kakinya mendekati Thoy.


" Kau yakin hanya itu alasan nya?" tanya Thoy dengan penuh selidik


Sebenarnya Thoy tahu, bahwa Leon sedang bermain-main dengan beberapa wanita di Korea.