
Pesta itu berjalan lancar dan meriah meskipun terselip insiden yang terjadi dan sangat tak terduga.
Kini Lea sudah berada di dalam kamar nya. Wanita itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan tatapan yang kosong.
Tiba-tiba dia menangis. Alea meringkuk di atas ranjang nya sambil menangis. Dia tak menyangka hubungan nya dengan Leon akan berakhir se tragis ini.
Pria yang sangat dia percaya, pria yang sangat dia cintai menghianati nya. Bahkan saat tadi mereka hanya terpisah sebentar, pria itu langsung melakukan hal yang menjijikkan di belakang Lea.
Dia teringat penampilan Leon tadi yang terlihat babak belur, namun bukan itu yang menjadi fokus utama nya. Lea melihat banyak tanda merah di leher dan dada Leon, dan itu langsung membuat nya sangat emosi dan membenci pria itu.
" Kau menghancurkan kepercayaan ku, Leon. Kenapa? apa salah ku?" kata Lea terisak sambil memeluk lututnya sendiri.
Dia terlihat sangat hancur saat ini. Dan tadi dia hanya menahan itu semua karena dia tak ingin di pandang lemah.
Tapi kini, Lea sangat merasa terpukul dan sakit hati dengan apa yang terjadi. Hingga dia tertidur karena merasa lelah terus menangis.
.
Ke esokan harinya. Pagi-pagi sekali ada yang mengetuk pintu kamarnya. Lea bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu dengan langkah gontai.
CEKLEK
Lea membuka pintu kamarnya.
" Hai ... Kau terlihat sedang tidak baik-baik saja," kata Angre melihat penampilan Lea yang kacau dan tetap mengenakan pakaian semalam.
Lea tak menjawab. Dia hanya langsung masuk dan kembali merebahkan tubuhnya di ranjang.
Angre menghembuskan nafasnya dan berjalan masuk kedalam kamar Lea.
' Aku mengerti apa yang sedang dia rasakan,' batin Angre.
Pria itu menatap tubuh Er yang tengkurep di atas ranjang nya dengan gaun semalam. Dan itu membuat paha serta kaki jenjang nya terpampang nyata di hadapan Angre.
Angre menghampiri Lea dan menarik selimut nya untuk menutupi kaki jenjang Lea.
Wanita itu hanya terdiam sambil memejamkan matanya.
Lalu Angre duduk di tepi ranjang di dekat Lea dan mengusap lembut puncak kepala nya.
" Are you oke?" tanya Angre lirih.
Lea tak menjawab. Dan air matanya kembali menetes.
" Shiitt. Kenapa aku cengeng sekali," umpat Lea sambil mengusap air matanya.
" Ya. Kau cengeng dan terlihat bukan seperti Lea yang ku kenal," sahut Angre sambil ikut berbaring di ranjang itu.
" Ck." Lea berdecak lalu membalikkan tubuhnya berbaring dan menatap kearah langit-langit kamar itu.
" Jangan paksakan dirimu, Lea. Apapun yang terjadi aku akan tetap menjadi sahabat mu. Batalkan pernikahan ini," kata Angre menatap langit-langit kamar itu.
" Tidak. Aku tetap akan menikah. Jika kau tak bersedia menikah dengan ku, maka aku akan mencari pria lain di luar sana."
Mendengar perkataan Lea, Angre langsung berbalik dan tengkurep dengan posisi kepala yang menghadap ke wajah Lea.
" Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," kata Angre menatap wajah wanita yang ada di bawah kepalanya.
" Aku tau kau tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Karena itu hanya senjata ku untuk mengancammu," sahut Lea.
Angre tertawa mendengar ucapan dari Lea. Dengan gemas dia mencubit gemas hidung mancung Lea. Lalu membaringkan tubuhnya lagi.
" Cepat mandi, Lea. Di bawah sudah menunggu keluarga ku untuk makan pagi bersama," kata Angre.
" Wah ... ternyata kau sudah bergerak cepat rupanya," sahut Lea bangkit dari ranjangnya.
Lea tertawa pelan mendengar kejujuran Angre sambil berjalan menuju kamar mandi nya.
" Tunggu aku disini. Aku akan cepat," kata Lea lalu masuk kedalam kamar mandi.
Angre hanya tersenyum miring, lalu mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
.
.
Di kediaman keluarga Guesson. Leon terlihat sedang mengepak barang-barangnya.
" Sayang ... kau sudah yakin dengan keputusan mu?" tanya Marta menghampiri sang putra.
" Ya, Mom. Aku tak ingin melihat pernikahan itu yang pasti akan mengingat kan ku pada ke bodoha ku," sahut Leon tanpa melihat kearah sang Momy.
" Biarkan dia pergi. Agar dia bisa mencuci otak nya yang bodoh karena nafsunya terhadap sembarang wanita," kata Thoy yang kebetulan lewat di depan kamar Leon.
Leon memutuskan untuk pergi dari negara itu. Dia akan menjauhi kehidupan Lea yang bisa saja membuat wanita itu sakit hati jika bertemu dengan nya.
" Aku akan memulai hidup ku yang baru disana, Mom. Biarkan aku pergi, aku akan tetap membawa cinta ini dan menjaga cinta ini," kata Leon.
" Untuk apa? besok Lea akan menikah. Untuk apa kau akan mempertahankan cinta itu. Seharusnya sejak kau berada di Korea melakukan hal itu, Leon. Bukan sekarang!" tegas Marta yang begitu kecewa dengan putranya itu.
" Aku percaya pada takdir, Mom. Aku yakin takdir akan menyatukan kita kembali, entah kapan. Tapi aku sangat percaya bahwa Lea akan kembali padaku," kata Leon.
Lalu Leon pun pergi dari mansion itu. Penerbangan nya satu jam lagi. Dia memutuskan untuk pergi ke New York untuk menjalankan perusahaan cabang nya disana.
Marta melepas kepergian sang putra dengan berat hati.
" Dia akan baik-baik saja. Percayalah," kata Thoy merangkul bahu sang istri dan mengusap lengannya.
" Kita memang sangat kecewa pada nya. Tapi percayalah disini dia sangat menyesali hal itu dan kini menghukum dirinya sendiri dengan menjauhkan diri dari keluarga nya dan cinta nya," sahut Marta sambil menatap kepergian mobil yang mengantarkan Leon ke bandara.
.
.
Ke esokan harinya.
Lea duduk di dalam kamar nya sambil menatap gaun pengantin yang akan di kenakan nya.
Dia sanga mengingat momen saat dia memilih gaun itu dan tak memberi tahu pilihan gaun pengantinnya pada Leon. Karena itu sebuah kejutan di hari pernikahan itu nantinya.
" Dan kau tidak akan pernah melihat gaun seperti apa yang aku pilih waktu itu," gumam Lea lirih.
" Oohh God. Aku tidak boleh menangis lagi. Aku tidak boleh menumpahkan air mata ku yang berharga untuk pria brengsek itu," kata Lea menyemangati diri sendiri.
CEKLEK
Pintu kamar nya terbuka dan pelayan muncul dengan membawa 2 orang perias yang akan meriasnya di hari pernikahan itu.
Kini Lea sedang di rias oleh perias profesional. Dia terlihat sangat cantik bahkan sebelum makeup nya selesai.
Lea menatap pantulan dirinya di cermin dan memutar tubuhnya yang kini sudah mengenakan gaun pengantin nya.
" Kau sangat amazing, Lea. Calon suami mu pasti akan sangat terpesona melihat penampilan mu," kata seorang perias memuji kecantikan Lea.
" Ya. Kau seperti putri di negeri dongeng. Sangat cantik. Betapa beruntungnya pria yang akan menjadi suami mu itu," kata perias yang satu lagi.
Lea hanya menanggapinya dengan senyuman.