I'm yours

I'm yours
47. Rival



" Leon ... kau kemari?" tanya Erka.


" Ya, Uncle. Aku tidak bisa tidur nyenyak jika belum menemui anak menggemaskan ini," sahut Leon sambil mencium gemas pipi Leangga.


Rayan semakin penasaran pada Leon. Kenapa dia seperti memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Lea dan keluarga nya.


Lalu Rayan berjalan menuju Lea dan Leon berada. Lea hanya menundukkan wajahnya saat pria itu berjalan kearah nya.


" Aku pamit, Lea. Boleh aku kemari lagi untuk bermain dengan Leangga?" kata Rayan.


" Ya. Jika kau sedang tak sibuk, aku tidak pernah melarang siapapun untuk bermain dengan putra ku," sahut Lea ramah.


" Terimakasih, aku permisi. Bye ... tampan," kata Rayan kembali menyapa Leangga namun bayi itu menyembunyikan wajahnya di leher Leon.


Lalu para tamu Erka pun pergi dari mansion itu. Leon membawa bayi Leangga masuk karena angin mulai kencang.


Mereka mengobrol di kamar Leangga yang sudah terdapat taman bermain mini disana. Leon menemani Leangga bermain disana, dia seakan tak ada kata lelah saat bertemu dengan bayi itu.


" Kau sudah makan malam?" tanya Lea masuk kedalam kamar Leangga sambil membawa kopi dan cemilan untuk Leon.


" Hmmm ... aku baru saja makan malam dengan relasi bisnis ku sembari membahas tentang pekerjaan kita," sahut Leon sambil melempar bola kecil kearah bayi Leangga.


Lea hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Ini sudah pukul 9 malam. Kenapa Leangga masih terlihat tak mengantuk?" tanya Leon melihat kearah bayi Leangga yang masih asik bermain.


" Dia baru saja bangun, dan lagi-lagi dia mengajak ku bergadang," sahut Lea sambil sesekali menguap.


Leon tertawa pelan. Dia terus menemani Leangga bermain di kamar itu.


" Heii ... Boy. Ternyata kau sangat senang bergadang ya," ucap Leon sambil merentangkan tangan pada Leangga yang berjalan kearah nya.


Lalu Leon melihat kearah Lea yang sedang menahan kantuk nya.


" Tidurlah. Aku akan menemani nya," kata Leon memangku Leangga yang sedang bermain dengan mainannya di.


" Hmmm ... Sorry. Aku kembali merepotkan mu, aku benar-benar mengantuk," sahut Lea. Lalu dia merebahkan tubuhnya di samping Leon dan memejamkan matanya.


Leon masih memangku Leangga. Dia menoleh kearah Lea yang sudah terlelap di sampingnya.


Pria itu mengangkat tangan nya dan mengusap lembut puncak kepala Lea.


2 jam berlalu. Beby Leangga terlihat rewel karena mulai mengantuk.


Leon mengambil sebuah bantal kecil dan meletakkan nya di samping Lea yang terlelap.


Lalu Leon menidurkan Leangga di samping Lea dan dia ikut merebahkan tubuhnya yang juga mulai mengantuk di samping Leangga.


Dia memberikan susu yang tadi sudah disiapkan Lea pada Leangga. Dia juga mengusap punggung Leangga hingga bayi itu tertidur pulas.


Leon menatap wajah Leangga dan Lea yang tengah tertidur pulas. Dia mengecup kening mereka bergantian, lalu ikut tertidur di karpet lantai berbulu yang ada di kamar itu.


.


.


Pagi menjelang. Lea terbangun di pagi harinya, dia mengerjapkan matanya dan melihat bayi Leangga yang tertidur pulas di lengan Leon dengan kaki yang berada di perut pria itu.


Lea tersenyum melihat pemandangan itu. Entah kenapa dia merasa hatinya menghangat saat melihat kedekatan Leon dan Leangga.


Lalu wanita itu keluar dari kamar itu.


Saat keluar dari kamar itu dia melihat Erka yang baru keluar dari kamar nya.


" Leon menginap disini, sayang?" tanya Erka.


" Iya, Pap. Aku tertidur karena sangat mengantuk. Entah jam berapa Leangga tertidur semalam," sahut Lea menghampiri Erka dan memeluknya.


" Kau tak ingin menikah lagi? Leangga sangat membutuhkan seorang Daddy, sayang," kata Erka memeluk putrinya itu.


" Bukankah sudah ada Papi?" sahut Lea mendongakkan kepalanya pada Erka.


" Aku grand pa nya, sayang," sahut Erka.


" Ada Leon yang selalu ada untuk nya, jadi dia tidak akan membutuhkan seorang Daddy lagi, kan?" sahut Lea.


Lea melepaskan pelukannya. Dia tampak berpikir tentang apa yang dikatakan papinya itu.


" Kau benar, Pap. Kalau begitu aku akan mulai menjauh kan Leangga dengan Leon," sahut Lea.


" Bukan begitu maksud papi, sayang. Kau akan menyiksa Leangga jika kau menjauh kan nya dari Leon," sahut Erka.


" Aku akan memikirkan bagaimana baiknya, Pap."


Lea langsung berjalan ke kamar nya.


.


.


3 hari berlalu. Lea sedang menatap kearah hamparan rumput hijau yang ada di hadapannya.


Dia seolah sedang memikirkan perkataan Erka beberapa hari yang lalu.


" Papi benar, suatu saat nanti Leon pasti menikah saat menemukan wanita yang dia cintai. Dan mungkin dia juga akan memiliki seorang putra dengan istri nya kelak. Lalu bagaimana dengan Leangga nantinya? tidak mungkin dia akan menyempatkan waktunya untuk seorang anak yang bukan putra nya," gumam Lea sendiri.


Tanpa dia sadari. Leon sedang berdiri di belakangnya dan mendengar semua perkataan Lea.


Leon hanya berdiri di belakangnya sambil menatap kearah Lea yang sedang duduk membelakangi nya.


Lalu tiba-tiba Leangga berbalik dan melihat kearah Leon. Bayi itu langsung tertawa dan berjalan kearah Leon.


Lea menyadari hal itu dan dia menoleh kan wajahnya. Dia begitu terkejut saat melihat Leon yang sudah berdiri di belakangnya.


" Sejak kapan kau datang?" tanya Lea.


" Baru saja, kenapa?" sahut Leon sambil menggendong bayi Leangga yang sudah ada di hadapannya.


" Aku ingin ke kamar mandi dulu. Titip Leangga." Lea langsung berjalan masuk kedalam mansion nya.


Leon hanya melihat kepergian Lea. Lalu dia membawa Leangga masuk kedalam kamarnya.


.


" Semoga dia tak mendengar ucapan ku tadi," gumam Lea saat berada di kamar mandi.


Lalu dia keluar dan sudah melihat Rayan di ruang tamu.


" Rayan? kau kemari?" sapa Lea.


" Ya. Aku membawa kan mainan untuk bayi tampan itu," sahut Rayan.


Lea melihat beberapa mainan yang di bawa oleh Rayan.


" Ini terlalu berlebihan, Ray. Kau tak perlu membelikan mainan sebanyak ini," ucap Lea.


CEKLEK


Pintu kamar bayi Leangga terbuka. Lea dan Rayan kompak menoleh kearah kamar itu.


Tampak leon keluar dari kamar itu. Dan melihat kearah Lea dan Rayan.


" Heii ... ada tamu disini," ucap Leon berjalan kearah ruang tengah.


" Dimana leangga, Leon?" tanya Lea yang juga berjalan ke arah yang sama.


" Bayi mu sudah tertidur pulas setelah memainkan telinga ku. Lihat? dia membuat telinga ku memerah," kata Leon sambil menunjukkan telinga nya pada Lea.


Lea tertawa kec dan memeriksa telinga Leon yang benar-benar merah karena ulah putranya itu.


" Sorry. Dia memang sangat suka bermain dengan daun telinga seseorang," sahut Lea.


" Apa dia juga seperti itu padamu?" tanya Leon.


" Tidak. Dia hanya seperti itu pada Papi dan kau, setelah itu dia akan langsung tertidur pulas meskipun tanpa susunya," sahut Lea.


Rayan menatap tak suka dengan kedekatan Lea dan leon. Dia menganggapnya Leon adalah saingan nya untuk mendapatkan hati Lea.


' Oke. Aku anggap kau rival ku sejak saat ini,' batin Rayan.