I'm yours

I'm yours
04



 


" Aw sakit sakit." kata Dhifa Seraya menggigit Bibir bawahnya dengan keras karena menahan sakit di pergelangan kakinya.


 


" Sakitttttt!!!" Teriak Dhifa dengan matanya yang berkaca\-kaca karena tukang urut yang memijat keras memar di kaki nya.


" Duh, diam dong Dhif, ini kan cuma sakit bentar. Ntar juga hilang sendiri rasa sakitnya." kata David menahan rasa sakit pula karena cengkraman Dhifa di lengannya sangat kuat. Bahkan kini lengan David sudah lebam membiru dengan cakaran kuku Dhifa yang sudah tergores di sana\-sini.


" Sakit vid, lu nggak ngerasa kan gimana sakitnya di....awawaw." Teriak Dhifa kembali mencengkeram Lengan David dengan keras.


" nenek tahu kenapa rasa sakit kamu sakit pisan!" kata nenek tukang urut membuka suara namun tetap matanya tertuju pada kaki yang diurut nya.


" Emang biasanya kok urut di sini itu nggak sakit ya nek?" kata Dhifa perlahan. "Tuan...maksud nenek, David aja sering keseleo. coba kamu tanya dia kapan nenek pernah urut dia sampai dia ngerasa sakit kayak gini?" kata nenek urut Intens.


" Maksud nenek ?" Tanya Dhifa heran.


" kayak GINI!!!" kata nenek menekan lagi bagian kaki Dhifa yg sakit.


" Awawaw sakit nek. Jangan ditekan lagi!" kata Dhifa dengan berlinang air mata. sedangkan David hanya menghela nafas berkali\-kali.


 


 


posisi gue sekarang kok mirip banget ya kayak suami yang lagi nemenin istrinya lahiran. penuh perjuangan banget! Batin David tersenyum tipis.


 


" David itu keseleo karena sering nolongin kamu cu. Beda sama kamu yang doain orang lain jatuh dari tangga, nah kemakan ucapan sendiri kan kamu cu. yang peribahasanya gini: Senjata makan tuannya! " kata nenek urut membaca masa lalunya Dhifa.


 


Jleb!


 


*Nusuk* *banget sih perkataan si nenek, bikin gue skakmak nih kali ini*. Batin Dhifa dengan mulutnya yag terdiam seribu bahasa.


 


Sedangkan David hanya menahan kekehannya karena takut terdengar Dhifa yang sedang kesal karena perkataan si nenek. Melihat Dhifa yang memerah karena hal barusan sepertinya dapat memicu hormon tertawa David semakin banyak. Bahkan terlalu banyak!!!


 


~♥~


 


" Lucas pamit ya, nek! kata David sambil mencium tangannya Si nenek. " Ingat nek, jangan makan semangka kuning. Jangan mandi tengah malam. jangan...." ucapan David terhenti karena belaian tangan Si nenek di pipinya David.


" Lucas, nenek khawatir!" kata nenek kemudian.


" Kenapa nek? "tanya David.


" Belakangan ini nenek sering mimpiin kamu dikejar\-kehar, cu. tapi yang menjadi incaran mereka bukan kamu. tapi perempuan yang ada denganmu. Jaga dia! karena nyawanya yang menjadi incaran banyak orang. Nenek nggak bisa berbuat banyak, nenek hanya bisa berdoa agar kalian bisa selamat dan hidup dengan tenang." kata mbok menjelaskan mimpinya dengan mata berkaca\-kaca." hati\-hati!" kata nenek melepaskan tangannya pada pipi David dan melangkah masuk. Namun ketika diambang pintu, suara David membuat langkah si nenekk terhenti.


" Aku janji nek, kali ini aku tidak akan gagal untuk kedua kalinya. Aku janji!" ulangnya tegas sekali lagi.


~♥~




" Tau ah males."kata Dhifa sambil mengerucutkan bibirnya ke depan.



" Gue traktir pizza cup AB, gimana?" Tawar David.



" Nggak mempan" kata Dhifa singkat.


" Roti Dandelion?" tawar David kembali.


" Nggak mau" balas Dhifa tetap gigih tak tergoyahkan.


" Ice Cream vanilla blueberry cake's?" tawar David terakhir.


" Nggak... mau!!!" jawab Dhifa skakmat.


" hahaha delivery aja ya. biar kita pulangnya nggak kemaleman. ntar yang ada gue dibacok bokap lu lagi gara\-gara bawa pulang anaknya kemaleman." kata David seraya menelpon tukang delivery ice Cream blueberry yang selalu menjadi langganan nya.


" Udah jam 17.30 lu tidur aja dulu, perjalanan kita masih jauh. nanti kalau mau nyampe gue bangunin kok." kata David dengan fokus pandangannya masih ke depan.



karena tak ada jawaban dari Dhifa membuat David menoleh ke samping dan menemukan Dhifa yang memakai handset dengan mata indahnya yang terpejam. setelah memastikan bahwa Dhifa benar\\-benar tertidur, barulah David menepikan mobil ke pinggir jalan dan menelpon seseorang.



" \*Temui aku jam 10 malam nanti, ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu..... tidak bisa, Aku sedang ada urusan sekarang.....akan aku kirim alamatnya nanti\*."


 


tut... tut!


 


Setelah menutup telepon, perkataan nenek tadi kembali terngiang di telinganya David, terus terngiang dan menghantuinya kemanapun ia pergi. Diliriknya ke samping kiri dan ia mendapati Dhifa Yang Sudah terlelap lama di sampingnya tiba\-tiba Diva menggeliat pelan Seraya menggosok\-gosok lengannya yang terekspos sempurna dengan udara dingin. lantas David menaikan kaca mobil dan melepaskan jaket yang dipakainya untuk menyelimuti Dhifa dan tiba\-tiba entah dorongan mana menbuat tangan David terulur Untuk memindahkan anak rambut Dhifa yang menutupi matanya, hingga seulas senyum tercetak jelas di wajah David yang terkesan selalu datar setiap saat.


" Gue nggak mau lo diet lagi Dhif. karena gue yakin masalah yang akan loe hadapi kedepan akan buat otak lu mendidih dan badan lu kurusan. so please!!!" kata David terakhir kalinya sebelum ia kembali melajukan mobilnya.



~♥~


 


 


Asal kamu tau,


aku ngelarang bukan berarti aku mengekang


itu hanya karena aku terlalu khawatir terjadi sesuatu kepadamu.


~ David ~


I'm Yours