
Lea menatap tajam pada Angre yang dengan gamblangnya bertanya hal itu pada dokter Rini.
" Ada apa? apa aku salah bertanya?" kata Angre sambil mengangkat kedua bahunya.
Sementara dokter Rini hanya tertawa kecil melihat pasangan itu.
" Tak masalah. Itu pertanyaan umum dari setiap pasangan yang baru pertama kali menghadapi kehamilan mereka. Tenanglah," kata dokter itu yang melihat ekspresi kesal dari wajah Lea.
" See. Kau dengar sendiri, bukan?" sahut Angre.
" Kalian boleh melakukan hal itu namun jangan terlalu sering karena hal itu bisa memicu kontraksi pada kandungan Lea. Dan lakukan dengan perlahan pastinya," kata dokter itu.
Angre mendengar kan dengan seksama penjelasan dari dokter Rini sembari menganggukkan kepalanya.
Setelah cukup lama mereka berkonsultasi tentang masalah kehamilan. Mereka pun keluar dari ruangan dokter Rini dengan perasaan lega dan bahagia.
Mereka langsung pergi dari rumah sakit itu setelah menebus obat yang diresepkan oleh dokter Rini.
.
Kini mereka telah sampai di mansion. Angre memutuskan untuk tidak kembali ke perusahaan karena ingin menemani sang istri.
" Istirahatlah, aku akan menemani mu disini," kata Angre yang mendudukkan Lea di ranjang.
" Beby. Aku ini hanya sedang __"
" Sedang hamil dan bukan sedang sakit," potong Angre yang menaikkan kaki Lea ke atas ranjang lalu menutup nya dengan selimut.
" Huuffft ..." Lea menghembuskan nafasnya dengan kasar dan hanya pasrah dengan sikap sang suami.
Kemudian Angre keluar dari kamarnya untuk mengambil laptop nya di ruang kerja. Setelah itu dia langsung kembali ke kamarnya dan duduk di atas ranjang di sebelah Lea.
" Kau membawa pekerjaan mu kemari?" tanya Lea.
" Ya. Aku ingin selalu di samping mu dan selalu menjaga mu sampai anak kita lahir," sahut Angre dengan mata yang fokus dengan laptopnya.
Lea mencebik lalu merebahkan tubuhnya. Wanita itu dalam posisi miring dan menghadap kearah sang suami yang kini sudah larut dengan pekerjaan nya.
' Sepertinya aku akan mendekam di dalam kamar ini selama 9 bulan,' batin Lea.
Lalu wanita itu menutup matanya yang sudah berat akibat obat yang dia minum.
Angre melihat kearah Lea yang kini sudah terlelap. Pria itu membelai puncak kepala Lea lalu mencium keningnya.
" I love you. Aku akan melakukan apapun agar kau dan bayi kita tetap baik-baik saja," ucap Angre lirih.
Lalu Angre mengambil ponselnya untuk mengabari keluarganya dan juga keluarga Lea tentang kehamilan Lea.
Semua keluarga tampak sangat senang dan antusias menyambut calon cucu pertama di keluarga mereka
.
.
2 bulan berlalu.
Kini kandungan Lea sudah menginjak usia 4 bulan. Dan dia sudah melewati masa mual muntah nya dengan Arga yang selalu setia menemani nya. Serta nafsu makan nya yang kian bertambah.
Di trimester kedua nya ini. Lea selalu bersama ibu mertua nya yang sangat sering mengunjungi nya.
Angre kini kembali bekerja di perusahaan nya. Itupun karena nasihat dari Momynya yang ikut andil karena Lea yang selalu mengeluh bosan pada sang mertua dengan sikap protektif sang suami.
Pasalnya. Angre selalu menjaga Lea 24 jam penuh, bahkan pria itu membuntuti Lea saat wanita itu ingin buang air dengan dalih takut Lea terpeleset di kamar mandi.
Dan hal itu cukup membuat Lea kesal. Angre bahkan tak pernah pergi ke perusahaan semenjak sang istri hamil.
Dia juga melakukan meeting di dalam mansion nya. Itupun dilakukan saat Lea sudah tertidur.
Kini Lea sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit bersama Belle, Momy dari Angre.
Biasanya Angre yang selalu rutin menemani Lea untuk memeriksa kandungan nya.
Namun karena urusan perusahaan yang sangat penting bersama Daddy Edrick membuat nya tak bisa menemani sang istri.
Mereka sedang menunggu antrian di ruang tunggu. Saat sedang menunggu ada seseorang yang menghampiri mereka.
" Permisi ... apakah anda nyonya Lea?" tanya seseorang dengan sopan.
" Ya. Saya Lea. Apa aku mengenal mu?" sahut Lea sopan.
" Tidak. Saya hanya kurir dan ingin memberikan ini kepada Anda, Nyonya."
Pria itu langsung memberikan bingkisan dan buket bunga yang sangat di sukai Lea. Senyum Lea mengembang saat melihat bunga itu.
" Terimakasih," ucap Lea menerima bingkisan beserta bunga itu.
" Bunga nya sangat cantik, Sayang. Ini pasti dari Angre," ucap Belle.
" Hmmm ... dia manis sekali, Mom," sahut Lea sambil menghirup aroma wangi dari bunga itu.
Lalu dia membaca kertas kecil yang terselip di antara bunga itu yang bertuliskan " I love you Now and forever"
Dari kejauhan. Ada pria yang sedang menatap kearah Lea dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
" Kau terlihat sangat bahagia dan itu membuat ku begitu lega," gumam pria itu. Lalu pergi dari rumah sakit itu.
Lea dan Belle masuk kedalam ruangan dokter ketika nama Lea di panggil. Dokter memeriksa kandungan Lea yang sangat sehat.
Belle terlihat sangat senang dan sangat antusias untuk menyambut calon cucunya itu.
Setelah selesai memeriksa kan kehamilan Lea. Mereka langsung menuju restoran yang jaraknya tak jauh dari rumah sakit.
Lea yang mengeluh lapar pada sang mertua. Maka dari itu Belle menemani sang menantu untuk makan di restoran.
" Mom ... apa aku terlihat menggemuk?" tanya Lea yang belakangan ini tak bisa mengontrol nafsu makan nya.
" Tidak, sayang. Kau hanya sedikit chubby," sahut Belle sambil mencubit gemas pipi chubby Lea.
" Oh my. Itu artinya aku bertambah gemuk, Mom. Bagaimana kalau Angre tergoda dengan gadis seksi di luar sana," kata Lea khawatir.
" Heeeii ... apapun keadaan mu, Angre akan tetap mencintai mu," sahut Belle sambil mengusap lembut punggung tangan Lea.
" Benarkah??"
" Ya. Bahkan rasa cinta seorang pria akan semakin bertambah ketika melihat perut buncit wanita nya yang sedang mengandung keturunan nya," kata Belle.
" Apa Daddy seperti itu dulu, Mom?" tanya Lea.
" Ya. Bahkan Daddy lebih protes dari Angre. Dia bahkan selalu menggendong Momy ke kamar mandi dan memandikan Momy. Dia akan langsung pulang dari perusahaan jika sudah waktunya Momy mandi," kata Belle bercerita dan membuat Lea tertawa.
" Syukurlah Angre tak sampai seperti itu padaku, Mom," sahut Lea dengan tawanya.
Lalu pelayan pun datang dengan membawa makanan pesanan Lea dan Belle. Belle memutuskan ikut makan karena ini memang sudah masuk jam makan siang.
Mereka makan siang bersama sambil mengobrol ringan. Lea terlihat sangat dekat dengan ibu mertua nya itu yang memang bersifat sangat penyayang dan menganggap Lea sebagai putri nya.
Tiba-tiba ponsel Lea berbunyi.
" Hallo ... ada apa, Beby?" kata Lea mengangkat panggilan itu.
" Kau dimana? apa kau sudah makan siang?" sahut angre dari seberang telepon.
" Aku sedang di restoran dekat rumah sakit. Aku makan siang bersama Mommy," sahut Lea sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
" Baiklah. Setelah itu langsung pulang dan jangan pergi kemanapun!! kau harus istirahat!" tegas Angre.
" Baik boss," sahut Lea dan langsung memutuskan panggilan itu.
Belle tertawa melihat ekspresi datar Lea. Dan dia sangat tahu apa penyebab nya.
" Sabarlah ... Buah tak pernah jatuh jauh dari pohon nya," kata Belle.
Mereka pun tertawa bersama.