I'm yours

I'm yours
48. Leon dan Rayan



" Haii ... namaku Leon."


Pria itu mengulurkan tangannya pada Rayan.


" Ya. Aku Rayan," sahut Rayan sambil membalas uluran tangan dari Leon.


Mereka saling menatap dengan seringai tipis di bibirnya yang tak bisa di artikan oleh Lea.


" Baiklah. Aku akan kembali ke perusahaan," kata Leon setelah melepaskan jabatan tangan nya.


" Ya. Kau kesini hanya untuk menidurkan Leangga. Sorry jika aku dan Leangga selalu menyita perhatian mu, hingga kau tak punya waktu untuk bersama kekasih mu," ucap Lea yang membuka Leon tertawa.


Pria itu mendekati Lea dan berbisik di telinga nya.


" Aku tidak pernah memiliki seorang kekasih sejak kejadian beberapa tahun yang lalu, yang membuat mu pergi meninggalkan ku."


Senyum di bibir Lea langsung menghilang setelah mendengar bisikan dari Leon.


Pria itu menatap intens wajah cantik Lea.


" Aku hanya sedang menunggu takdir ku tiba," lanjut Leon tersenyum pada Lea.


Lalu dia menoleh kearah Rayan yang menatap kearah nya.


" Aku permisi," ucap Leon menepuk bahu Rayan dan hanya di tanggapi senyuman oleh pria itu.


Lea tetap menatap kearah Leon yang sudah pergi dari hadapannya. Entah apa yang dia pikirkan.


' Apa yang di bisikan oleh pria itu hingga membuat Lea terpaku, dan apa maksud perkataan nya tadi,' batin Rayan.


" Ehemm ..."


Lea langsung tersadar saat mendengar suara Rayan yang berdehem.


" Maaf. Kau ingin bermain dengan Leangga tapi dia sudah tertidur," ucap Lea sambil menundukkan kepalanya.


" Ya. Boleh aku mengobrol dengan mu?" tanya Rayan sopan.


Lea mengangkat wajahnya dan menatap kearah Rayan.


" Apa tujuan mu ingin mengobrol dengan ku? jangan mengharapkan sesuatu dari ku," ucap Lea serius.


Entah kenapa sejak bertemu dengan pria itu, Lea merasa tak nyaman karena Rayan selalu terang-terangan menatap nya.


" Aku hanya ingin menjadi teman mu. Hanya itu, apa kau tak mau berteman dengan ku?" tanya Rayan.


Lea tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


.


Kini Lea dan Rayan sedang berada di halaman belakang dimana Lea biasanya melewati hari-hari nya di tempat itu.


" Jangan terus menatap ku seperti itu. Aku risih," kata Lea jujur.


" Maaf. Aku hanya mengagumi kecantikan mu," sahut Rayan.


Lea tersenyum miring dan melihat kearah Rayan.


" Kau tidak benar-benar ingin berteman denganku. Aku benar-benar tak nyaman dengan tatapan mu pada ku, maaf aku ingin melihat putraku terlebih dahulu."


Lea bangkit dari kursinya dan Berjalan kearah pintu mansion.


" Kau tak ingin membuka hati mu karena Leon atau karena kematian suami mu?" tanya Rayan dengan suara yang sedikit berteriak.


Lea langsung menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan yang di lontarkan oleh Rayan.


" Itu bukan urusan mu! jika tak lagi yang kau perlukan disini, kau boleh pergi. Terimakasih untuk semua nya," sahut Lea dan kembali berjalan menuju pintu.


Rayan bangkit dan melihat kearah Lea.


" Ah ya. Satu lagi, jangan pernah membawa kan mainan untuk putra ku karena dia sudah memiliki segalanya!!" tegas Lea.


Rayan berjalan dan mengikuti langkah Lea.


" Tapi Leangga tak memiliki seorang Daddy!" teriak Rayan yang membuat Lea langsung menghentikan langkahnya.


" Dia sudah memiliki seorang daddy yang selalu ada di hati nya. Pergilah dan jangan pernah menampakkan wajah mu lagi di hadapan ku jika kau masih ingin memasuki ranah pribadi ku!"


Lea langsung berjalan menuju kamar nya dan langsung menutup pintunya.


' Semua pasti karena Leon,' batin Rayan kesal.


Lalu dia pun pergi dari mansion itu.


.


.


Lea terduduk di tepi ranjang. Dia begitu kesal karena Rayan dengan berani nya mengurusi urusan pribadi nya dan juga Leangga.


" Dia sangat berbeda dengan Leon, dia terlalu mengurusi urusan pribadi ku. Sementara Leon ... dia hanya terus memfokuskan diri pada Leangga," gumam Lea.


Lalu dia merebahkan tubuh nya di ranjang. Dia melihat cincin kawin yang masih melingkar di jari manisnya.


" Ini semua karena kau, Angre. Kenapa kau pergi dengan begitu cepat dan memposisikan ku dalam masalah yang cukup rumit ini," gumam Lea.


Tanpa dia sadari. Lea sudah mulai melupakan tentang kematian Angre karena kehadiran Leon dan Leangga yang selalu menghangatkan suasana hatinya.


' Bagaimana jika Leon tiba-tiba menikah? bagaimana jika Aunty Marta dan uncle Thoy memaksanya menikah dengan wanita pilihan mereka? pasti Leon tak akan bisa menolak permintaan dari orang tua nya,' batin Lea.


Lalu Lea mengambil sebuah diary yang semasa kuliah nya dulu saat masih berhubungan dengan Leon.