
Sementara di tempat lain.
Leon tengah menggandeng tangan Lea masuk keluar dari acara pesta dan manuju mobilnya.
" Leon ... pestanya masih belum selesai," kata Lea sambil terus mengikuti langkah kaki Leon.
" Mereka masih bisa melanjutkan pesta nya tanpa kehadiran kita, Honey," sahut Leon sambil membuka pintu mobil nya untuk Lea.
" Bagaimana dengan Leangga? dia pasti akan mencari kita nanti, Leon!"
Leon tak menjawab, dia mendorong tubuh Lea masuk kedalam mobilnya dan menutup pintunya.
Pria itu berjalan memutari mobil dan membuka pintu mobil nya. Dia masuk dan langsung menduduki kursi kemudi nya.
" Jangan mencari-cari alasan, Honey. Semua pasti mengerti, dan Leangga aman dengan 3 kakek neneknya disini," kata Leon sambil mendekatkan tubuhnya kearah Lea.
Wanita memundurkan wajahnya saat wajah Leon tepat berada di depan wajahnya. Leon tersenyum miring dan mengecup bibir Lea sekilas.
Tangan nya menarik sit belt dan memasang kannya karena Lea belum memasang sitbelt nya.
" Let's go."
Pria itu langsung menyalakan mesin mobilnya dan langsung menginjak gasnya hingga mobil itu pun melaju dan keluar dari area hotel itu.
" Kita akan kemana?" tanya Lea.
" Ke mansion baru kita," sahut Leon sambil menoleh kearah Lea sekilas dan kembali fokus dengan jalanan di depan nya.
.
.
" Alina ... kau kah itu?" tanya Mike saat dia yakin bahwa wanita yang sedang duduk itu adalah wanita yang sama yang baru saja berkenalan di pernikahan Leon barusan.
Wanita itu menoleh saat mendengar namanya di sebut oleh pria itu. Dia menatap kearah wajah tampan itu dan tersenyum tipis.
" Ya ... kau disini juga?" sahut Alina dan kembali fokus dengan makanan nya.
" Hmmm ... ternyata nama Bruno yang kau sebut kan tadi adalah orang yang sama," sahut Mike.
Bruno melihat interaksi mereka yang sepertinya sudah saling mengenal.
" Kalian saling mengenal?" tanya Bruno.
" Ya ... kita baru saja berkenalan dan dia adalah rekan bisnis ku," sahut Mike.
" Mike ... kemarilah. Kau harus makan dan bergabung dengan kita," kata Mika dengan ramah.
Pria itu mengangguk dan menarik salah satu kursi yang ada di samping Alina. Dia duduk dan bergabung dengan mereka.
Sementara Mike dan Bruno tampak saling mengobrol. Sesekali Mike melirik kearah wanita cantik yang duduk di sampingnya dan Bruno menyadari hal itu.
" Nona Alina ... sepertinya kau terlihat sedang terburu-buru," kata Mike saat melihat Alina dengan cepat menghabiskan makanannya.
" Panggil aku Alina saja," sahut Alina meletakkan sendok dan garpu nya. Dia menarik tisu dan mengelap mulut nya menggunakan tisu itu.
" Baiklah. Apa kau akan kembali ke pesta tadi?" tanya Mike.
" Tidak. Aku ingin lekas pulang karena ingin melanjutkan pekerjaan ku yang sedikit tertunda," sahut Alina.
Bruno dan Mika hanya saling menatap tanpa menyela pembicaraan dua insan di hadapannya.
" Mika ... Bruno. Sekali lagi aku ucapkan selamat pada kalian. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Alina sambil menggenggam tangan Mika.
" Hmmm ... Terimakasih, Al. Dan terimakasih sudah menyempatkan hadir di pesta sederhana kami," sahut Mika.
Mereka bangkit dari kursinya dan saling berpelukan.
" Aku harus pamit sekarang karena ada pekerjaan yang sedang menanti ku di rumah," kata Alina.
" Baiklah. Sekali lagi terimakasih, Al." sahut Mika dan Bruno bersamaan.
Alina hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Lalu dia menatap sekilas kearah Mike yang tengah menatapnya.
" Aku duluan, Tuan __"
" Panggil aku Mike saja," potong Mike.
" Hmmm ... Mike."
Mike tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Hati-hati, sampai jumpa di perusahaan besok."
Alina hanya tersenyum tipis dan pergi dari tempat itu. Rasa sesak di dadanya masih terasa saat melihat kemesraan Mika dan Bruno tadi.
Tapi dia dengan sangat pintar menahan dan menyembunyikan rasa kekecewaan nya. Tapi Mike menyadari hal itu karena pria itu selalu mengamati wajah wanita itu.
Alina masuk kedalam mobilnya dan supir langsung melajukan mobilnya meninggalkan area hotel itu.
Wanita yang duduk di kursi penumpang itu hanya menatap kearah luar jendela. Perasaan nya masih tetap sama, dia merasa patah hati karena pria yang dia sukai kini sudah menikah.
Dan tak terasa air matanya menetes, dengan cepat Alina mengusap nya karena dia tak mau supir melihat nya dan akan melaporkan pada sang kakak, Dev.
Jika melihat dia menangis. Dan hal itu bisa mengakibatkan Bruno kehilangan pekerjaan nya.