
" LEA ..." gumam Leon.
Dengan cepat Leon menerobos kerumunan orang yang mengelilingi korban kecelakaan. Hingga akhirnya dia bisa melihat Lea yang sedang menangis histeris sambil memeluk tubuh Angre yang kaku.
" Bangunlah, sayang. Siapa yang akan menjaga ku dan bayi kita? aku mohon bangun. BANGUUNN!!!" teriak Lea.
Wanita itu sangat terpukul dengan apa yang terjadi pada suaminya dengan sekejap. Baru saja dia masih tertawa dengan sang suami tapi kini dia melihat pria yang sangat mencintainya telah terbaring kaku dan tak bernyawa di pelukannya.
" ANGREEE!!!" teriak Lea histeris.
Wanita itu menangis histeris sambil memeluk jasad suami nya.
Semua orang yang menyaksikan kejadian pilu itu ikut terenyuh dan tak sedikit yang ikut menangis.
Leon perlahan menghampiri Lea dan Angre dari belakang Lea. Dia juga merasa sangat bersedih dengan apa yang terjadi di hadapan nya.
Dia tak menyangka bahwa Angre akan cepat meninggalkan dunia ini. Bahkan dia meninggalkan istri dan calon anaknya yang bahkan belum lahir ke dunia.
" Bagaimana aku bisa hidup tanpamu. Bagaimana aku merawat bayi kita, bagaimana aku mengatakan hal ini pada anak kita nanti, Angre. Bangunlah!!"
Lea terus menangis sambil mengguncang tubuh Angre. Berharap pria itu kembali bergerak dan membuka matanya.
" ANGREEEE!!!" teriak Lea lagi dengan tangisnya.
Dan dia langsung tak sadarkan diri.
Dengan cepat Leon menghampiri Lea dan mengangkat tubuhnya.
" Cepat bawa jasad ini ke rumah sakit! aku mengenal mereka!! CEPATT!!" kata Leon dengan sedikit berteriak.
Lalu para perawat itu langsung menggotong jasad Angre. Sementara Leon menggendong tubuh Lea dan membawanya ke dalam mobilnya.
" Shiiit," umpat Leon saat melihat darah yang berasal dari bagian bawah Lea yang menembus dress yang di pakai oleh wanita itu.
Dengan cepat Leon masuk kedalam mobil nya. Sekilas dia melihat kearah wanita yang tak sadarkan diri di samping nya.
" Semoga kau dan bayi mu baik-baik saja," ucap Leon dan langsung mengemudikan mobilnya mengikuti ambulance yang membawa jasad Angre.
Setelah sekitar 15 menit akhir nya mereka tiba di rumah sakit.
Jasad Angre langsung di bawa ke ruangan otopsi, sementara Leon membawa Lea ke ruangan UGD.
" Ada apa dengan nya, Tuan? apa dia korban kecelakaan?" tanya salah satu dokter yang ada di ruangan itu.
" Tidak. Cepat tangani dia, dia sepertinya pendarahan!!" jawab Leon tegas.
Lalu dia ingin keluar dari ruangan itu namun tangan nya di tahan oleh Lea.
Pria itu menoleh dan melihat wanita itu yang bergumam dengan mata yang masih terpejam.
" Jangan tinggalkan aku, aku mohon ..." gumam Lea lirih.
Akhirnya Leon mendekati ranjang Lea dan mengecup keningnya.
" Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, meskipun kau yang meminta nya," ucap Leon lirih.
Lalu Lea membuka matanya karena merasa kan sakit di perut nya.
Matanya langsung bertumpu dengan mata tajam Leon.
" Perut ku sakit, Dokter," ucap Lea yang tak memperdulikan keberadaan Leon. Namun tangannya masih menggenggam erat tangan pria itu.
" Cepat periksa jalan lahir nya!!" ucap Dokter itu pada seorang perawat.
Lalu perawat itu langsung melakukan apa yang di perintahkan oleh dokter tersebut.
" Sudah ada pembukaan, Dokter."
" Cepat bawa dia ke ruangan bersalin!!"
Lalu mereka langsung mendorong ranjang Lea ke ruangan bersalin. Bersama dengan Leon yang tangan nya terus di genggam oleh Lea.
" Dokter Rini ... Ada pasien yang mau melahirkan!!" ucap perawat yang membawa ranjang Lea.
" Lea!! Dimana suaminya?" tanya dokter Rini yang sangat terkejut melihat penampilan Lea yang berlumur darah karena wanita itu mendekap erat tubuh suami nya tadi.
" Tenanglah ... kau akan baik-baik saja. Oke," kata dokter Rini menghampiri Lea yang tengah kesakitan.
" Cepat panggilkan suaminya!!" kata dokter Rini lagi.
Tidak ada yang bisa menjawab. Para perawat pun hanya saling menatap.
" Suaminya sudah meninggal, Dokter. Karena kecelakaan," kata Leon.
" A-apa!!!" Dokter Rini sangat terkejut mendengar hal itu. Dia langsung menatap kearah Lea yang tengah menangis sambil menahan rasa sakitnya.
Dokter Rini pun langsung menetes kan air matanya, lalu mengusap lengan Lea sembari menenangkan nya.
" Perut ku sakit, Dokter. Apa bayi ku akan baik-baik saja?" kata Lea.
Lalu dokter Rini pun menghapus air matanya. Dia langsung melakukan serangkaian pemeriksaan pada Lea.
" Apa kau yakin ingin melahirkan secara normal? apa kau kuat?" tanya dokter Rini.
Lea mengangguk cepat. Dia terus menggenggam tangan leon dengan erat hingga kukunya menancap di tangan Leon.
.
.
Di luar negeri tepatnya di London. Erka dan Mona sudah ada di dalam pesawat pribadi nya.
Mereka langsung terbang ke negara nya untuk melihat kondisi sang putri. Erka sangat khawatir dengan keadaan anakn dan menantunya.
Dia sangat yakin ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Dia juga menghubungi keluarga Angre yang kebetulan juga ada di luar negeri tepatnya di Singapura.
Mereka samua sedang terbang ke negara nya. Dengan perasaan yang kalut, karena tak bisa menghubungi anak dan menantunya.
Sementara itu. Dev dan Zea serta Alina yang kebetulan ada di negara itu. Mendengar kabar kecelakaan itu.
Mereka langsung menuju rumah sakit tempat jasad Angre di tangani.
.
.
" Dokter ... Pembukaan nya sudah sempurna," kata salah satu perawat.
" Baiklah. Kita lakukan sekarang."
Dokter Rini langsung memberikan instruksi dan aba-aba pada Lea. Untuk membantu persalinan nya.
Leon dengan setia mendampingi Lea dalam ruangan bersalin itu. Pria itu merelakan tubuhnya untuk di jadikan pelampiasan oleh Lea yang menahan rasa sakitnya.
Dia menyaksikan kelahiran putra dari Angre. Dengan perasaan yang bercampur aduk. Senang, sedih dan berduka. Itulah perasaan Leon saat ini.
Lea masih berusaha mengejan dengan segala kekuatan nya. Dengan 3x tarikan Lea berhasil melahirkan putra nya.
Tangisan dari bayi itu pecah di dalam ruangan itu. Loen menetes kan air matanya dan mencium seluruh wajah Lea yang merah karena menangis.
Wanita itu sangat sadar siapa pria yang ada di sampingnya kini. Dia membiarkan hal itu karena pria itu telah menolong nya dan membantu nya.
Para perawat langsung membersihkan bayi mungil itu. Dan menyerahkan pada dokter Rini setelah selesai di bersihkan.
" Selamat, putra mu lahir dengan selamat," kata dokter Rini dengan air matanya yang kembali menetes.
Dokter Rini memberikan bayi itu pada Lea. Dan Lea menerima bayinya dengan tangisnya.
Wanita itu mendekap erat bayi mungilnya itu. Tangisnya langsung pecah saat melihat wajah bayi itu yang benar-benar mirip dengan daddy nya.
Dia terus menangis sambil menciumi wajah bayi nya. Leon kembali menetes kan air matanya melihat pemandangan itu.
Begitu pun dokter Rini. Dia menghampiri Lea dan memeluknya agar wanita itu kuat menghadapi cobaan ini.
' Angre. Aku berjanji akan menjaga mereka,' batin Leon sambil mengusap puncak kepala Lea.