I'm yours

I'm yours
27 ( Leon dan Moana)



" Uncle ...." Panggil seorang gadis kecil yang berlarian kearah Leon.


Leon langsung merentangkan kedua tangannya menghampiri gadis kecil itu. Dia berjongkok saat gadis itu sudah dekat dan langsung melompat kearahnya.


" I Miss you," kata Moana sambil mencium pipi Leon.


" I Miss you to, sweety," sahut Leon sambil mencium pipi chubby Moana.


" Sepertinya kau melupakan daddy, sayang," kata Diego saat berdiri di samping mereka.


Lalu Moana melepaskan pelukannya dari Leon dan memeluk sang Daddy.


" No. Aku tak pernah melupakan daddy. Daddy ku yang terbaik," kata Moana sambil mencium pipi Diego.


Diego menggendong putri cantiknya masuk kedalam rumah mereka yang sederhana tapi sangat nyaman karena ada kebersamaan dan kasih sayang di dalam nya.


" Woow ... dari mana semua mainan ini?" kata Diego terkejut melihat mainan yang baru saja di buka oleh Mel.


" Tanyakan ini pada bos kita," sahut Mel sambil melirik kearah Leon.


Moana dan Diego menatap kearah Leon yang menghendikkan bahunya.


" Jadi ini semua dari Uncle?" tanya Moana.


Gadis kecil itu turun dari gendongan Diego lalu menghampiri Leon dan memeluk lututnya.


Leon langsung menggendong Moana. Gadis kecil itu mengalungkan tangannya di leher kokoh Leon.


" Kau menyukai hadiah yang ku kirim?" tanya Leon.


" Ya. Aku sangat menyukai nya. Thank you uncle," kata Moana lalu mencium pipi Leon.


" Ayo kita main bersama." Leon menurunkan Moana dan bergabung duduk di atas karpet bulu yang ada di ruang tengah.


" Ini terlalu berlebihan, Leon," kata Diego tak enak.


" Tidak. Dia berhak mendapatkan nya," sahut Leon dengan posisi Moana yang duduk di pangkuan nya.


" Sayang, duduk lah dibawah. Kau tidak sopan jika terus duduk di atas pangkuan uncle Leon," kata Mel.


" Tidak masalah, Mel. Dia hanya anak kecil dan aku senang dia duduk di pangkuan ku. Aku seperti sedang memiliki seorang putri," sahut Leon.


" Maka menikah lah," kata Diego.


" Ya. Aku akan segera menikah saat takdir itu tiba," sahut Leon.


" Sampai kapan kau akan menunggu nya?" tanya Mel.


" Sampai dia kembali pada ku. Dan memberikan ku kesempatan lagi," sahut Leon sendu.


" Uncle, tunggu aku saja. Aku mau menikah dengan Uncle nanti setelah aku dewasa," celetuk Moana yang membuat orang-orang yang ada disana tertawa.


" Maka dari itu, aku akan menunggu gadis cantik ini. Maukah kau menemani hari tuaku?" kata Leon menggoda gadis kecil itu.


" Ya. Aku mau, Uncle. Kau adalah cinta kedua ku," kata Moana dan membuat semua orang tertawa lagi.


" Tapi Uncle hanya ingin menjadi cinta pertama mu," kata leon.


" No. Cinta pertamaku adalah Daddy. Dan Uncle adalah cinta kedua ku," celetuk Moa.


" See. Kau tak akan pernah bisa mengalahkan ku dari putri ku, Leon. Aku akan selalu menjadi cinta pertama nya," ucap Diego dengan tawanya.


" Kalau begitu aku akan mencari gadis lain yang bisa menjadikan ku cinta pertama nya," sahut Leon.


Gadis kecil itu menangkup wajah Leon dengan tangan mungilnya. Dia menatap lekat mata Leon.


" Kau tidak boleh melakukan nya. Aku sudah memutuskan," kata Moa dengan lugunya.


Semua tampak tertawa mendengar celotehan dari gadis kecil itu.


.


.


Terdengar suara barang yang di banting dengan begitu keras hingga pecah dan berhamburan di lantai.


" INI SEMUA GARA-GARA KAU, KEYLIN!! PERUSAHAAN KU HANCUR KARENA KECEROBOHAN MU!!" teriak Hendrik frustasi.


Semuanya gagal. Rencana yang telah di susun dengan sangat matang kini telah hancur, karena bukannya Keylin bersatu dengan Leon tapi malah membuat Leon beserta keluarganya murka.


Keluarga besar Leon memutuskan untuk membatalkan semua kerja sama nya dengan perusahaan Hendrik.


Thoy Guesson bahkan mencabut suntikan dana yang dia berikan beberapa bulan yang lalu pada perusahaan itu.


Dia juga menagih semua hutang Hendrik dan membuat perusahaan Hendrik hancur dan bangkrut.


" Daddy masih menyalahkan ku? aku sudah berusaha, Dad!!" teriak Keylin.


Wanita itu juga frustasi karena dia gagal mendapatkan Leon, meskipun dia sudah berhasil menghancurkan hubungan Leon dengan Alea.


Bahkan dia tidak bisa menghubungi pria itu.


Semuanya hancur karena ulah mereka sendiri.


.


.


Di negara lain. Tepatnya di mansion Adelard.


Lea sedang bersiap untuk pergi ke perusahaan bersama sang suami.


Lea sudah lulus dari kuliahnya.


Wanita itu memutuskan untuk terus bekerja di perusahaan Angre.


Dia merasa cocok berada disana karena dia sudah mengenal akrab semua karyawan yang satu ruangan dengan nya.


Angre tak menghalangi kemauan Lea. Pria itu menuruti semua keinginan sang istri, asalkan itu tak memberatkan wanita cantik itu.


Seperti saat ini. Lea enggan di pindahkan atau di angkat dari staf biasa menjadi asisten pribadi Angre yang notabene adalah boss besar di perusahaan itu.


" Aku akan ada meeting siang ini diluar kantor, kau tak mau ikut dengan ku?" kata Angre dengan tangan yang melingkar di pinggang sang istri.


" Tidak. Pekerjaan ku sangat banyak hari ini, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku. Karena weekend aku ingin jalan-jalan dengan suami ku," kata Lea sambil memasang kan dasi di leher Angre.


Angre tertawa lalu mencium kening sang istri.


" I love you," kata Leon.


" Hmmm. Aku sangat bosan mendengar nya," sahut Lea yang membuat Angre gemas dan menghujani ciuman di wajah cantik Lea.


" Kita sudah satu bulan menikah. Apa tidak ada tanda-tanda kehadiran nya?" tanya Angre sambil mengusap pelan perut Lea yang masih rata.


" Belum. Bersabarlah, kita tunggu beberapa bulan lagi. Kalau masih tidak ada tanda-tanda kehamilan, aku akan langsung mengambil keputusan untuk melakukan proses bayi tabung," sahut Lea sambil mengusap wajah tampan Angre.


" Apa kau benar-benar ingin memiliki seorang anak dari ku?" tanya Angre menatap lekat mata Lea.


" Ya. Karena aku sangat ingin memiliki keluarga yang utuh dan harmonis, seperti Momy dan Papi," sahut Lea.


" Ayo kita sarapan," ajak Lea sambil melepas kan tangan Angre yang melingkar di pinggang nya.


Wanita itu langsung keluar dari kamar seakan takut jika Angre bertanya yang aneh-aneh lagi tentang perasaan nya pada Leon.


Angre masih terpaku menatap kepergian Lea.


" Apa yang kau inginkan lagi, Angre. Cukup kau yang mencintai Lea dan tak usah mengharapkan wanita itu mencintai mu. Toh dia sudah menjadi milikku seutuhnya dan menjadi seorang istri yang sempurna," gumam Angre.


Lalu dia menyusul langkah Lea yang berjalan di depan nya menuju ruang makan.


.


Leon masih betah bermain dengan Moana di rumah sederhana tempat tinggal Diego.


Dia sangat bahagia saat bersama gadis itu. Seakan dia adalah obat dari kesepian dalam menjalani hidup nya saat ini.


" Baiklah. Ini sudah jam makan siang. Uncle harus pergi karena harus bekerja," kata Leon pada gadis cantik itu.


" Apa aku boleh ikut?" tanya Moa sambil mendongakkan kepalanya menghadap kearah Leon.


"Tidak boleh sayang. Uncle akan kerepotan jika kau ikut bersama nya," kata Mel membujuk sang putri.


" Hhmmm ... baiklah," sahut Moa sendu.


" Heii ... kenapa wajahmu murung? aku tak suka jika wajah cantik ini murung seperti ini," kata Leon sembari mengangkat dagu Moa agar menatap nya.


" Apa uncle boleh pergi sekarang? aku sudah telat, jika aku telat boss ku akan memarahi ku," kata Leon lagi saat tak mendapatkan jawaban dari Moana.


" Katakan padaku jika bos mu memarahi mu. Aku akan langsung menggigit tangan nya," kata Moa dengan lugunya.


Semua orang tampak tertawa mendengar celotehan anak kecil itu. Moa sangat cerewet dan sangat cerdas.


Umurnya memang masih 2 tahun. Tapi perawakan nya yang tinggi menjadikan dirinya seperti sudah berumur 4 tahun.


" Baiklah. Uncle akan langsung bilang padamu saat bos ku memarahi ku nanti, oke!" kata Leon sambil mengangkat jempol nya.


" Oke," sahut Moa yang juga mengangkat jempolnya dan menyatukan dengan jempol Leon.


" Boleh uncle pergi sekarang?" tanya Leon dengan nada yang sangat lembut.


" Boleh." Gadis itu menjawab sambil menganggukkan kepalanya.


Cup


Leon mengecup pipi Moa dan juga keningnya lalu pergi dari rumah itu.