I'm yours

I'm yours
Alina - Mike 14



Ke esokan harinya. Tepatnya di mansion Bramasta.


Rombongan keluarga Ivander sudah memasuki gerbang tinggi di mansion Bramasta. Roman dan Elis berada di mobil Ferrari berwarna putih yang di kemudikan oleh seorang supir.


Sementara itu di belakang mobil itu ada sebuah mobil Lamborghini berwarna hitam yang di kendarai Mike dan Eris.


Mereka semua keluarga dari mobilnya masing-masing setelah memarkirkan mobilnya. Eris tampak menatap kearah bangunan besar nan mewah yang berdiri di depan nya.


" Waah ... sepertinya ini bukanlah mansion keluarga biasa," gumam Eris.


" Heii ... Keluarga kita pun sama dengan mereka, Honey," kata Elis.


Lalu Roman menggandeng tangan Elis dan berjalan menuju beranda mansion yang sepertinya sudah ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangan mereka.


" Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Tuan Dev sudah menunggu di dalam," kata salah satu pelayan dengan ramah.


Roman hanya menganggukkan kepalanya dan Elis tersenyum. Mereka masuk kedalam mansion besar itu bersama.


" Selamat datang keluarga Ivander yang terhormat," kata Dev menyambut kedatangan keluarga itu.


Roman tersenyum dan mereka saling berpelukan karena cukup lama mereka tak bertemu.


" Aku tak pernah mengira kita akan bertemu di pertemuan seperti ini," kata Roman.


Dev tertawa dan melepaskan pelukannya.


" Aku pun juga tak pernah menyangka, Uncle."


Mereka masuk dan Dev mempersilahkan tamunya ke ruang tamu. Disana sudah ada Zea yang sedang menemani Abel.


" Selamat datang, lama tak bertemu," kata Abel sambil mengulurkan kedua tangannya pada Elis.


Wanita paruh baya itu tersenyum dan langsung menghampiri Abel yang sedang duduk di kursi roda nya.


Dia langsung memeluk tubuh Abel dengan erat dan tampak menangis haru karena melihat kondisi Abel saat ini yang tampak sedikit pucat dan semakin kurus.


" Semoga kau selalu sehat sampai pernikahan anak kita dan sampai mereka memberikan cucu-cucu yang lucu untuk kita," kata Elis dalam pelukan itu.


Abel tersenyum dan mengusap punggung Elis yang terisak.


" Ya. Aku ingin sekali melihat mereka menikah dan memberikan cucu yang lucu pada kita," sahut Abel.


Lalu dia melepaskan pelukannya dan Elis memeluk Zea. Istri dari Dev yang cukup lama di kenalnya.


" Kau semakin cantik di usia mu yang semakin dewasa, sayang."


Zea tersenyum dan membalas pelukan itu.


" Aunty juga semakin cantik dan terlihat masih muda," sahut Zea.


Mereka melepaskan pelukannya. Lalu mata Abel melihat kearah sosok gadis cantik yang berdiri di samping Mike.


" Hey ... siapa gadis cantik ini," tanya Abel.


Semua menatap kearah gadis cantik itu. Hingga membuat Eris menundukkan wajahnya karena malu.


" CK. Kakak!!!"


Mike terkekeh saat melihat pipi merah Eris.


" Wajah mu seperti kepiting rebus," kata Mike yang membuat semua tertawa.


" Iiishhh ... menyebalkan!" Eris mencebik dan memalingkan wajahnya.


Lalu Elis menghampiri sang putri dan membawanya mendekati Abel.


" Kenalkan. Dia Eris putri bungsu kami, Bel."


Eris tersenyum dan mengambil tangan Abel lalu mencium punggung tangan nya.


" Kau sangat cantik, Sayang."


Eris tersenyum dan melirik kearah Mike.


" Kau dengar, Kak?" kata Eris dengan bangganya.


Mike menggeleng kan kepalanya melihat sikap sang Adik.


Lalu mereka semua duduk di sofa dan bercengkrama. Namun tidak dengan Mike.


Pria itu tampak gelisah sambil melihat kearah tangga. Dia seolah sedang menunggu seseorang turun dari tangga itu.


Dev melihat hal itu.


" Dia mungkin tidak akan ikut hadir di makan malam ini, Mike."


Semua menatap heran pada Dev begitu pun dengan Mike yang kini ekspresi wajah nya sudah berubah.


" Why?" tanya Mike.


" Aku sedang menugaskan dia ke luar kota untuk masalah perusahaan," kata Dev asal.


Mike tampak mengerutkan keningnya dan terlihat sekali dia sedang merasa kesal.


Zea dan Abel tampak menggelengkan kepalanya saat melihat Dev mengerjai Mike. Dan Elis melihat hal itu.


Dia hanya tersenyum saat melihat wajah kesal sang putra.


' Kenapa dia lebih mementingkan pekerjaan dari pada acara makan malam keluarga ini,' batin Mike kesal.


Eris melirik kearah sang kakak dan menyenggol lengan nya.


" Ternyata calon kakak ipar ku lebih menyayangkan pekerjaan dari pada kakak," ejek Eris dan membuat semua tertawa.


Lalu terdengar langkah kaki seseorang memasuki mansion dan berjalan kearah ruang tamu.


Mike tampak memfokuskan pandangan nya pada asal suara langkah kaki itu.


' Semoga itu Alina,' batin Mike berharap.