I'm yours

I'm yours
38 ( Menyiapkan kamar Beby )



Ke esokan harinya. Lea terbangun karena merasakan ada tangan yang menggerayangi tubuh polos nya.


" Good morning, Beby," kata Angre menatap wajah cantik Lea meskipun tanpa riasan. dan dengan muka bantal nya.


Wanita itu tersenyum pada sang suami.


" Good morning my husband," sahut Lea dan Angre mengecup bibirnya.


" Kita berendam air hangat bersama?" tanya Angre. Dan langsung di jawab anggukan kepala oleh sang istri.


Pria itu langsung menggendong tubuh Lea masuk kedalam kamar mandi.


" Apa kau tak merasa aku bertambah berat?" tanya Lea dalam gendongan itu.


" Hmmm ... aku rasa kau bertambah berat, Beby," sahut Arga sambil menurunkan tubuh Lea di bathtub yang sudah berisi air hangat.


" Itu karena ada anak mu di dalam rahim ku," sahut Lea cemberut.


Angre tertawa melihat ekspresi wajah Lea yang cemberut.


CUP CUP CUP


Angre langsung mencium seluruh wajah sang istri. Dan menyesap bibirnya sekilas.


" I love you," kata Angre lalu mengambil bola sabun yang nanti akan menjadi busa yang melimpah.


Pria itu langsung bergabung dengan sang istri yang sudah ada di dalam bathtub. Dia duduk di belakang sang istri, lalu memijat lembut bahu sang istri.


" Hmmm ... pijatan mu enak sekali," kata Lea menikmati pijatan sang suami.


" Ya. Apa lagi pijatan ku di area ini," kata Arga sambil mengalihkan pijatan nya ke area dada sang istri.


" Iiiiishh ... lepaskan tanganmu dari sana," kata Lea memukul pelan tangan Angre yang mulai bermain di area dadanya.


" Aku ingin merilekskan tubuh ku sejenak," ucap Lea sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang sang suami sambil memejamkan matanya.


Pria itu memeluk sang istri dari belakang dan mengusap lembut perut buncit Lea.


" Kau sudah menemukan nama yang bagus untuk anak kita?" tanya Lea dengan mata yang terpejam.


" Ya. Aku menyiapkan 2 nama," sahut Angre sambil terus mengusap lembut perut Lea.


" Kenapa dua?" tanya Lea.


" Satu nama anak laki-laki dan satu nama perempuan," sahut Angre.


" Bukankah kemarin dokter Rini sudah mengatakan jenis kelamin dari bayi kita?" sahut Lea.


" Iya. Itu hanya untuk persiapan saja, takut prediksi dokter Rini salah," jawab Angre.


" Hmmm ... Oke. Lalu siapa namanya?" tanya Lea membuka matanya dan menoleh kearah sang suami.


" Leangga Angre Adelard dan Leanggi Angre Adelard."


Lea tertawa mendengar nama yang di berikan oleh sang suami.


" Kenapa? apa namanya tidak bagus?" tanya Angre saat mendengar sang istri tertawa.


" Nama itu sangat bagus, Beby. Tapi kau menyiapkan nama yang hampir sama seolah aku ini hamil anak kembar," sahut Lea masih dengan tawanya.


Angre pun ikut tertawa mendengar perkataan dari Lea. Pria itu terus mengusap lembut perut buncit Lea.


Lalu Lea juga menggenggam tangan Angre yang ada di atas perut nya.


" Aku suka namanya, jika dia benar laki-laki aku akan memanggil nya lean? atau Angga?," gumam Lea yang membuat Angre tertawa.


" Kau bisa memanggilnya dengan namaku juga," sahut Angre.


" Tidak. Aku akan memanggilnya Leangga saja," sahut Lea.


" Dia bergerak," kata Angre yang sedang mengelus perut Lea.


" Sepertinya dia suka dengan nama yang kau berikan, sayang," ucap Lea.


" Ya. Dia pasti suka dan dia akan menjadi pendukung ku setelah besar nanti."


Lalu mereka pun meneruskan obrolan santai nya. Hingga 20 menit berlalu, mereka baru menyelesaikan acara mandi nya dengan disekitar iklan panas yang di lakukan oleh Angre.


Kini mereka sedang makan pagi bersama di halaman belakang. Lea sengaja meminta pelayan untuk menyiapkan makan paginya di halaman belakang mansion karena dia ingin suasana yang baru.


" Kau tak ke perusahaan lagi hari ini, Angre?" tanya Lea.


" Tidak, aku akan menemanimu di sini dan aku akan melakukan pekerjaanku dari sini," sahut Angre.


" Ide yang bagus," sahut Angre.


Lalu mereka melanjutkan makan paginya hingga selesai.


.


Kini mereka sudah ada di dalam kamar yang akan menjadi tempat bayi mereka. Kamar itu sudah dicat berwarna biru seperti yang Lea inginkan.


" Aku akan memanggil salah satu pelayan untuk membantu kita di sini," kata Angre.


" Tidak. Aku ingin kau yang membuka dan merakit semuanya di sini," sahut Lea.


" Tapi ... ini sangat banyak, Baby. Bagaimana bisa aku akan menyelesaikan ini sendiri?" kata Angre.


" Siapa bilang kau sendiri? ada aku di sini yang akan membantumu, kan?" sahut Lea.


" Huuffft ... Baiklah," sahut Angre pasrah.


Lalu Angre mulai membuka barang belanjaan mereka kemarin satu persatu. Lea membuka semua baju-baju bayi yang telah dia beli dan dia langsung menatanya di dalam lemari yang sudah tersedia di kamar itu.


Sementara itu, Angre membuka ranjang bayi. Dia langsung merakitnya sendiri tanpa bantuan dari pelayan seperti yang Lea perintahkan.


setelah selesai merakit ranjangnya anggre mulai menata letak ranjang itu.


" Apa jika ada di sini terlihat bagus?" tanya Angre pada Lea.


" Geser ke kiri sedikit."


Lalu Angre mulai menggesernya.


" Disini?" tanya Angre.


" Sedikit lagi ... sedikit lagi."


Angre langsung menggesernya lagi mengikuti instruksi dari sang istri.


" Stop!!" ucap Lea, wanita itu tampak sedang berpikir sambil menatap ke arah ranjang itu.


" Sepertinya kalau di situ terlihat kurang pas deh," ucap Lea.


" Lalu bagaimana? apa aku harus menggesernya lagi?" sahut Angre.


" Iya, Beby. Kembalikan itu ke posisi semula," kata Lea Sambil tertawa pelan.


" Beby ... kau mengerjai ku?" kata Angre. Wanita itu terus tertawa, benar saja dia hanya mengerjai sang suami.


" Kenapa kau jahil sekali?" kata Angre. Pria itu menghampiri sang istri dan menggelitiknya.


Mereka pun tertawa bersama di dalam kamar yang masih terlihat sangat berantakan itu.


" Stop ... Angre, pekerjaan kita masih banyak. Ayo cepat lanjutkan," ucap Lea.


Dan mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka, untuk menghias kamar bayi mereka.


1 jam 2 jam dan 3 jam berlalu, mereka masih berkutat di kamar itu.


" Pasang stiker itu di sana, Beby," kata Lea.


" Di sini?" tanya Angre.


" Bukan, di sebelah situ tuh." Tunjuk Lea.


Angre terus mengikuti instruksi dari sang istri.


" Jangan sampai kau mengerjaiku lagi," kata pria itu mengomel.


"Tidak. Aku tidak akan mengerjaimu lagi, aku janji," kata Lea sambil memegang kedua telinganya.


Angre tertawa lalu menghampiri sang istri.


Dia langsung merengkuh pinggang nya dan memeluknya.


" Ingin sekali aku menggigitmu, aku sangat gemas sekali melihat mu," kata Angre.


Lea mengalungkan tangannya dileher Angre.


" Aku akan menjadi wanita paling menggemaskan untuk suami ku," sahut Lea.


Mereka pun berciuman di dalam kamar yang hampir selesai di hias itu.


Lama mereka berciuman hingga membuat mereka berlanjut ke kegiatan panas selanjutnya di kamar itu.