
Angre menggandeng tangan lea masuk kedalam Gedung yang menjual perlengkapan bayi itu.
Mereka ingin berbelanja perlengkapan untuk bayi mereka dan ingin menyiapkan kamar untuk calon bayi mereka.
"Oke. Apa kau siap untuk berbelanja, Beby?" tanya Angre melihat kearah sang istri.
"Yes. I'm ready!!" sahut Lea semangat.
"Apa yang akan kita beli pertama kali?" tanya Angre.
" Kita akan membeli ranjang bayi terlebih dahulu beserta kasur dan yang lainnya," kata Lea.
"Oke, Baby," sahut Angre.
" Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?" tanya seorang pegawai dengan sopan.
"Tunjukkan pada kami, dimana tempat ranjang bayi nya?" kata Lea.
" Baiklah. Saya akan menunjukkan tempat nya, ikuti saya Nyonya," kata pegawai itu.
Lea dan Angre mengikuti langkah pegawai itu. Lea mengedarkan pandangannya kesemua perlengkapan bayi yang terpajang rapih di sana.
Senyumnya mengembang saat melihat barang-barang yang lucu itu.
" Aku seperti ingin membeli semua barang-barang yang ada disini, itu sangat lucu-lucu sekali ..."
Angre melihat wajah cantik sang istri yang sedang sangat senang dengan mata yang berbinar. Dan dia mencubit gemas pipi chubby Lea.
Lalu sampailah mereka di tempat ranjang bayi di ruangan yang cukup luas itu. Senyum Lea mereka saat melihat beberapa ranjang bayi dengan desain yang berbeda dan warna yang sangat beragam.
" Aku ingin ranjang bayi yang klasik dan tak terlalu rebet. Dengan warna broken white lengkap dengan kasur serta bantal dan perlak bayinya," kata Lea kepada pegawai itu.
Pegawai itu menunjukkan ranjang bayi yang di inginkan oleh Lea.
" Ini beberapa ranjang bayi yang sangat laku dari sepert yang Anda inginkan. Dan juga rekomendasi keranjang bayi terbaru dari toko kami," kata pegawai itu dengan sopan.
Lea dan Angre melihat ke ranjang bayi itu bersama. Warnanya yang sangat beragam dengan warna yang soft membuat Lea galau.
"Ranjang ini bagus warnanya, juga sangat sangat cocok dengan apa yang aku mau," kata Lea.
" buka kau tadi bilang ingin warna yang putih, Beby? tanya Angre.
"Entahlah ... ini sangat lucu lucu-lucu sekali, aku jadi bingung," sahut Lea.
" Anda ingin kamar bayi yang bertema apa, Nyonya?" tanya pegawai itu.
" Eemm ... aku menginginkan kamar bayiku berwarna soft blue dan dipadukan dengan warna broken white," sahut Lea.
"Jika anda mengecat dindingnya dengan warna soft blue, maka lebih cocok bila ranjang bayinya berwarna broken white. Tapi jika sebaliknya, dinding berwarna broken white sebaiknya anda memilih ranjang bayi yang berwarna soft blue," sahut pegawai itu.
" Dia benar, Beby," sahut Angre.
"Baiklah, aku ingin ranjang ini yang berwarna broken white," kata Lea akhirnya.
Lalu pegawai itu menuliskan pesanan Lea beserta nama Lea di buku nota yang dia bawa.
" Apa ada yang bisa saya bantu lagi, Nyonya?" tanya pegawai itu.
" Ya. Ada banyak barang yang ingin aku beli disini, jadi aku butuh rekomendasi dari mu," kata Lea.
" Baiklah, Nyonya," sahut pegawai itu.
" Aku ingin membeli stroller bayi," kata Lea.
Lalu pegawai itu mengantarkan Lea ke tempat stroller bayi. Lea sangat bersyukur di layani oleh pegawai itu, karena dia bisa bertanya banyak dan meminta pendapat pada nya.
Pegawai itu dengan setia mengikuti dan melayani Lea dengan sabar dan senyum ramahnya. Angre masih setia menemani sang istri memburu perlengkapan bayi.
" Siapa nama mu?" tanya Lea saat sedang berjalan kearah perlengkapan bayi yang lain setelah memilih satu stroller bayi.
" Nama saya Rina, Nyonya," kata pegawai itu sopan.
" Apa kau sudah lama bekerja di sini?" tanya Lea.
" Sudah sekitar 3 bulan, Nyonya," jawab Rina.
Lalu tibalah mereka di tempat perlengkapan bayi, seperti baju selimut popok dan yang lainnya.
Dengan sigap Rina mengambil kan kursi untuk Lea. Agar wanita itu bisa memilih beberapa baju yang ada di depan nya dengan leluasa dan Rina yang akan mengambil kan apa yang di minta oleh Lea.
Lea duduk dikursi sambil memilih beberapa baju baju yang tertata rapi di depan nya. Bersama Rina yang selalu menemani nya.
Angre tersenyum melihat keakraban Lea dan Rina. Itu mengingat kan nya dengan persahabatan Lea dan Alina.
Setelah Lea mendapatkan semua barang yang ingin dia beli. Dia berjalan menuju kearah sang suami bersama Rina yang berjalan di belakangnya dengan membawa semua keranjang belanjaan Lea.
" Beby ..." panggil Lea sambil mengelus perut buncitnya.
Angre menoleh pada sang istri dan tersenyum pada nya.
" Kau sudah selesai? apa tidak ada lagi yang ingin kau beli disini?" tanya Angre bangkit dari sofa.
" Eemm ... Aku rasa sudah cukup," sahut Lea sambil melihat kearah barang yang di bawa Rina.
Lalu Rina menyerahkan semua barang-barang itu pada kasir. Beserta dengan catatan Nita stroller dan ranjang bayi.
Setelah selesai menghitung semua total belanjaan Lea. Angre mengeluarkan kartu hitam nya untuk membayar semua belanjaan sang istri.
Lalu mereka pun keluar dari toko itu. Rini membawakan barang belanjaan Lea dan ikut memasukkan nya kedalam bagasi mobil.
" Terimakasih, Rina. Kau baik sekali dan sangat sabar melayaniku," kata Lea.
" Sama-sama, Nyonya," sahut Rina sambil menundukkan kepalanya.
Angre mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikan nya pada Rina.
"Ini sebagai ucapan terimakasih ku, karena kau dengan sabar menemani istri ku," kata Angre meletakkan uang itu di telapak tangan Rina.
" Ini terlalu banyak untuk ku, Tuan," kata Rina mengembalikan lagi uang itu.
" Terimalah, Rina. Ini permintaan dari ibu hamil," kata Lea yang membuat Rina tak enak untuk menolaknya lagi.
" Terimakasih Tuan. Nyonya," kata Rina.
Seorang pengawas di toko itu menatap tajam kearah Rina sambil bersedekap.
Lalu Rina pun masuk kedalam toko lagi.
Saat melewati meja kasir. Tangan nya di tahan oleh seorang pengawas toko yang menatapnya tadi.
" Berikan uang itu padaku!!" kata pengawas itu ketus.
" T-tapi ini __"
ucapan nya terpotong saat pengawas itu langsung mengambil paksa uang yang di berikan oleh Angre tadi.
"Waahh ... sepertinya kau berhasil menarik perhatian pria tampan yang beristri itu dengan mendeki istrinya. Kau memang licik," kata pengawas itu sambil menghitung sejumlah uang yang baru dia rampas dari Rina.
" Aku tidak pernah punya niat seperti itu, Nona. Kembalikan uang itu, aku ingin menggunakan uang itu untuk pengobatan ibuku," kata Rina memohon.
" Baiklah."
Pengawas wanita itu memberikan satu lembar uang untuk Rina, lalu pergi meninggalkan nya.
Angre melihat kejadian itu. Pria itu kembali masuk kedalam toko itu untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di sofa.
Dia mengambil ponselnya dan menghampiri meja kasir.
" Tuan. Apa ada yang tertinggal?" kata pegawai itu sopan.
" Ya. Ponsel ku tertinggal di sofa itu," sahut Angre.
Pegawai itu menundukkan kepalanya saat mendapatkan tatapan tajam dari Angre.
" Kau pasti melihat apa yang baru saja di lakukan oleh pengawas itu pada Rina, kan?" kata Angre dengan nada yang mengintimidasi.
Pegawai itu hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya.
" Panggil manager toko ini. Aku ingin bicara padanya," kata Angre.
" B-baik Tuan."
Lalu pegawai itu menelpon sang manager dengan menggunakan telepon yang tersedia di meja kasir.
Angre menunggu sambil duduk di sofa.