I'm yours

I'm yours
43. Kenangan



Ke esokan harinya. Lea bangun dari tidurnya, dia bangkit dan tak melihat Beby Leangga di samping nya karena Belle membawa nya tidur dikamar nya.


Lea melihat kearah bingkai foto besar yang terpajang di dinding di kamar nya, saat Lea mengandung dan Angre memeluk nya dari belakang.


" Good morning. Semoga kau tenang di surga, aku tidak akan menangisi mu lagi Angre, kau bisa beristirahat dengan tenang," kata Lea lirih sambil menatap wajah tampan Angre yang ada di foto itu.


Sekilas terbesit kenangan saat biasanya dia bangun di pagi hari yang disambut dengan senyuman serta pelukan hangat dari sang suami. Kini sudah tak ada lagi, itu semua tinggal kenangan.


Lea kembali merasakan sesak di dadanya tapi dia berusaha dengan semampunya untuk tak menangis. Namun apalah daya, air matanya kembali menetes dan hatinya semakin merasakan sesak.


Hingga dia pun tak bisa membendung tangisnya. Dia pun kembali terisak sambil memeluk lututnya sendiri di atas ranjang.


" Maaf ... Maafkan aku. Ternyata aku tidak bisa lagi menahan nya," ucap Lea sambil terisak.


CEKLEK


Pintu kamar nya terbuka, Mona masuk kedalam kamar dan menghampiri Lea yang menangis di atas ranjang.


" Sayang ...." Mona langsung memeluk putrinya itu.


Dia sangat tahu apa yang di rasakan oleh sang putri. Dia tak bisa mengatakan apapun dan hanya bisa memeluk nya.


" Aku tak bisa tinggal disini, Mom. Aku selalu menangis jika mengingat kenangan itu, aku takut dia tak bisa beristirahat dengan tenang jika dia selalu melihat ku menangis," kata Lea dengan isak tangisnya.


Belle yang ada di ambang pintu mendengar perkataan Lea. Dia pun kembali menangis dan ikut memeluk Lea.


" Maafkan aku, Mom. Maafkan aku ..." Lea terus meminta maaf karena tak bisa menghentikan tangisan nya.


" Tak apa, sayang. Mommy sangat mengerti perasaan mu, kita sama-sama merasakan kehilangan," kata Belle.


Lalu dia menangkup wajah Lea. Dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.


" Kau akan tetap menjadi putri ku sampai kapanpun, kau mau kan?" ucap Belle.


Lea mengangguk kan kepalanya dengan cepat, lalu mereka kembali berpelukan.


.


.


Erka dan Edrick berada di halaman belakang sambil menikmati makan pagi nya.


" Aku dengar, Leon yang telah menolong Lea kemarin," kata Edrick.


Erka menghentikan kegiatan nya setelah mendengar ucapan dari Edrick.


" Hmmm ... Aku berhutang budi padanya," sahut Erka.


"Bagaimana dengan perusahaan mu disini jika kau menetap di London?" tanya Erka.


" Ada asisten ku yang akan mengurus semuanya. Dan itu semua akan menjadi milik Leangga, kelak."


Lalu 3 wanita pun menghampiri nya. Lea dengan mata sembabnya berusaha tersenyum pada Erka dan Edrick.


" Kau sudah merasa lebih baik, sayang?" tanya Erka.


" Ya," sahut Lea singkat, lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Erka.


" Kita akan membawa mu dan Beby Leangga ke new York. Apa kau mau?" tanya Erka.


Lea hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil fokus dengan makanan nya.


" Apa kau tak keberatan jika meninggalkan tempat ini?" tanya Edrick.


Lea hanya menggelengkan kepalanya.


Erka mengusap lembut puncak kepala Lea lalu mengecup keningnya.


" Daddy tahu kau wanita yang sangat kuat. Dan kau pasti bisa merawat Beby Leangga dan menjadi ibu yang kuat untuk nya," ucap Erka.


" Terimakasih," ucap Lea tersenyum.


" Dimana Beby Leangga, Mom?" tanya Lea.


" Di kamar nya, sayang. Dia sedang tertidur dengan pulas setelah selesai di mandikan tadi."


" Baiklah. Aku akan menghampiri nya, dia belum menyusu pagi ini," kata Lea bangkit dari kursinya.


Lalu kembali masuk kedalam mansion dan berjalan menuju kamar Baby Leangga yang sudah dia siapkan bersama Angre beberapa bulan yang lalu.


Lea menarik nafas nya sebelum dia membuka pintu kamar bayinya. Lalu dia membuka nya perlahan.


Dia mengedarkan pandangannya ke dalam kamar itu. Dan masuk kedalam menuju ranjang bayi.


Lea melihat Beby Leangga yang sudah membuka matanya dengan mulut mungilnya yang seakan mencari sesuatu.


Wanita itu tersenyum dan mengangkat Beby Leangga dan menggendong nya.


" Kau mewarisi wajah tampan Daddy mu, sayang. I love you."


Lea mengusap lembut pipi bayi nya. Dia terus memandangi wajah tampan putra nya yang benar-benar mirip dengan Angre.


Itu membuat hatinya menghangat, seolah dia merasakan kehadiran Angre di sisinya.


Lalu terdengar suara teriakan seorang wanita dari arah ruang tengah. Dan Lea sangat hafal dengan suara itu.


" LEAA!!! AKU DATT__"


" Sssttt ...," ucap Lea sambil meletakkan jarinya sendiri di mulutnya dan menatap kearah Alina yang berdiri di ambang pintu.


" Sorry ..."


Alina masuk kedalam kamar bayi Leangga dengan langkah pelan.


" Apa dia sedang tidur?" tanya alina dengan suara pelan.


" Dia baru saja bangun. Dan sekarang sedang *****," sahut Lea.


" Aku kira dia sudah tidur." Alina mengedarkan pandangannya di kamar itu yang terlihat sangat rapih dan dekorasi nya yang lucu.


" Waah ... Apa kau dan Angre yang mendekorasi kamar ini?" tanya Alina.


" Ya. Kami menyiapkan kamar ini bersama," sahut Lea sendu.


Alina melihat wajah Lea yang kembali sedih dan dia langsung berlutut di hadapan nya.


" Maafkan aku, jika pertanyaan ku mengingat kan mu pada nya," ucap Alina.


" Tidak apa-apa, Al. Jangan khawatir," sahut Lea berusaha tersenyum.


" Ah ya. Aunty bilang, kau akan ke new York?" tanya Alina.


" Ya. Aku menyetujui rencana Daddy yang ingin membawa ku kesana. Bukannya aku ingin melupakan semua kenangan manis ku disini, tapi itu masih sangat menyakitkan untukku saat ini," kata Lea.


" Ya. Kau sudah memutuskan hal yang benar, Lea. Dan aku juga akan kesana karena kak Dev menyuruh ku menangani perusahaan yang disana. aku akan menghampiri mu dan melihat bayi tampan ini setiap hari," kata Alina dengan sikap cerianya.


Lalu mereka pun melanjutkan pembicaraan nya di halaman belakang bersama Belle dan Mona.


.


.


Kini keluarga besar mereka sedang berada di ruang tengah. Ada Thoy dan Martha serta Leon di sana.


Mereka menjenguk Lea dan baby Leangga serta ingin berpamitan untuk kembali ke London sore nanti.


Hubungan Thoy dan Erka masih terjalin dengan baik meskipun dulu pertemanan mereka sempat berjarak karena kasus Leon dan Lea.


" Ternyata kau telah menolong Lea. Aku berhutang budi pada mu," kata Erka.


" Tidak, Uncle. Itu sudah kewajiban kita sebagai manusia untuk saling membantu," sahut Leon.


Lalu Lea datang menghampiri ruangan itu dengan dengan membawa baby lianga di dalam gendongannya.


Dia duduk di sofa tepat di hadapan Leon, mata mereka saling bertumpu namun dengan cepat Lea mengalihkan pandangannya.


Tapi tidak dengan Leon, pria itu dengan terang-terangan menatap Lea.


" Jadi kau sudah memutuskan untuk meninggalkan tempat ini?" tanya Leon.


" Ya. Itu akan membuat ku lebih tenang," sahut Lea tanpa menatap kearah Leon.


" Aku akan sering menjenguk mu," sahut Leon.


" Hmmm," sahut Lea singkat.


Entah kenapa wanita itu masih merasa canggung jika terus ditatap seperti itu oleh Leon.


Lea seakan sudah melupakan masa lalunya tentang Leon. Dia berdamai dengan pria itu karena pria itu sudah menolongnya dan membantunya dengan menemaninya saat melahirkan beby leangga.


Bahkan pria itu merelakan tubuhnya yang dicakar serta dipukuli oleh Lea ketika menahan rasa sakitnya saat melahirkan.


" Boleh aku menggendong nya?" tanya Leon.


Semua orang yang ada di ruangan itu menatap kearah nya.



# Ini si Leon yak. Karena sudah lama gak ketemu jadi mukanya agak beda🤭#


Jangan lupa jempolnya dan komentarnya ya