
"DHIFAAAAAA"
Panggil teman\-teman se\-gengnya, membuat ia yang sedang kesakitan kembali bersemangat mendengar teriakan namanya yang dipanggil oleh para sahabatnya.
\*Untung gue masih ada mereka yang selalu setia menemani gue kapanpun\*.batin Dhifa bersyukur.
"Loh, kaki lu kenapa Div? kesemutan Ya?" tanya Raisa, teman dekat Diva yang paling tercantik di sekolahnya.
" Nggak kok cuma keseleo doang. Tadi gue ga sengaja jatuh dari tangga". balas Dhifa dengan raut wajah tersenyum.
" Untung loe gendut Dhif, kalau nggak... gak kebayang deh Gimana keadaan lu sekarang". Jawab Sarah teman dekat Dhifa yang terkenal dengan mulut pedas nya.
sedangkan Diva hanya menimpali dengan senyum manisnya. "bisa nggak jaga mulut lo dikit aja. Entar kalau dia ngadu sama bokapnya gimana? Makanya mikir dulu dong kalau mau ngomong sama dia jangan asal nyeplos". bisik Jessie teman dekat Dhifa yang paling cantik di sekolahnya.
" iya iya, sakit ni jangan dicubit dong". pinta Sarah kesakitan karena jessie yang mencubit terlalu kencang di pinggangnya.
" Nggak usah diambil hati ya,Sayang!" kata Reno, cowok tersombong di sekolahnya yang kini menjadi pacar Dhifa selama 1 tahun terakhir.
"Iya gue nggak papa kok". kata Dhifa tersenyum kepada sang pacar. sedangkan sama pacar hanya membalas dengan senyum yang dibuat\\-buat nya.
"Oh ya gimana ntar sepulang sekolah kita mampir ke ballions\\-mall. sekalian refreshing otak lah guys persiapan buat ujian bulan depan. gimana? loe ikut dong dhif biar tambah rame". kata jessie mengalihkan pembicaraan.
sedangkan Dhifa tanpa pikir panjang langsung mengangguk menyetujui ajakan mereka. Karena ia merasa bahwa sahabat\\- sahabatnya sangat memperhatikannya.
" ya udah lo duduk aja sana, gue mau balik ke kelas dulu". kata Reno meninggalkan kelas Dhifa.
"gue nyusul Reno dulu ya, sekalian ke kelas dia. gue ada perlu sama Siska". kata Raisa menimpali. Dhifa hanya mengangguk sekilas dan melanjutkan langkah kakinya secara perlahan Karena rasa sakit kakinya yang kian waktu Kian menjalar. nyaris saja ia terjatuh ke jalan ke lantai kalau saja Teo, sang ketua kelas tidak menolongnya barusan. sedangkan teman\\-teman yang lain tak terkecuali Jessy Dan sarah tak ada sataupun diantara mereka yang berniat menolong Dhifa, malahan mereka semua tertawa terpingkal\\-pingkal akibat kejadian barusan.
"kalian rasain gempa ga barusan😂?" teriak salah satu penghuni kelas Dhifa.
"Gila, gajah aja takut woy. apalagi gua🤣.skala nya berapa ya kira kira?" sahut penghuni lain.
" udah, ga usah didengerin omongan mereka. lo nggak papa kan dhif?". tanya Teo khawatir.
"oke, gue apa\\-apa kok. Makasih ya udah nolongin". kata Dhifa tersenyum.
" Gimana kalau gue anterin loe ke UKS aja? ". kata Teo memberi ide. namun buru\\-buru Dhifa menggelengkan kepalanya.
" gue nggak papa kok, Tenang aja gue nggak bakal ngerepotin kalian." tolak Diva lembut.
"yakin?". Tanya Teo kembali. ketika Diva ingin membuka suara untuk menjawab pertanyaan Teo, tapi malah keduluan masuk Bu Dewi yang selalu memberi kejutan soal matematika.
~♥~
Dari kejauhan David bisa melihat Dhifa yang berjalan tertatih\\-tatih dengan raut wajah menahan sakit. Awalnya ia merasa iba dengan kondisiny Dhifa, tapi amarahnya memuncak manakala ia melihat Reno dan ketiga sahabatnya Dhifa dengan santainya berjalan di depan Dhifa tanpa memperdulikan Dhifa yang kesakitan di belakang mereka.
Berbicara mengenai Reno, Ingin rasanya ia menghampiri Reno dan meninju habis muka sok gantengnya, tapi buru\\-buru ia menepis itu semua karena teringat janji terhadap Dhifa.
David merogoh saku dan mengeluarkan handphonenya, dia mengetik satu pesan singkat untuk Dhifa dan mengirimnya. Dari kejauhan ia dapat membaca situasi, pasti pesan penolakan yang akan dikirim Dhifa. Dan jawabannya tepat 100%.
David :
gue deket broadcast
gue buru-buru. Ntar sore aja ya. ngerjain tugas gue!pleaseee🤗
David :
gue nekat!!!
***Dhifa*** :
iya-iya deh, tapi bentar ya. siap aku temenin bestie ku belanja dulu:').
David :
cepet, atau gue samperin.
**Dhifa** :
iya iya iyaaaaaa..
loe tunggu aja disitu, DISITU!!
gue bakal kesana.
dhifa offline!
membaca pesan terakhir Dhifa membuat David, sang cowok es melengkungkan bibirnya ke atas .
*setakut itukah loe sama mereka dhif? gue nggak nyangka*. Batin david
Tanpa menunggu lama, kini Dhifa sudah berada beberapa jarak di depan David. Tentunya dengan langkah kakinya yang tertatih\-tatih. Tak tega, David berjalan ke arah Dhifa dan menuntunnya berjalan ke tempat yang teduh dari sinar matahari dan memberikan botol mineral berisi air kepada Dhifa dan hanya dengan sekali tegukan, air yang diberikan David habis diminumnya.
"Dengan keadaan kayak gitu loe masih ngotot juga buat kemall." kata David menatap lurus ke depan.
"Eum... gue nggak papa kok, ntar juga sembuh sendiri ni kaki". kata Dhifa tersenyum.
"gue nggak setuju!". kata David membantah. "loe ikut gue pulang." lanjutnya tegas.
" gue nggak mau vid. gue tuh mau refreshing dulu bareng sahabat\-sahabat gue. kok lu nggak setuju sih?". kata Dhifa penuh penekanan.
"ikut gue pulang atau enggak?". tanya David dengan nada dinginnya.
"gue nggak mau!!". jawab Dhifa setengah berteriak.
" gue tanya sekali lagi, ikut gue pulang atau engga. Dhifa khustia?" tanya David dengan nada dinginnya yang kali ini sedingin es.
gue jawab apaan ya? duh posisi gue kok kayak anak yang ketahuan pulang malam sama pacarnya sih. miris bener. batin Dhifa kesel.
"Iya deh, gue ikut lu pulang."kata Dhifa pelan namun dapat terdengar di telinganya David yang teliti. " tapi ngomong\-ngomong kayak gue nggak bisa pulang deh sama loe? " kata Diva kemudian.
" Alasan?" tanya David singkat.
"loe kan pergi sekolahnya pakai sepeda motor nih. masa iya gue...." perkataan Dhifa terhenti karena perkataan David yang motong kalimatnya.
" Siapa bilang gua kesekolah bawa motor? tuh lihat di sana!" kata david menujuk ke arah parkiran mobil yang tak jauh dari tempat mereka berada.
Cling!!!
mobil sialan. Gue ngerasa banget kayak diledekin sama tu mobil. Mobil sialan, Gue kutuk loe jadi batu. Arghhhhhh... Mantra sihir gue nggak mempan. Batin Dhifa memaki-maki mobilnya David.
"buruan masuk kemobil!" kata David bangun dari duduknya. sedangkan Dhifa hanya mendecak sebal selama beberapa kali. Berharap David mau mengizinkannya pergi, namun hasilnya nihil. Ia tetap saja pada pendiriannya tak goyah sedikitpun.
*Cih menyebalkan*. Umpat Dhifa dalam hati.
~♥~