
" Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" kata manager toko itu menghampiri Angre.
Angre menoleh pada manager itu dengan ekspresi datar nya.
" T-tuan Angre!" kata manager itu gugup.
Pria itu sangat tahu bahwa Angre penyokong dana terbesar di toko itu. Dan toko itu adalah milik sahabat Angre.
" Mari, Tuan. Kita bicara di dalam ruangan saya," kata manager itu sopan.
" Panggil dulu pegawai mu yang bernama Rina, suruh dia menemani istri ku," kata Angre sambil berjalan menuju ruangan manager.
Manager itu langsung memerintahkan pegawai kasir yang juga mendengar perintah dari Angre.
' Sepertinya pengawas sombong itu akan terkena masalah besar, semoga saja dia di pecat dari toko ini,' batin pegawai itu sambil mencari keberadaan Rina.
.
.
Kini Angre sudah ada didalam ruangan manager toko itu. Dia duduk bersandar di single chair.
" Apa yang membuatmu anda ingin bertemu dengan saya, Tuan?" tanya manager itu.
" Coba kamu periksa cctv yang ada di depan toko dan di dekat meja kasir. Mungkin waktu nya 15 menit yang lalu," kata Angre.
Pria itu langsung menuju meja nya dan mengambil laptopnya. Dia memeriksa cctv nya.
" Kau akan tahu apa yang terjadi sebenarnya tanpa harus aku yang menjelaskan," kata Angre santai.
Manager itu melihat dengan seksama saat Angre memberikan uang tip untuk Rina. Dan melihat saat salah satu pengawas nya merampas uang itu dari tangan Rina secara paksa.
" Gina ...," gumamnya menyebut nama pengawas yang cukup lawas itu dengan nada yang tertahan.
" Lalu apa kiranya yang akan kau lakukan pada pegawai mu itu? dia sudah menindas seluruh bawahannya dan merampas hak mereka. Bukan kah disini sangat di perbolehkan jika pengunjung memberi uang tip pada setiap pegawai yang melayani pelayan dengan sangat baik?" kata Angre panjang lebar.
" Tapi dia pengawas paling lawas disini, Tuan," sahut pria itu.
" Ya. Itu karena kau tak pernah mengetahui kenakalan nya dalam bekerja," sahut Angre.
" Aku ingi kau menangani kasus ini dan bertindak dengan tegas pada pengawas itu. Karena aku sangat tahu, pegawai disini sangat tertekan dengan keberadaan nya. Cepat panggil dia karena aku ingin tahu apa tindakan mu dalam menangani hal ini!!" tegas Angre tanpa bangkit dari kursinya.
" Baiklah, Tuan."
Pria itu langsung menghubungi meja kasir dan memerintahkan nya untuk memanggilkan Gina.
Beberapa menit kemudian.
Tok tok tok
" Masuk!!" kata manager itu.
CEKLEK
" Apa Anda memanggil ku, Pak?" tanya Gina muncul dari balik pintu.
" Hmm ... masuklah."
Wanita itu masuk kedalam ruangan dan melihat kearah Angre yang tak menatap nya.
" Tuan tampan dan kaya raya ini kenapa ada disini? Apa dia pemilik toko ini?' batin Gina menatap kearah Angre.
" Kau tahu apa alasan ku memanggil mu kemari?" kata manager itu.
" Tidak tahu, Pak," sahut Gina.
" Itu karena ulahmu!!" tegas manager itu.
" A-apa maksud Anda, Pak? Aku merasa tidak pernah membuat masalah," sahut Gina kekeh.
" Apa kau yakin tak pernah berbuat masalah disini?" tanya Angre tanpa melihat kearah Gina.
" Aku sangat yakin,Tuan. Aku pengawas lawas disini, aku sudah bekerja selama toko ini buka dan sampai saat ini. Aku tidak pernah membuat masalah ataupun membuat ulah yang merugikan rekan kerja ku, pekerjaan ku selalu baik dan jujur," kata Gina panjang lebar.
Hal itu membuat Angre tertawa sinis.
" Ternyata kau pandai sekali bergulat lidah," sahut Angre.
" Apa maksud Anda, Tuan. Anda cuma pengunjung yang kebetulan berbelanja banyak disini!! itu bukan berarti kau bisa ikut campur dengan masalah yang ada di toko ini!!" sahut Gina tak tak terima.
" Gina!! Jaga ucapan mu!!" bentak manager itu, hingga membuat Gina tersentak.
" Apa saya salah, Pak? dia memang hanya seorang pengunjung yang bahkan hanya sekali berkunjung kemari!!" jawab Gina.
" DIAAMM!!!" teriak manager itu sambil menggebrak meja.
" Kau masih tidak mau mengakui apa kesalahan mu, Gina?" tanya manager itu dengan nada yang sedikit pelan namun penuh penekanan.
" Ya, Pak. Aku tidak pernah berbuat masalah di sini, kau pasti tahu sendiri kan bagaimana kinerja ku yang bagus?" kata Gina masih dengan percaya dirinya.
" Baiklah. Kalau begitu keluar dari tempat ini sekarang juga," kata manager itu.
Gina tersenyum mengejek pada Angre. ' Ternyata pak tua ini sangat mudah di bodohi, dia tidak pernah tahu apa yang sudah aku lakukan di toko ini,' batin Gina.
" Baik, Pak. Terimakasih." Gina langsung berbalik dan berjalan menuju pintu.
" Kemasi semua barang-barang mu. Jangan pernah kembali ke toko ini lagi. Kau ku pecat," kata manager itu dengan suara santai nya.
" A-apa? Saya di pecat?" kata Gina terkejut dan langsung menoleh pada manager itu.
Sementara Angre tersenyum miring tanpa melihat kearah Gina yang memohon pada manager itu.
" Cepat pergi atau perlu ku panggil kan security untuk menyeret mu dari ruangan ini!!" bentak manager itu.
Lalu Gina pun berbalik berjalan menuju pintu. Dia sudah tak bisa lagi membodohi dan membujuk sang manajer.
" Jangan lupa kembalikan uang tip dari semua karyawan yang sudah kau rampas!!" tegas manager itu yang membuat Gina menghentikan langkahnya.
' Jadi dia sudah tahu. Pasti pria ini yang sudah mengatakan hal itu pada pak manager,' batin Gina sambil melirik kearah Angre.
" Aku tidak pernah mengatakan apapun pada manager itu," kata Angre seakan tahu apa isi otak kotor Gina dan membuat wanita itu menoleh kearah nya.
" Kau pasti tidak tahu bahwa ada kamera tersembunyi yang ada di kasir, kan?" kata manager itu dengan sinis.
' Sial. Aku melupakan tentang cctv,' batin Gina geram sambil mengepalkan tangannya.
Lalu wanita itu langsung pergi dari ruangan itu dan menutup pintunya dengan sangat keras.
BRAKK
Manager itu hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan dan sikap tak sopan Gina.
" Kau harus lebih ketat mengawasi pegawai mu. Baiklah, aku pergi dulu," kata Angre beranjak dari kursinya.
" Tunggu, Tuan. Apa Anda bisa menyembunyikan masal ini dari bos besar?" kata manager itu takut.
" Hmmm ... Dan ku harap kau lebih selektif untuk memilih seorang karyawan. Permisi."
Angre langsung keluar dari ruangan itu.
Ketika sudah keluar dari toko itu. Angre mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok istrinya.
Dia menemukan sang istri sedang duduk dan mengobrol dengan Rina di bangku taman. Mereka terlihat sedang bersenda gurau karena terdengar tawa dari keduanya.
"Baby ... ayo kita pulang," kata Angre menghampiri lea.
Lea menoleh pada sang suami dan tersenyum.
" Kenapa kau lama sekali? apa ada masalah di dalam?" tanya Lea.
" Bukan masalah yang besar, dan sekarang sudah ditangani," kata Angre.
Lalu Angre menoleh pada Rina.
" Rina ..." panggil Angre.
Wanita itu langsung menoleh dan menundukkan kepalanya saat Angre menatapnya.
" Ya, Tuan?" sahut Rina.
" Jika ada yang merampas hak mu atau mengganggu pekerjaan mu, jangan hanya diam saja. Kau harus berani melawan dan jangan biarkan dirimu tertindas," kata Angre mengingatkan Rina.
Lalu dia menggandeng tangan Lea menuju mobilnya. Sementara Rina hanya menatap kepergian mereka dengan rasa penasaran nya.
Dalam perjalanan menuju mansion nya, Lea melihat ke arah sang suami yang fokus dengan kemudi nya.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi di toko itu, Baby? kenapa kau lama sekali di sana? bahkan kau sampai menyuruh Rina untuk menemaniku di luar," tanya Lea penasaran.
"Bukan hal yang besar, jangan memikirkan hal itu. Tadi aku hanya melaporkan salah satu pegawai yang bertindak kasar dan tak menyenangkan terhadap bawahannya. itu saja," sahut Angre.
Lea tak menjawab, dia hanya tersenyum dan mengangguk kan kepalanya.
Setelah beberapa menit kemudian, mereka tiba di mansion nya. Para pelayan langsung mengambil barang belanjaan Lea yang ada di dalam mobil.
Sementara Angre dan Lea langsung menuju ruang makan yang sudah ada makanan yang tertata rapi di sana.
Mereka makan siang bersama setelah berbelanja kebutuhan bayi mereka yang begitu banyak.