I'm yours

I'm yours
Pernikahan



Satu minggu kemudian.


Hari pernikahan pun tiba. Leangga menyambut bahagia acara itu, dia memang sangat menunggu momen itu begitu pun dengan Leon.


Setelah beberapa tahu berlalu, akhirnya kesabaran nya berbuah manis. Pernikahan impian yang dulu sempat batal, akhirnya sebentar lagi akan terlaksana.


Takdir benar-benar memberikan kesempatan pada nya. Dia bahkan menutup rapat-rapat hatinya beberapa tahun belakangan hanya karena ingin menantikan takdir ini.


Kabar ini bahkan sudah sampai di telinga keluarga Adelard. Mereka menyambut bahagia kabar itu karena akhirnya cucu mereka akan memiliki keluarga yang utuh.


Mereka sangat tahu kedekatan antara Leon dan cucu nya. Bahkan mereka juga sempat memaksa Lea agar mau untuk menikah lagi karena Leangga membutuhkan sosok daddy.


Pernikahan itu di adakan di hotel milik keluarga Guesson. Hotel berbintang itu kini sudah di dekorasi sedemikian rupa dengan banyak bunga disana.


Tampak para tamu undangan yang hanya dari kalangan sahabat dan kerabat pun sudah datang dan menempati meja masing-masing.


Termasuk keluarga Adelard yang kini sudah bergabung dan hadir di acara itu. Leangga berlari kearah nenek dan kakeknya yang sudah duduk di mejanya dengan di temani oleh Erka dan Mona.


" KAKEEK ... NENEEKK!!" panggil anak itu dengan suara melengking nya.


Sontak membuat para tamu menoleh kearahnya. Belle tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya pada sang cucu tampan nya.


Leangga melompat kearah Belle dan mendekapnya erat. Begitupun dengan wanita paruh baya itu, dia mendekap erat tubuh cucunya itu sambil mencium puncak kepalanya.


" I Miss you, Nek."


" I Miss you to, sayang. Kau bahagia?" tanya Belle melepaskan pelukannya dan menangkup wajah anak itu.


" Yes. I'm so happy," sahut Leangga dengan senyum ceria nya.


.


Sementara di tempat lain. Tepatnya di sebuah kamar, Lea sedang menatap pantulan dirinya di depan cermin. Dia memutar tubuhnya dengan senyuman tipis di bibirnya.


Kini dia sudah selesai di rias. Lalu wanita itu duduk kembali di kursi yang ada di depan cermin.


Wanita itu tampak termenung. Dia merasa gugup, itu jelas terlihat saat dia memilin jari-jari lentik nya. Tanda bahwa dia sedikit gusar.


Sekejap dia mengingat pernikahan pertamanya dengan seseorang yang sangat mencintainya.


" Apakah keputusan ku sudah benar? Apa aku sudah menghianati cinta sejati nya untuk ku?" gumam Lea galau.


CEKLEK


Pintu kamar itu terbuka. Tampak Marta muncul dari balik pintu dan langsung masuk kedalam kamar itu.


Wajah nya tersenyum saat melihat penampilan calon menantunya yang begitu cantik.


Dia berjalan dan mendekati wanita yang tengah duduk di depan cermin. Lea tak menyadari kehadiran Marta, dia sibuk dengan lamunanya.


Tiba-tiba ada seseorang yang memegang bahunya yang terbuka. Hal itu membuat Lea tersentak dan langsung tersadar dari lamunannya.


Dengan cepat dia menoleh dan tersenyum kearah Marta yang berdiri di sampingnya.


" Aunty ..."


" Ssstt ... Momy. Hmmm?" sanggah Marta membenarkan.


Lea tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.


" Kau seperti nya sudah siap, sayang?" kata Marta.


" Hmmm ... Apa para tamunya sudah datang, Mom?" tanya Lea.


Lea langsung menoleh dan menatap kearah Marta.


" Mereka datang?" tanya Lea sekali lagi.


Marta lekas menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Dia melihat perubahan dari wajah Lea. Dan dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh wanita itu.


" Mereka menyambut bahagia pernikahan ini. Karena mereka ingin segera melihat cucunya bahagia dengan sebuah keluarga yang utuh dan juga dua orang tua yang akan menyayanginya," kata Marta hendak menenangkan perasaan gusar Lea.


Wanita cantik itu hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya.


" Ya. Itulah tujuan ku dan juga Leon dalam pernikahan ini," sahut Lea.


TOK TOK TOK


Terdengar suara pintu yang sedang di ketuk oleh seseorang dari luar. Marta segera membenarkan posisi tubuh nya dan mempersilahkan seseorang untuk membuka pintunya.


" Siapa? Masuk saja!!" teriak Marta dari dalam kamar.


CEKLEK


" Nyonya, saya di suruh memberi tahu Anda untuk segera membawa keluar pengantin wanita nya," kata seorang pelayan.


" Ya. Sebentar lagi aku akan membawa pengantin nya keluar."


Pelayan itu langsung menutup kembali pintu nya setelah berpamitan pada Marta.


Marta menoleh dan memegang bahu Lea.


" Kau siap, sayang?" tanya Marta dan hanya dibalas anggukan oleh Lea.


Wanita itu merasa tenggorokan nya tercekat sahingga tak mampu bersuara.


Marta memegang telapak tangan Lea yang kini mulai terasa dingin.


" Kau gugup?" tanya nya lagi.


Lea hanya menganggukkan kepalanya cepat. Marta tersenyum dan meraih gelas yang terisi air putih di meja.


Dia memberikan nya pada Lea agar wanita itu meminum air itu, agar bisa membuatnya lebih tenang.


" Minumlah dulu, sayang."


Lea mengangguk dan menerima gelas itu dari tangan Marta. Dia meneguk air putih itu sampai habis tak tersisa.


" Thank you, Mom."


Lea memberikan gelas kosong itu pada Marta.


Lalu Marta meletakkan gelas itu di tempat nya kembali. Dia memegang tangan Lea dan menuntunnya keluar dari kamar.


.


.


Di tempat lain. Tepatnya di di tempat acara berlangsung. Leon berdiri dengan tubuh tegap nya yang telah terbalut dengan setelah jas berwarna putih.


Pria itu terlihat begitu tampan dan gagah. Dia berdiri sambil terus menatap kearah pintu dimana Lea nanti akan muncul.


Sesekali dia melihat kearah jam tangan mahal yang melingkar di lengannya. Jam menunjukkan pukul 9 pagi dimana seharusnya pernikahan itu sudah di mulai.


Wajah nya tampak gusar dan terlihat khawatir karena mempelai wanitanya tak juga muncul.