
Lea masih terpaku di ambang depan pintu dengan ekspresi datar nya. Leon menoleh kearah lira yang sedang tertidur sambil menggenggam tangan nya.
Lalu perlahan Leon melepaskan tangan sang adik dari tangan nya. Dan Leon menghampiri Lea yang masih terpaku di depan pintu.
Pria itu menarik tangan Lea masuk kedalam kamar dan menutup pintunya. Leon menggandeng tangan Lea menuju balkon yang ada di kamar lira.
" Kau pasti terkejut melihat ku ada disini," kata Leon berdiri di pagar pembatas balkon.
" Ya, aku sedikit terkejut," jawab Lea menatap kearah pemandangan di depannya.
"Tadi saat aku dalam perjalanan pulang, aku sempat menelpon mu untuk mengabari kepulangan ku. Tapi kau tak mengangkat nya," kata Leon menjelaskan.
" Maaf, aku belum melihat ponsel ku sejak tadi," sahut Lea masih canggung.
" Bagaimana kabar mu?" tanya Leon melihat kearah Lea.
" Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Dan aku tak perlu menanyakan kabar mu karena kau terlihat baik-baik saja," kata Lea menoleh pada Leon.
Leon tersenyum miring mendengar perkataan Lea. Lalu mereka terdiam sejenak.
Lea mengambil rokok di sakunya lalu menyalakan nya. Leon melihat kearah Lea yang sedang merokok dengan tersenyum getir.
" Kapan kau datang?" tanya Lea sambil menghisap rokok nya.
" Baru saja, mungkin satu jam yang lalu," sahut Leon sambil mengambil rokok yang dipegang oleh Lea, lalu ikut menghisap rokok itu.
Lea menoleh pada Leon dan tersenyum saat Leon menghisap rokok nya.
" Kau tak melarang ku merokok?" tanya Lea.
" Tidak. Karena aku sendiri merokok, yang terpenting kau tidak boleh sering merokok," kata Leon sambil menghisap rokok itu lagi.
" Aku merokok hanya saat merasa jenuh," sahut Lea mengambil lagi rokok itu dari tangan Leon, lalu menghisapnya.
" Jadi kau merasa jenuh saat bersama ku?" tanya Leon dengan menyipitkan matanya melihat kearah Lea.
Lea tertawa, lalu menghembuskan asap rokoknya kearah Leon.
" Aku merindukan tawa mu," kata Leon mengambil lagi rokok itu dan menghisapnya, lalu langsung membuang nya.
Lea hanya tersenyum mendengar ucapan dari Leon.
" I Miss you," kata Leon menggenggam tangan Lea.
Wanita itu menatap nya tanpa ekspresi.
" I Miss you so much," kata leon mencium punggung tangan Lea.
Alea tersenyum. Lalu dia langsung memeluk erat pria tampan yang menjadi tunangan nya itu.
" I Miss you to," kata Lea dalam pelukannya itu.
Leon membalas pelukan dari Lea, dia mengusap punggung wanita cantik itu sambil mencium puncak kepala nya.
Mereka terus berpelukan tanpa ada kata yang keluar dari mulutnya, dan hanya menikmati pelukan itu.
" Aku minta maaf, Aku benar-benar minta maaf atas keegoisan ku. I'm so sorry," kata Lea dalam pelukan itu.
Leon melepas pelukannya, dia menangkup wajah wanita yang sangat dia cintai lalu mencium kening nya.
" Aku memang sangat kecewa padamu saat itu, dan hatiku begitu sakit saat kau menolak untuk menikah dengan ku dan lebih memilih kuliah mu. Padahal meskipun kita menikah kau masih bisa sambil kuliah dan itu bukan hal yang memalukan, tapi kau malah menolak ku," kata Leon mengutarakan isi hatinya.
Lea menatap mata Leon yang terlihat jujur dengan apa yang di utarakan. Dan Lea mengambil tangan Leon lalu menciumnya.
" I'm sorry, sekali lagi aku minta maaf," kata Lea sendu.
" Kapan kau akan kembali lagi ke Korea?" tanya Lea sambil mengusap tangan Leon yang ada di pipinya.
" Mungkin lusa," sahut Leon.
" Terimakasih sudah menjaga hatimu untukku," kata Leon mencium punggung tangan Lea.
" Karena aku mencintaimu," sahut Lea sambil melihat kearah Leon yang terus mencium tangannya.
" Jadi kau lebih tertarik mencium tangan ku?" kata Lea.
Leon tertawa mendengar ucapan dari Lea dan dia menatap nya.
Perlahan Leon mengusap pipi Lea dan menciumnya.
Lalu Leon mengusap bibir Lea, dan perlahan dia mencium bibir itu. Lea mengalungkan tangannya di leher kokoh Leon dan membalas ciuman nya.
Mereka berciuman lama, seakan melepas rindu yang terbendung dalam hati mereka. Dan melupakan masalah yang menurut Lea hanya sepele.
Tapi tidak dengan Leon, dia merasa sangat bersalah pada Lea karena dia cukup sering berciuman panas dengan para wanita ketika di Korea.
' I'm sorry, Honey. Aku berjanji tidak akan menghianati mu,' batin Leon.
.
.
Sementara itu di ruang tengah, semua keluarga yang berkumpul tampak sedang mendiskusikan tentang hubungan Leon dan Lea.
" Kita percepat pernikahan mereka," kata Thoy.
" Ya, aku setuju. Mungkin itu yang terbaik untuk hubungan mereka," sahut Erka.
" Bagaimana kalau Lea tetap menolak untuk menikah?" tanya Marta.
" Tidak, dia tidak akan bisa menolak jika kita sudah sepakat untuk hal ini," jawab Mona.
" Baiklah, Kita adakan pesta pernikahan ini minggu depan," kata Thoy.
" Ya, aku setuju. Lebih cepat lebih baik, dan kita tak boleh menundanya lagi," sahut Erka.
Lalu terlihat Lea dan Leon menuruni tangga dengan bergandengan tangan. Semua keluarga tampak tersenyum melihat pemandangan itu.
" Aunty, Uncle. Bagaimana kabar kalian?" tanya Leon sambil mencium punggung tangan sang calon mertua.
" Kabar kita baik, Leon. Kau bagaimana? dan pekerjaan mu, apakah lancar?" kata Mona sambil tersenyum.
" Aku baik, Aunty. Dan pekerjaan ku disana sangat lancar," sahut Leon duduk di sofa.
" Ada yang ingin kami bicarakan," kata Thoy menatap Leon dan Lea secara bergantian.
Leon dan Lea saling menatap.
" Ini tentang hubungan kalian," kata Erka menimpali.
" Ada apa dengan hubungan kami, Pap?" tanya Lea tak mengerti.
Sementara Leon, dia terlihat sangat tegang karena takut kelakuan nya selama di Korea di bongkar oleh kedua orang tuanya.
" Kami sudah sepakat, untuk mempercepat pernikahan kalian, minggu depan," kata Thoy dengan nada yang tegas.
" What ... Minggu depan?" pekik Leon dan Lea secara bersamaan.