I'm yours

I'm yours
Alina



Lea dan Alina kini duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu. Mereka saling berbagi cerita dan menghabiskan waktu disana melepas rasa rindu dari keduanya.


Alina sekarang menetap di London. Dan karena kesibukan nya di perusahaan membuat wanita itu sangat jarang menemui Lea.


Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon. Dan itu pun juga jarang karena sama-sama di sibukkan dengan kegiatan nya masing-masing.


" Kenapa wajahmu seperti itu, Al? apa ada yang sedang mengganggu pikiran mu?" tanya Lea menatap wajah sendu Alina.


" Ya. Bisa kita ke salah satu kamar disini saja? aku ingin mencurahkan isi hati ku padamu," sahut Alina dengan bibir yang mengerucut.


Lea hanya terkekeh dan menggeleng kan kepalanya.


" Baiklah. Aku juga ingin mengganti gaun ku," sahut Lea sambil beranjak dan menarik tangan Alina.


Mereka berjalan keluar dari aula itu. Dan masuk kedalam lift. Leon hanya melihat kepergian sang istri dan sahabat nya itu.


Pria itu hanya membiarkan nya karena dia tahu bahwa mereka butuh waktu untuk saling melepas rasa rindu nya.


.


.


Kini mereka sudah ada di dalam kamar yang tadinya di tempati Lea untuk merias diri nya. Dan disana juga sudah terpajang gaun yang akan di pakai Lea di malam harinya.


" Al ... Bisa kau membantuku membuka kan resleting gaun ini?"


" Tentu, Honey," sahut Alina yang langsung mendekat kearah punggung Lea dan membuka resleting nya.


Gaun itu seketika terjatuh ke lantai dan Lea langsung memakai bath rub nya yang ada di ranjang karena dia hanya mengenakan CD nya saja.


" Kau mempunyai postur tubuh yang sangat di inginkan oleh pria, Honey. Pantas saja banyak pria yang ingin mendekati janda seksi seperti mu," kata Alina yang membuat Lea langsung memukul pelan lengan sahabat nya itu.


Lea memiliki postur tubuh yang tinggi bak seorang model. Sementara Alina memiliki postur tubuh yang mungil dan lebih pendek dari Lea.


Namun jangan remehkan hal itu. Karena bentuk mungil Alina tidak termasuk dengan dada dan bokong nya.


Alina memiliki bentuk dada yang padat berisi dan bentuknya yang terbilang cukup montok. Bahkan pinggul dan bokong nya yang sintal.


Itu membuat dirinya terlihat menggemaskan dan juga hot. Banyak pria yang ingin mendekati wanita yang tak tersentuh itu.


Tapi semua terhempas begitu saja saat Dev turun tangan untuk memperingati semua pria yang mendekati sang Adik.


.


Lea juga melakukan hal yang sama karena dia merasa tubuhnya sangat lelah.


Mereka terdiam dan sama-sama menatap langit-langit di kamar itu. Perlahan Alina menghembuskan nafasnya panjang seakan melepas sesak di dadanya.


" Aku patah hati, Lea."


Lea menoleh dan menatap wajah sayu sahabat nya itu yang masih menatap langit-langit kamar itu.


" Aku tahu. Pasti karena kakak mu, ya kan?" sahut Lea.


Wanita itu cepat menggeleng kan kepalanya. Dan menoleh kearah wanita yang berbaring di samping nya.


" Lalu?" sahut Lea penasaran.


Alina menghela nafas nya kasar dan mulai menceritakan hal itu pada Lea.


" Aku mengenal nya di perusahaan. Dia sangat baik dan kakak juga mengenal nya dengan baik. Dia salah satu pegawai cekatan di perusahaan dan kakak membiarkan aku berteman dengan nya. Dia sangat baik dan selalu membantuku, kita selalu makan siang bersama, melewati hari bersama hingga perasaan ku mulai tumbuh padanya."


Lea hanya diam. Dia terus mendengar kan dan tak menyela perkataan Alina.


" Hingga suatu hari aku melihat seorang wanita cantik yang bergandengan tangan dengan nya. Dan ternyata wanita itu adalah tunangan nya," lanjut Alina.


Lea membalik tubuhnya hingga menghadap kearah Alina. Dia mengusap lengan wanita itu.


" Aku begitu bodoh dengan membiarkan perasaan ku tumbuh. Tanpa bertanya dulu apakah dia memiliki kekasih."


" Lalu? apa pria itu tak pernah mengatakan bahwa dia sudah memiliki seorang tunangan?" tanya Lea.


" Aku rasa dia selalu ingin memberi tahukan hal itu padaku. Tapi aku selalu menyela pembicaraan nya hingga tiba saat dia langsung mengenalkan wanita itu padaku," sahut Alina dengan air mata yang mulai menetes.


" Aku mencintai orang yang salah, Lea. Bahkan hari ini juga hari pernikahan nya," ucap Alina yang kini sudah terisak.


Lea mendekatkan tubuhnya pada tubuh Alina. Dia memeluk sahabatnya yang saat ini sedang patah hati karena kebodohan nya sendiri.


" Mungkin dia memang bukan takdir mu," ucap Lea sambil mengusap punggung Alina.


' Oh my. Tidak ada yang tahu takdir itu seperti apa. Bahkan kak Dev sangat ketat mengawasi Alina tapi tetap saja adik kesayangannya itu bisa sakit hati karena pria,' batin Lea.


Alina Zaquena Bramasta