I'm yours

I'm yours
30 ( Kejutan)



" You Will be a father. Are you ready to be a father?"


Pria itu terpaku dan mencoba mencerna maksud dari tulisan itu.


" Are you serious, Beby? am i going to be a father?" tanya Angre dengan nada yang terkejut.


Lea langsung menyingkirkan balon itu dari wajah nya. Wanita itu menangkup wajah sang suami yang matanya kini sudah berkaca-kaca.


" Yes. You Will be a father. I'm pregnant!!" sahut Lea dengan penuh kebahagiaan sambil menunjuk kan hasil tesnya yang dia lakukan tadi pagi.


Sontak Angre langsung memeluk tubuh sang istri sembari mengangkat nya tinggi. Dia memutar-mutar tubuh Lea saking senangnya.


" Stop !! kepala ku pusing!!" teriak Lea


" Sorry - sorry, Beby. Aku sangat senang mendengar kabar bahagia ini. I love you. I love you so much," kata Angre tanpa menurunkan tubuh Lea dari gendongannya.


Lea tak langsung menjawab. Dia membelai lembut wajah sang suami yang sudah sangat mencintai nya dan menatap lekat mata nya.


" I love you to," ucap Lea akhirnya.


Angre masih terpaku saat mendengar ucapan dari mulut sang istri. Dia menatap lekat manik mata Lea seakan mencari kebenaran di balik tatapan nya.


" Katakan sekali lagi," ucap Angre lirih.


" I love you ... I love you ... I love you," ucap Lea lalu mengakhiri nya dengan kecupan di bibir Angre.


Pria itu langsung memutar-mutar tubuh Lea dalam gendongan nya. Sehingga wanita itu berteriak.


" Aaakk ... hentikan Angre!! kepalaku pusing, aku ingin muntah!!" teriak Lea.


Sontak Angre langsung menghentikan aksinya dan merebahkan Lea di sofa.


Dia menangkup pipi Lea yang memang sedikit pucat.


" Oh my. Sepertinya aku tidak akan pernah mengucapkan kata-kata itu lagi jika akhirnya akan seperti ini," kata Lea sambil memegang perut nya yang kembali mual.


" Sorry Beby. I'm so sorry. Aku sangat senang mendengar kau akhirnya mengucapkan kata-kata itu," kata Angre lalu menghujani ciuman di seluruh wajah Lea.


" STOOPP!! Aku mual." Wanita itu langsung berlari kearah kamar mandi.


Angre mengikuti nya dari belakang.


" Uuuweeekkk ... Uuuweeekkk."


Lea memuntahkan kembali isi perutnya.


Angre dengan setia menemani sang istri sambil memijat tengkuk lehernya.


Setelah dirasa sudah selesai. Angre mengangkat tubuh Lea dan mendudukkan nya di closed.


Dia menatap wajah Lea yang sedang lemas dan merah karena muntah-muntah.


" I love you. Jika boleh meminta, biar kan aku saja yang mengalami hal ini. Aku tak tega melihat mu seperti ini, Beby," kata Angre yang sangat khawatir dengan kondisi sang istri.


Alea hanya menanggapinya dengan tersenyum. Lalu Angre mengambil handuk kecil yang ada di sana dan membasah kan kain itu.


Lalu dia mengusap wajah sang istri dengan kain itu. Lea menatap wajah Angre yang sangat dekat dengan wajahnya.


Dia melihat cinta yang begitu besar dari tatapan mata Angre.


CUP


Lea langsung mencuri kecupan dari bibir sang suami dengan cepat.


" Oh my. Beby ..." ucap Angre.


" Aku lapar. Aku sangat lelah sejak pagi selalu mual dan muntah," kata Lea.


" Jadi kau belum makan sejak pagi?" tanya Angre dan langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Lea.


" Oh my. Maaf aku meninggalkan mu pagi-pagi tadi dan tak menemani mu," ucap Angre sambil mencium kening Lea.


" Aku tidak butuh maaf. Aku butuh makan!! Sekarang!!" teriak Lea dan membuat Angre tertawa melihat tingkah Lea yang manja dan tak seperti biasanya.


Lalu mereka pun langsung pergi dari ruangan itu. Lea selalu melingkarkan tangannya di lengan Angre. Dia terlihat sangat manja dan tak seperti biasanya yang kaku dan cuek.


Para pegawai yang melihat sikap Lea yang tak seperti biasanya terhadap sang suami merasa heran.


Karena biasanya Lea tak mau terlihat bermesraan jika sedang berada di perusahaan. Karena dia tak mau di anggap istri yang manja.


Ketika di dalam mobil pun. Lea masih bergelayut manja di lengan Angre. Pria itu hanya bisa pasrah dan membiarkan hal itu karena memang sangat jarang wanita itu bermanja-manja pada nya.


.


.


Kini Lea dan Angre sedang berada di restoran di dekat perusahaan Adelard.corp.


Lea tampak sangat lahap menyantap makanan yang dia pesan. Angre dengan setia menemani sang istri, pria itu tengah menatap wanita yang sedang makan dengan lahap di depan nya.


" Setelah ini kita ke rumah sakit untuk memeriksa kehamilan mu, oke!"


Lea hanya menganggukkan kepalanya sambil terus mengunyah makanannya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Angre tampak selalu menggenggam tangan Lea dan sesekali menciumnya.


" Kau terlihat sangat bahagia," kata Lea sambil melihat kearah pria yang selalu menggenggam tangan nya.


" Ya. Aku sangat sangat sangat bahagia. Thank you, Beby." Angre lagi-lagi mencium tangan Lea bertubi-tubi.


Setibanya di rumah sakit. Angre dengan sigap membuka kan pintu mobil untuk Lea.


Pria itu menggandeng tangan Lea masuk kedalam rumah sakit.


" Beby, aku ini hamil bukan sedang sakit!" tegas Lea.


" Aku hanya tidak ingin kau sampai terjatuh, Beby. Aku akan menyerahkan diriku untuk melindungi mu dan bayi kita bahkan nyawa ku asal kan kau tetap baik-baik saja."


Lea menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan dari Angre. Wanita itu menatap tajam pria itu.


" Ada apa? apa aku salah bicara?" kata Angre yang tak sadar dengan ucapannya.


" Jangan bicara tentang mengorbankan nyawa, aku tidak suka!" kata Lea ketus.


Wanita itu melepaskan tangan Angre yang melingkar di lengannya dan berjalan dengan cepat meninggalkan Angre yang masih terpaku di tempatnya.


" Dia ngambek hanya karena aku mengatakan hal itu. Huuffft ... Dasar bumil," gumamnya sambil berjalan cepat menyusul sang istri.


" Beby !! Pelan-pelan jalan nya!! nanti kau terpeleset!" teriak Angre di belakang Lea.


Wanita itu seakan tak mendengar kan teriakan sang suami dan terus berjalan cepat menuju ruangan dokter yang akan memeriksa kehamilan nya.


Kini Lea dan Angre sudah ada di dalam ruangan dokter itu. Lea sedang berbaring di ranjang dan menghadap kearah monitor yang menempel di dinding.


" Kehamilan ini masih sangat muda. Masih sekitar 5 minggu. Lihat lah titik kecil ini. Ini adalah calon bayi anda," kata dokter wanita itu menjelaskan.


Angre menatap lekat layar monitor itu sambil menggenggam tangan sang istri. Lea tersenyum melihat ekspresi sang suami yang terlihat sangat bahagia.


" Kalian harus menjaga janin kalian dengan sangat ekstra. Ini masih sangat rawan dan aku akan memberikan obat menguat kandungan untuk nyonya Lea."


" Baiklah. Terimakasih, Dokter," kata Lea tersenyum.


Angre mencium Lea dan membantu nya untuk turun dari ranjang.


Lalu mereka duduk di kursi yang ada di seberang meja dokter.


" Ini resep obat nya. Nyonya Lea harus banyak memakan makanan yang bernutrisi dan hindari makanan siap saji karena itu akan mempengaruhi pertumbuhan janin," kata dokter itu.


" Aku masih bisa bekerja dan melakukan aktifitas seperti biasanya kan, Dokter?" tanya Lea.


" Tidak!!" jawab Angre tegas.


" Aku bertanya pada Dokter Rini!" jawab Lea tegas.


Dokter Rini hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


" Kamu masih bisa melakukan aktivitas seperti biasanya. Asalkan itu tidak membuat mu stres dan kecapean. Serta tak boleh mengangkat beban yang berat," kata dokter Rini.


" Kau dengar sendiri, kan??" kata Lea.


" Tetap saja. Kau tak boleh bekerja karena jika kau bekerja, kau akan stres dan kecapean!!" tegas Angre.


Lea menatap pada Angre sambil mencebik.


" Lalu ... Apa kita masih bisa bercinta, Dokter?" tanya Angre yang langsung mendapatkan cubitan di pahanya dari Lea.