
Kini Alina sudah berada di dalam ruangannya, dia duduk di kursi kebesaran nya dan memeriksa semua dokumen yang ada di mejanya.
Lalu terdengar dering telepon dari dalam tas kecilnya. Awalnya dia hanya mengabaikan panggilan itu, tapi karena dia merasa sangat terganggu dengan suara dari ponsel nya dia pun mengambil ponsel itu dari dalam tasnya.
Dia melihat kearah layar ponselnya dan melihat nama Alea disana. Senyumnya tersungging dan dia langsung menggeser tombol berwarna hijau hingga membuat panggilan itu tersambung.
" Hallo ... Honey!"
Alina mengangkat panggilan itu sambil kembali melihat kearah dokumen nya.
" Al ... apa nanti siang kau ada waktu?" tanya Alea dari seberang sana.
" Sepertinya ada sedikit waktu senggang tapi mungkin hanya dua jam saja karena setelah makan siang aku ada meeting di perusahaan lain," sahut Alina.
" Ada apa, Lea? apa ada hal yang penting?" tanya Alina.
" Ya. Aku membutuhkan mu, Al. Aku ingin menceritakan sesuatu pada mu dan hanya padamu. Hanya kau yang bisa menjadi pendengar yang baik untuk ku dan kau yang bisa menjaga rahasia ku," sahut Lea dari seberang telepon.
Alina tampak mengangkat pandangannya dengan kening yang berkerut. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kebesaran nya.
" Ada apa, Lea? apa ada masalah? apa kau sedang bertengkar dengan Leon?" tanya Alina penasaran.
" Tidak - tidak. Bukan tentang Leon, Al. Ini tentang masalah lain, dan masalah ini cukup serius."
Alina tampak berpikir dan lekas membuka suara nya.
" Lalu apa Leon sudah tahu tentang masalah itu?" tanya Alina.
" Tidak. Aku ingin meminta pendapat mu dulu sebelum memberitahu masalah ini pada nya," sahut Lea.
" Hhmmm ... Baiklah. Nanti kita bertemu di restoran biasa pada jam makan siang," sahut Alina sambil melihat kearah jam tangan nya.
" Hmmm ... Aku akan menunggumu disana, Bye." Alea langsung memutuskan panggilan itu.
Alina tampak berpikir sejenak dan meletakkan kembali ponselnya di meja.
" Ada apa dengan Lea? masalah apa yang dia hadapi saat ini? sepertinya itu bukanlah masalah biasa," gumam Alina sambil memainkan bolpoin di tangan nya.
To tok tok
Terdengar ketukan pintu di ruangan Alina.
" Masuk!!"
CEKLEK
Pintu pun terbuka dan muncullah Nina, asisten dari Alina.
" Semua staf dan juga perwakilan dari perusahaan x sudah menunggu di ruangan meeting, Nona."
Nina membawa kan berkas yang di pegang oleh Alina dan dia mengikuti langkah anggun Alina dari belakang.
Kini Alina sudah berada di ruang meeting. Wajahnya tampak sangat serius dan tak berekspresi. Kaca mata bening nya bertengger di hidung mancung nya dan itu membuat dirinya terlihat sangat menggemaskan.
Seseorang yang duduk di seberang Alina tampak menatap nya dengan intens. Tapi Alina tak menghiraukan hal itu karena dia sangat fokus dengan jalannya meeting itu.
' Your so beautiful, Alina. Dan aku tak akan membiarkan siapapun untuk memiliki mu selain aku. Termasuk pria yang bernama Mike itu,' batin Krish.
Tiga jam berlalu. Dan akhirnya meeting itu pun berakhir. Semua tampak bersalaman dan langsung keluar dari ruangan meeting.
Krish menghampiri Alina dan menjabat tangan nya.
" Semoga kerja sama ini berjalan dengan baik, Nona Alina sayang."
Alina tampak mengerutkan keningnya dan menatap tajam mata nakal Krish.
Dia langsung melepaskan jabatan tangan nya dan tak menjawab ucapan dari pria itu.
Dia langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan meeting bersama Nina yang mengikuti nya dari belakang.
Nina melihat perubahan di wajah cantik Alina serta ketegangan dari sang CEO.
Namun dia tak berani untuk bertanya meskipun hubungan nya dengan Alina sama seperti seorang sahabat.
.
.
Kini Alina sudah ada di ruangan nya. Wanita cantik itu langsung mendarat kan bokongnya di kursi kebesaran nya.
Dia juga menyandarkan tubuhnya di kursi itu sambil memijat batang hidungnya. Nina masih berada di ruangan itu dan tampak memperhatikan wajah lesu sang CEO.
" Apa Nona sedang pusing? atau Nona mau saya buat kan minuman?" tanya Nina sambil membereskan berkas-berkas yang ada di meja sang bos.
Alina membuka matanya dan melihat kearah Nina.
" Ya. Buat kan aku minuman hangat, Nin."
Nina lekas menganggukkan kepalanya dan dia langsung keluar dari ruangan sang bos. Alina memutar kursi nya kebelakang dan menghadap kearah dinding kaca besar disana.
" Dia kembali untuk mengusik kehidupan ku," gumam Alina.
Dan ponselnya pun kembali berdering. Dia membiarkan hal itu dan tak melihat kearah ponsel nya dimana ada nama Mike disana.
Karena panggilan nya tak kunjung di angkat membuat Mike sedikit merasa khawatir dengan sang calon istri.
" Sepertinya aku harus pergi ke perusahaan nya untuk memastikan apa dia baik-baik saja."