
Seorang ibu mana yang kuat mendengar putra nya meninggal dunia. Bahkan dia sudah hampir 2 minggu tak bertemu dengan putra nya.
Dan sekarang dia malah mendengar bahwa putranya sudah tiada.
Edrick menoleh dan melihat sang istri yang terduduk di atas lantai karena tak sanggup lagi untuk berdiri. Dia menghampiri sang istri dan langsung memeluk nya.
Mereka menangis dan saling berpelukan di atas lantai yang dingin itu. Mereka tak menyangka akan kehilangan putra nya dengan secepat ini.
Lalu mereka berjalan ke ruangan jenazah untuk melihat jasad Angre.
Belle dan Edrick berjalan dengan perlahan kearah ranjang dimana jenazah Angre terletak. Diikuti oleh Erka, Lea dan Mona di belakangnya.
Perlahan Edrick membuka kain putih yang menutupi wajah putra nya.
Mereka langsung menangis histeris saat melihat wajah pucat Angre yang sudah terlelap panjang. Matanya tertutup dengan rapat, bibirnya yang memutih tersenyum damai.
Jasad itu terlihat begitu tampan meskipun ada memar ke biruan di pelipis dan pipinya.
Belle langsung tak sadarkan diri setelah menangis histeris saat melihat wajah sang putra yang kini telah tiada. Dengan cepat Leon dan Dev yang berdiri di ambang pintu membopong tubuh Belle keluar dari ruangan itu.
Edrick menangis sambil memeluk erat tubuh putranya untuk yang terakhir kalinya. Begitu pun dengan Lea. Wanita itu berdiri dan memeluk kaki suami nya.
Lea seakan tak berhenti menangis. Sejak kejadian itu dia terus menangis sampai dia berhasil melahirkan bayinya.
Semua yang ada di sana menangis. Tak di sangka Angre akan pergi dengan secepat itu tanpa menunggu kelahiran putra nya.
.
.
Kini jasad Angre sudah di makamkan. Lea dan bayinya pun sudah keluar dari rumah sakit karena kondisi ibu dan bayi nya sehat.
Namun Dokter Rini juga ikut pulang ke mansion keluarga Angre untuk memastikan keadaan Lea dan bayinya.
Lea sedang menyusui bayi nya di kamar nya. Dia menatap wajah mungil Leangga yang sangat mirip dengan daddy nya.
Tiba-tiba air matanya menetes. Dia kembali menangis sambil menatap ke sekeliling kamar yang menjadi saksi bisu kisah cinta Lea dan Angre dan terdapat banyak kenangan disana.
Dokter Rini masuk kedalam kamar Lea dan melihat Lea kembali menangis. Dia mengambil bayi Leangga yang sudah tertidur pulas dan meletakkan nya di samping Lea.
Lalu dia memeluk erat Lea.
" Ikhlas kan dia, Lea. Jika kau terus menangisi nya, jiwanya tidak akan tenang disana," kata dokter Rini.
Lea hanya menganggukkan kepalanya sambil mengusap air matanya yang tak henti mengalir.
"Terlalu banyak kenangan disini, Dokter. Aku tidak tahan bila terus tinggal disini dengan semua kenangan yang ada. Itu sangat menyakitkan bagiku," ucap Lea lirih.
" Aku mengerti hal itu. Sekarang minum vitamin mu, karena kau harus memiliki stamina yang kuat untuk merawat baby Leangga, hmmm."
Dokter Rini memberikan obat vitamin dan air minum pada Lea. Dan meninggalkan kamar itu setelah melihat Lea sudah tertidur pulas.
.
Dokter Rini keluar dari kamar Lea dan menghampiri semua orang yang ada di ruang tengah.
" Bagaimana keadaan nya, dokter?" tanya Erka.
" Dia sudah tertidur setelah meminum obatnya. Ada yang ingin aku sampaikan pada kalian. Ini menyangkut mental Lea," ucap dokter Rini.
Semua orang yang ada di ruangan itu menatap kearah dokter Rini.
" Ya. Katakan, Dokter."
" Bawa dia pergi dari tempat ini. Tepatnya dari negara ini."
Semua tampak terkejut mendengar ucapan dari dokter Rini.
" Terlalu banyak kenangan di sini. Dan itu sangat melukai hati Lea karena dia kembali mengingat semua kenangan nya bersama suaminya disini."
Semua tampak mendengarkan penjelasan dari dokter Rini dengan serius.
" Aku takut, jika dia mengalah Beby blues. Jadi kita harus mencegah nya sebelum itu terjadi. Jangan biarkan dia sendiri, karena dia membutuhkan seseorang yang bisa mengalihkan pikirannya agar tak memikirkan kematian sang suami," ucap dokter Rini.
" Saran ku. Bawa dia keluar dari negara ini. Karena dia sendiri yang mengatakan jika dia merasa tersiksa jika berada di dalam lingkup kenangan nya ini. Baiklah, aku permisi."
Dokter Rini langsung pamit mengundurkan diri dari mansion itu setelah memberikan saran nya.
.
.
Kini di mansion keluarga Adelard hanya ada orang tua Lea dan Angre. Mereka sedang mendiskusikan tentang apa yang di sarankan oleh dokter Rini.
" Aku akan membawa nya ke New York," kata Erka.
" Bukankah kau masih ada pekerjaan di Afrika Selatan, Er?" tanya Edrick.
" Ya. Tapi urusan disana sebentar lagi akan selesai. Jadi aku hanya akan memantau nya dari jauh," sahut Erka.
Lalu terdengar tangisan bayi Leangga dari dalam kamar Lea.
" Biar aku yang menghampiri nya," kata Belle bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar Lea.
Belle membuka pintu kamar Lea dengan perlahan. Dia melihat kearah ranjang dimana Lea masih terlelap.
Dengan hati-hati Belle mengangkat tubuh mungil Beby Leangga dan membawanya keluar setelah mengambil botol susunya.
Semua orang yang duduk di ruang tengah melihat kearah Belle yang menggendong Beby Leangga.
Lalu Belle duduk di sofa dengan mendekap erat Beby Leangga dan memberikan susunya.
Edrick menghampiri Belle dan melihat Beby Leangga dari dekat.
" Dia sangat mirip dengan Angre," kata Edrick lirih sambil mengusap lembut pipi gembul Beby Leangga.
" Ya. Angre seakan lahir kembali dengan berwujud kan putra nya," sahut Belle.
" Aku setuju jika kalian akan membawa Lea dan Beby Leangga ke new York. Karena aku dan Belle akan menetap di London, jadi itu akan membuat kita lebih dekat jika ingin mengunjungi cucu kami," ucap Edrick.
" Ya. Aku juga setuju. Kasihan Lea jika dia harus ada di sini sendiri. Pasti banyak kenangan mereka di sini meskipun pernikahan mereka belum genap satu tahun," sahut Belle.
" Baiklah. Jika kalian setuju dengan usulan ku tadi, kita tunggu keadaan Lea stabil dulu baru kita akan berangkat ke new York."
Semua menganggukkan kepalanya mendengarkan keputusan dari Erka.
Belle meletakkan Beby Leangga ke ranjang bayi di kamar yang sudah di siapkan oleh Lea dan Angre. Dia menyuruh seorang pelayan untuk menjaga Beby Leangga disana.
Lalu semua orang berkumpul di ruang makan untuk makan malam bersama. Mereka tak membangun kan Lea, karena Mona sendiri yang akan mengantar kan makanan pada putrinya nanti dan akan menemani nya tidur.
.
.