
Angre menyusuri setiap jengkal tubuh mulus sang istri dan tak ada yang terlewat kan sedikit pun dari kecupannya.
Pria itu mencumbui sang istri yang kini sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun yang menempel di sana.
Lea melengkung kan tubuhnya saat Angre dengan lihai memainkan lidah nya di puncak dadanya. Dia meremas rambut sang suami yang tepat berada di depan dadanya.
Pria itu bermain lihai disana.
" This is my favorite place," ucap Angre.
Sambil terus bermain di area itu.
Tangan yang lain memijat lembut satu sisinya. Setelah itu mulai meraba ke area bawah perut Lea.
Lea terpekik saat tangan Angre sudah bermuara di bagian sensitif dari tubuhnya. Pria itu masih mengulum puncak dada Lea namun tangan nakalnya bergerilya di bawah sana.
Lea meliuk-liukkan tubuhnya saat merasakan sensasi yang dia rasakan. Angre beralih mencium bibir Lea yang terbuka dengan tangan yang masih tetap bermuara di bagian bawah sang istri.
" Ooouwwhh ... Beby."
Desah Lea keras saat sudah mencapai puncak nya.
" I love you," ucap Angre sambil mengusap lembut wajah cantik sang istri.
Lalu tanpa basa-basi lagi, dia langsung menyatukan miliknya dengan sang istri.
Lea langsung terpekik saat sang suami langsung menghajarnya tanpa aba-aba.
Lenguhan demi lenguhan terdengar bersahut-sahutan di dalam kamar yang hangat itu.
Mereka melakukan percintaan panas di hari yang sudah menjelang senja itu. Angre membalik tubuh sang istri hingga posisinya menungging di depan nya.
Lalu dia mulai bergerak liar dari belakang Lea dengan tangan yang menangkup benda bulat yang bergelantung indah.
" Ahh ... ahh ... ahh."
Desah mereka secara bergantian dan mendapatkan puncaknya secara bersamaan.
" I love you," ucap Angre sambil mencium punggung mulus sang istri.
Lea merebahkan tubuh nya dan langsung berbalik menghadap sang suami.
" I love you to," sahut Lea.
Lalu mereka pun berpelukan sejenak di atas ranjangnya sambil mengatur nafasnya masing-masing.
" Ayo kita mandi," kata Angre.
Lalu bangkit dari ranjang dan langsung menggendong tubuh sang istri dan membawanya masuk kedalam kamar mandi.
Lea hanya tertawa dalam gendongan sang suami. " Ada apa? kenapa kau tertawa?" tanya Angre.
" Aku hanya mengingat cerita dari Momy tadi," sahut Lea.
Angre mendudukkan Lea di meja marmer. Dan dia menyalakan kran air untuk mengisi bathtub nya.
" Apa yang di ceritakan oleh Momy pada mu?" kata Angre sambil memeluk tubuh polos sang istri.
" Mom bilang. Dulu saat mom hamil dirimu, Daddy bersikap lebih protektif darimu," kata Lea sambil melingkarkan tangannya di leher Angre.
" Benarkah?" sahut angre sambil mengecup dagu lancip Lea.
" Hmmm ... bahkan Daddy selalu menggendong Momy jika mom ingin ke kamar mandi dan selalu memandikan Mom. Daddy akan langsung pulang dan menunda semua meeting nya jika sudah waktunya Momy mandi," kata Lea sambil tertawa kecil.
Angre ikut tertawa mendengar cerita itu.
" Mom tak pernah menceritakan hal itu padaku," kata Angre masih dengan tawanya.
" Dan untungnya kau tidak separah Daddy," kata Lea.
" Baiklah. Jika seperti itu aku akan menerapkan itu juga padamu," kata Angre yang langsung mengangkat tubuh Lea dan membawanya ke bathtub.
" Oh No!!!" teriak Lea.
Lalu mereka pun mandi bersama dengan beberapa iklan panas yang sering di lakukan oleh Angre.
Pria itu tak bisa tinggal diam jika melihat tubuh polos sang istri.
.
.
Leon keluar dari ruangan nya. Dia berjalan menuju ruangan sang daddy setelah selesai menyelesaikan pekerjaan yang tadi di berikan oleh Thoy.
Ketika akan masuk kedalam lift dia bertemu dengan Robby yang juga akan menuju ruangan bos besar.
Mereka masuk kedalam lift bersama.
" Bagaimana kabar mu, Bos?" tanya Robby.
" Seperti yang kau lihat," sahut Leon.
" Aku harap Anda selalu baik-baik saja seperti yang terlihat dari luar," ucap Robby dan hanya mendapatkan senyuman smirk dari Leon.
" Bagaimana hubungan mu dengan Alina?" tanya Leon basa-basi.
Ting
Pintu lift terbuka.
" Kau hanya belum berusaha dengan keras untuk mendekati nya," kata Leon langsung keluar dari lift.
Robby tampak memikirkan perkataan dari Leon. Lalu dia berjalan di belakang Leon.
CEKLEK
Robby membukakan pintu ruangan Thoy untuk Leon. Dan Leon pun langsung masuk kedalam ruangan itu.
Dia melihat Thoy sedang fokus dengan laptopnya. Dia menghampiri meja sang daddy.
" Aku sudah menyelesaikan pekerjaan ini," kata Leon sambil memberikan berkasnya.
Lalu Thoy langsung mengambil berkas itu dan langsung memeriksa nya.
" Katakan jika ada yang tidak sesuai, Dad. Aku akan langsung merevisi nya disini, agar aku bisa langsung pulang ke negara ku," kata Leon yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Thoy.
Leon hanya menundukkan kepalanya saat melihat tatapan tajam dari Daddy nya. Karena dia sudah lama tak mendapatkan tatapan itu dari Thoy.
" Ini sudah cukup. Pergilah," ucap Thoy setelah selesai memeriksa berkas itu.
" Baiklah. Aku pamit, jaga kesehatan Daddy," kata Angre dan langsung mengundurkan diri dari hadapan Thoy.
" Jaga perusahaan ini dan juga keluarga ku, Rob," kata Leon sambil menepuk bahu Robby.
" Baik, Bos!"
" TUNGGU!!" kata Thoy yang membuat Leon menghentikan langkahnya.
" Temui Momy mu dulu jika kau masih menganggap nya masih hidup," kata Thoy dengan suara berat nya.
" Baik, Dad."
Leon langsung keluar dari ruangan itu. Dan pergi dari perusahaan itu.
Dia mengendarai mobil nya dengan kecepatan sedang menuju mansion keluarga nya. Untuk menemui sang Momy dan berpamitan pada nya.
Setibanya di sana. Leon sudah di sambut oleh dua wanita yang sangat di sayanginya.
Marta langsung berlari kearah Leon. Putra yang sangat di rindukannya.
Leon pun berjalan dengan cepat kearah Momynya dengan merentangkan kedua tangannya.
" Son. I Miss you so much," kata Marta dalam pelukan itu.
" I Miss you to, Mom," sahut Leon.
Lalu dia melihat kearah sang adik yang meneteskan air matanya. Leon merentangkan satu tangan nya pada Lira.
Gadis itu langsung berhamburan kearah sang kakak dan langsung memeluk nya. Mereka menangis dalam pelukan itu.
Leon mendekap erat dua wanita yang sangat dia sayangi. dan melepas rindu yang dia rasakan untuk kedua wanita itu.
" Jangan pergi lagi, Kak. Aku mau ikut bersama mu jika kakak ingin pergi lagi," kata Lira dalam pelukannya.
" Kakak harus tetap pergi, Lira. Pekerjaan kakak menanti disana," sahut Leon.
" Jadi kau lebih mementingkan pekerjaan mu dari pada keluarga mu, Begitu?" kata Marta melepas pelukannya.
" Bukan begitu, Mom," jawab Leon.
" PERGILAH!!" Bentak Marta dan langsung berbalik berjalan menuju pintu utama mansion.
" I love you Mom," kata Leon.
" Kakak ... aku ikut dengan kakak ya?" kata Lira.
Leon menangkup wajah sang adik dan menghapus air mata yang membasahi pipinya.
" Kalau kau ikut dengan kakak, lalu siapa yang akan menjaga Momy and Daddy disini?" kata Leon pelan.
Gadis itu terdiam. Dia tidak mau meninggalkan kedua orang tuanya tapi dia juga ingin bersama sang kakak.
" Tapi Kak, aku __"
" Sssstt ... jadilah anak yang baik untuk Mom and Dad. Aku pasti akan kembali kemari, dan saat aku kembali. Kau harus menjadi sosok wanita yang kuat dan cantik, Oke!" kata Leon.
Lalu dia mengecup kening dan pipi Lira dan memeluknya sebentar.
" Aku pergi dulu, jaga Momy dan Daddy untuk kakak," kata Leon sambil masuk kedalam mobil nya.
Lira mengangguk sambil terus menangis.
" Jadilah wanita yang kuat, Oke!" kata Leon dari dalam mobilnya.
Lira kembali mengangguk semangat sambil mengusap air matanya.
Lalu Leon pun pergi dari Mension itu.