
Satu bulan berlalu.
Pagi itu, Leon terbangun dari tidurnya yang hanya 3 jam. Pria itu bangkit dan berjalan kearah kamar mandi.
Dia hanya mencuci wajahnya dan langsung keluar dari kamar mandi. Pria itu menatap pantulan dirinya di cermin yang terdapat foto Lea disana.
" Good morning, Honey. Semoga kau selalu bahagia disana," gumam Leon.
Lalu dia keluar dari apartemen nya dengan hanya mengenakan celana training pendek dan singlet hitam, karena dia akan berolahraga pagi dengan berjoging di area taman dekat gedung apartemen nya.
Saat dirinya melewati lobby. Beberapa wanita yang kebetulan sedang berada di sana menatap kearah nya.
Pria tampan nan seksi itu menjadi perhatian disana. Tapi sikap nya yang dingin dan tak tersentuh menjadi kan semua wanita berpikir ulang untuk mendekati nya.
Leon menyibukkan diri dengan pekerjaan nya yang kebetulan sedang menumpuk. Dia tidak lagi percaya atau berhubungan dengan wanita sejak kejadian yang menimpanya dan membuat hubungan nya dengan Lea hancur.
Dia bahkan tak mau lagi berurusan dengan wanita meskipun dalam hal pekerjaan. Dia akan menolak mentah-mentah wanita yang akan mendekati nya.
Meskipun dengan dalih ingin menjadi temannya. Dia seolah tak mau lagi berteman dengan seorang wanita karena itu akan mengingatkan pada kasus nya dengan keylin yang berakibat fatal pada percintaan nya.
Dia masih menyimpan cinta nya untuk wanita yang dulu ia khianati. Dia sangat yakin bahwa suatu saat nanti takdir akan mempersatukan mereka lagi.
Dia berlari di sepanjang trotoar yang mengarah ke taman. Dia berjoging dengan headset bluetooth yang menempel di telinga nya.
Hal itu bertujuan agar dia tak mendengar panggilan dari setiap wanita yang memanggil nya saat berjoging.
Ya. Leon merasa terganggu dengan panggilan dari setiap wanita yang berpapasan dengan nya saat dirinya berjoging.
Mereka seolah mencari perhatian dari pria tampan itu. Namun lagi-lagi Leon tak menggubrisnya.
Setelah sekitar 15 menit dia joging di taman. Kini dia berlari kembali menuju resort.
Pria itu langsung menuju ke cafe yang ada di resort itu untuk sarapan pagi.
Leon sering makan pagi di cafe itu sampai dia mengenal pemilik dari cafe itu.
" Kau baru berjoging?" kata Diego pemilik cafe itu sambil membawakan makanan yang sering di pesan oleh Leon jika sedang sarapan disana.
" Ya. Seperti biasa," sahut Leon mulai menyantap makanannya.
" Hidup mu sangat membosankan, Leon," sahut Diego.
" Ya. Karena aku sudah lelah bermain-main," sahut Leon sambil fokus dengan makanannya.
Diego tertawa mendengar perkataan Leon.
" Tapi sampai kapan kau akan seperti ini, Leon? lupakan dia. Wanita itu pasti sudah bahagia sekarang dengan suaminya," sahut Diego.
Leon memang dekat dengan Diego. Karena Leon pernah membantu keuangan Diego saat cafenya akan bangkrut.
Cafe itu pernah kemalingan dan hancur. Para perampok itu bukan hanya mengambil barang beserta uang yang ada di dalam cafe. Tapi juga memporak porandakan isi di dalam nya hingga banyak kerusakan.
Diego yang terpuruk akibat insiden itu di dekati oleh Leon. Leon membantu membangun dan memberikan modal pada Diego saat itu.
Dia tahu hanya cafe itu sumber penghasilan nya. Dan sejak saat itulah mereka dekat.
Leon menceritakan semua masalah nya dan insiden yang menimpanya pada Diego. Diego cukup menjadi pendengar yang baik dan tak menghujat Leon seperti yang lainnya.
Dan itu cukup membuatnya lega.
Diego sudah memiliki keluarga kecilnya yang bahagia. Dia memiliki istri yang mencintai serta menerima kekurangan nya. Dia juga sudah memiliki putri kecil yang masih berusia 2 tahun.
Bahkan gadis kecil nya itu sering menemani Leon saat Leon sarapan pagi di cafe itu.
" Dimana gadis kecil itu? aku tak melihat nya sejak tadi," kata Leon menanyakan putri kecil yang sering mendapatkan perhatian dari nya.
" Dia sedang demam, Leon. Tapi meskipun dia demam tingkah nya tetap tak berubah. Dia sangat lincah dan tak pernah diam," kata Diego menceritakan putri kecil nya.
Leon tertawa mendengar nya.
" Temani aku menemui nya, sebentar lagi," kata Leon beranjak dari kursinya.
" Tidak. Aku hanya akan ada meeting nanti setelah makan siang. Tunggu aku disini, aku akan ganti baju dulu," kata Leon pergi dari hadapan Diego.
" Baiklah, Tuan."
Leon langsung pergi dari cafe itu. Pria itu kembali menjadi perhatian saat melewati lobby dengan keringat yang masih menempel ditubuh nya dan itu membuat pria itu terlihat lebih hot.
Pria itu terus berjalan menuju lift dan tak menggubris para wanita yang tengah menatapnya.
" Yahh ... dia tampak nya sudah menikah," bisik seorang wanita pada rekannya.
" Iya. Dia sudah mengenakan cincin di jari manisnya. Betapa beruntungnya wanita yang dinikahi nya. Dia pasti sangat hot saat di ranjang," kata seorang wanita lagi.
Leon masuk kedalam lift. Dia melihat cincin pertunangan nya yang masih tersemat di jari manisnya.
Hal itu dia lakukan agar tidak ada wanita yang berani mendekati nya. Namun jauh didalam lubuk hati nya, dia masih mengharapkan wanita yang sangat dia cintai.
Wanita yang kini sudah hidup bahagia dengan pria lain. Leon begitu yakin bahwa Lea menikah hanya karena kekecewaan nya pada Leon dan agar dia tak bisa mendekati nya lagi.
Ting ...
Pintu lift terbuka. Tampak seorang wanita berdiri di depan lift dan ingin masuk kedalam lift. Leon melangkah kan kakinya melewati wanita yang tampak terpesona dengan ketampanan Leon.
Kini Leon sudah berada di apartemen nya. Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
" Hallo. Tolong kirimkan sebuah paket mainan untuk anak perempuan yang berumur 2 tahun. Aku akan mengirimkan alamat nya lewat pesan singkat," kata Leon dan langsung memutuskan panggilan itu setelah mendapatkan jawaban dari seberang telepon.
Senyumnya tersungging saat membayangkan wajah ceria gadis kecil yang mencuri perhatian nya.
Lalu dia masuk kedalam kamar mandi setelah mengering kan tubuhnya dari keringat yang menempel.
.
.
Di sebuah rumah sederhana dan tak terlalu besar. Kericuhan terjadi saat ada sebuah paket besar yang datang ke rumah nya.
" Moomm ... Moomiii ... Lihat ini. Lihat ini!!" teriak seorang gadis kecil dengan intonasi nya yang sedikit cadel dan menambah kelucuan di balik wajah nya yang cantik.
" Paket dari siapa ini?" tanya Melani istri Diego.
" Silahkan tanda tangan disini, Nyonya," kata seorang kurir.
" Baiklah."
Lalu melani menandatangani nota surat terima itu dan melihat nama Leon disana.
" Terimakasih," kata Mel sambil mengembalikan nota itu.
" Mom ... ayo kita buka. Apa isinya di dalam," kata Moana. Putri dari Diego dan mel.
Melani tersenyum pada sang putri dan menggendong nya.
" Kita akan membuka paket ini setelah kau mau makan dan meminum obat mu, bagaimana?" kata Mel membujuk sang putri agar mau makan.
" Huuffft ... Aku sangat malas untuk makan dan minum obat karena rasanya tidak enak. Uweekkk," sahut Moana.
" Kalau begitu Momy tak akan membuka paket itu. Dan kau ... tidak akan pernah tahu apa isi paket yang besar itu," kata Mel sambil mencolek hidung mancung putri kecil nya itu.
Moana tampak berpikir sambil memiringkan kepalanya dan matanya melirik keatas.
" Baiklah. Aku akan makan tapi sedikit," ucap Moana setelah berpikir cukup keras.
" Oke. Tak masalah. Ayo kita makan dulu ..." ucap Mel menggendong sang putri kearah ruang makan.
Moana Arsana Chandra