
Leon kembali pergi dari negaranya dengan berat hati. Dia terbang kembali ke New York menggunakan jet pribadi milik keluarga nya.
Pria itu menatap kearah luar jendela pesawat.
" Setidaknya aku melihat senyum cantik mu lagi, Lea," gumam Leon.
.
.
Beberapa bulan kemudian. Angre merangkul bahu sang istri menuruni tangga.
Mereka baru keluar dari kamar nya dan ingin sarapan pagi bersama.
" Mulai hari ini. Kita akan pindah ke kamar di bawah saja, aku sangat khawatir jika harus meninggalkan mu sendiri di mansion dan harus bolak-balik menaiki tangga," omel Angre.
Lea hanya tertawa pelan sambil mengelus perut nya yang sudah buncit.
" Kau dengar, sayang. Dad mu sangat cerewet, dia selalu mengomel pada Mom," ucap Lea sambil menatap dan mengelus perut buncitnya.
Angre menghentikan langkahnya saat sudah ada di ruang tengah. Pria itu berlutut di hadapan sang istri dan mencium perut buncitnya.
" Bagaimana Daddy tak mengomel setiap hari, Momy mu sangat keras kepala dan tak mau mendengar kan perkataan Daddy," ucap Angre sambil mengelus perut buncit Lea.
" Dia bergerak," kata Lea.
" Dimana? aku tidak merasakan pergerakan nya," kata Angre sambil meraba seluruh perut sang istri.
" Disini," kata Lea sambil menunjukkan ke perut bagian kirinya.
Dengan cepat Angre meletakkan tangannya di tempat yang di tunjuk oleh Lea.
" Aku tidak merasakan pergerakan nya disini," kata Angre sambil mendongakkan kepalanya melihat kearah Lea.
" Disini, sayang. Dia kembali menendang di bagian ini," kata Lea menunjuk kearah perut bagian kanan.
Dengan cepat Angre langsung meletakkan tangannya di sana. Lalu Lea tertawa keras karena sudah berhasil mengerjai sang suami.
" Jadi kau mengerjai ku?" kata Angre sambil berdiri.
Lea terus tertawa melihat ekspresi Angre.
Lalu pria itu kembali berlutut di hadapan perut sang istri.
" See ... Momy sangat jail. Dia mengerjai Daddy setiap hari," ucap Angre di hadapan perut buncit Lea.
" Aaww ..." pekik Lea saat Mera tendangan dari dalam perutnya yang terasa begitu keras.
Disaat yang sama, Angre sedang menempelkan telinganya tepat di bagian yang di tendang oleh Beby nya.
" Itu adalah balasan dari baby kita, Honey. Dia tak terima Daddy kesayangan nya di jahili oleh mom nya," kat Angre.
" Aaww perut ku sakit!!" teriak Lea yang membuat Angre terkejut dan begitu cemas.
Pria itu langsung mengelus perut Lea.
" Beby ... sudah ya main tendangan nya. Kasian Mom nya sakit perut nya," kata Angre.
" Ini beneran sakit, Angre!! bukan karena tendangan nya," pekik Lea dengan seringai tipis di bibirnya.
" Bagaimana ini? kandungan mu baru 7 bulan, Beby. Tak mungkin kau akan melahirkan sekarang, kan?" kata Angre cemas.
Pria itu mondar-mandir tak karuan di ruangan itu. " Kita ke dokter sekarang. Kita harus cepat ke dokter," kata Angre sambil merangkul bahu Lea.
" Tidak. Aku hanya lapar," jawab Lea.
Lalu tertawa dengan keras dan meninggalkan sang suami yang masih terpaku di tempatnya.
" ALEANAA!!" teriak Angre geram dengan sikap jail sang istri.
Lea terus tertawa sambil berjalan cepat kearah ruang makan.
Lalu mereka pun akhirnya makan pagi bersama setelah ada beberapa drama tadi.
.
Setelah menyelesaikan makan paginya. Angre mengantarkan Lea ke dokter kandungan untuk kontrol rutin kehamilan nya.
Dia akan ke perusahaan jika ada hal penting saja. Itupun dia selalu membawa sang istri untuk ikut bersama nya.
Orang tua Lea pun sudah mengunjungi mereka saat usia kandungan Lea masih 6 bulan.
Dua minggu penuh. Erka dan Mona menemani sang putri di mansion nya. Jadi selama itu pula, Angre dan Lea berada di mansion keluarga Mouvrik.
Mereka juga menghabiskan waktu bersama dengan berlibur ke beberapa tempat yang indah di negara ini.
Angre menggunakan kesempatan itu untuk fokus dengan perusahaan nya. Pria itu menyelesaikan semua pekerjaan nya karena dia sudah berniat tidak akan ke perusahaan setelah usia kandungan Lea memasuki trimester terakhir.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit. Lea meminta Angre untuk berhenti di depan kedai es cream karena dia ingin membeli es cream itu.
" Kau tunggu disini, aku yang akan membelikan es cream untuk mu," kata Angre yang hanya di tanggapi dengan anggukan kepala oleh Lea.
Lalu pria itu pun turun dari mobilnya.
Drt drt
Ponsel Lea berbunyi tanda ada pesan masuk.
Dia langsung mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk.
" Hai ... bagaimana kabar calon keponakan ku?" tulis Alina di pesan itu.
Lalu Lea melakukan panggilan video dengan sahabat nya itu.
" Haii ...," kata Alina dari seberang sana.
" Haii ... gadis manja," ucap Lea.
" Heeeii ... berhenti menyebutku dengan sebutan gadis manja lagi. Karena aku sekarang adalah seorang wanita karir yang syantiikk," kata Alina dengan centil nya.
" Eeyuuuhhh," sahut Lea dan mereka pun tertawa bersama.
" Wah ... perut mu sudah sangat besar, Lea," kata Alina.
" Ya. Ini sudah trimester terakhir ku, usia kandungan ku sudah 7 bulan," kata Lea menjelaskan.
" Kau sedang di dalam mobil? kau mau kemana?" tanya Alina.
" Aku sedang ingi ke rumah sakit," sahut Lea.
" WHATT!!! KAU MAU MELAHIRKAN SEKARANG?" tanya Alina dengan sikap lebay nya.
Bersamaan dengan itu. Abel masuk kedalam ruangan kerja Alina.
" Lea akan melahirkan?" tanya Abel terkejut yang masih bisa di dengar oleh Lea.
Lea hanya bisa menepuk keningnya saat apa yang di katakan Alina malah langsung terdengar oleh Aunty Abel.
" Benarkah itu, sayang?" tanya Abel yang ikut bergabung di panggilan video itu.
" Tidak, Aunty. Aku hanya bilang ingin ke rumah sakit dan akan memeriksa kehamilan ku bukan ingin melahirkan," kata Lea memperjelas.
" Iiiiishh ... kenapa kau hanya mengatakan ingin ke rumah sakit saja tadi!!" kata Alina mencebik.
" Kau sendiri yang langsung mengira aku akan melahirkan," sahut Lea.
Bersamaan dengan itu. Angre masuk kedalam mobil dengan wajah paniknya.
" Kau akan melahirkan?? Sekarang?" kata Angre terkejut dan masih terdengar oleh Alina dan Abel dari seberang telepon.
Alea kembali menepuk jidatnya sendiri. Sementara itu Alina dan Abel sedang tertawa di seberang sana.
Angre langsung melakukan mobilnya dengan begitu cepat. " Kita harus cepat tiba di rumah sakit. Kau masih bisa menahannya, kan?" kata Angre cemas.
" Tidak, Angre __" kata Lea terpotong dengan ucapan Angre.
" WHAT!! JADI KAU SUDAH TAK BISA MENAHANNYA?" sahut Angre terkejut. Dia langsung menambah kecepatan mobilnya.
Sementara itu Alina tampak masih tertawa di seberang telepon.
" Ini semua gara-gara kau, Al!!" kaya Lea kesal.
Semua menjadi runyam karena perkataan Alina tadi.