
•••
Selama ini, Alena selalu berpikir bahwa Jeane hanyalah wanita biasa yang mencintai seorang pria dengan tulus, sama sepertinya. Karena itu ia tidak pernah bisa terlalu membenci gadis itu. Perasaan Jeane pada Davian tidak salah. Hanya saja situasi yang membuat perasaan itu seolah-olah salah. Tidak, itu memang salah. Jeane seharusnya perlahan mundur setelah Davian memutuskan untuk menikah dengan gadis lain. Jika Alena adalah Jeane, ia pasti akan melakukan hal itu.
Tetapi, kenapa Jeane seolah ingin sekali menghancurkan rumah tangganya? Mengapa ia selalu merasa gadis itu ingin sekali merebut Davian dari tangannya? Alena sudah beberapa kali melihat gadis itu menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian, seolah dialah yang melakukan kesalahan. Sekalipun itu benar, seharusnya Jeane lebih tahu diri karena dia kini bukan siapa-siapa bagi Davian.
Setelah pertengkaran hebat kemarin, Alena menunggu kepulangan Davian dengan perasaan cemas dan khawatir namun pada akhirnya Davian tak kunjung pulang hingga keesokan harinya. Malam menjelang, Davian baru kembali dan ia bahkan tidak mempedulikan raut lega Alena yang menyambutnya. Davian tidak melihat betapa senangnya gadis itu saat melihatnya kembali pulang.
“Apakah kau sudah makan?” Alena bertanya dengan lembut. Ia tidak pernah bisa marah pada Davian. Karena cinta membuatnya mampu memaafkan.
“Aku tidak lapar.” Gumam Davian tanpa menatapnya, lalu menutup pintu kamar dengan agak kencang. Alena hanya menghela napas sedih.
•••
“Kau tidak bisa terus begini, Davian. Bagaimanapun Alena tetap wanita yang memiliki hati. Kau harus belajar mencintainya jika ingin hatimu tenang,” ungkap Dion sambil menyesap tehnya.
Davian hanya mengusap wajahnya, lalu menunduk sebentar sebelum kembali menatap teman baiknya, “Bicaramu lancar sekali seperti jalan tol. Kau pikir mudah melakukannya. Kau tahu dihatiku hanya terukir nama Jeane.”
“Kau yakin? Hati manusia adalah komponen paling rumit yang dibuat Tuhan. Kau bahkan tidak bisa mengira nama siapa yang sebenarnya terukir di hatimu. Tanpa kau sadari, mungkin saja di hatimu nama Jeane perlahan terhapus dan digantikan oleh nama Alena,” balas Dion bijak.
Biasanya Davian tidak pernah menghiraukan apapun yang diocehkan Dion karena perkataannya lebih banyak ngawur daripada benar. Tetapi kali ini Davian dibuat merenung. Kalimat tadi seperti palu yang mengetuk hatinya dengan keras dan sekarang jantungnya berdebar kencang.
“Tidak mungkin,” lirih Davian dengan senyum remeh tersemat di bibirnya. Dengan cepat otaknya menepis gagasan gila itu. Mana mungkin ia mulai menyukai Alena. Membencinya, itu kata yang paling tepat.
“Aku membencinya, Dion. Dia adalah faktor utama terhalangnya rencanaku menikahi Jeane,” Davian melototi Dion. Ia seolah ingin meyakinkan diri sendiri bahwa ia memang mencintai Jeane, bukan Alena.
“Cara bicaramu seperti kau Aphrodite saja! Berhenti menceramahiku!”
“Well, setidaknya kau lebih beruntung dariku karena bisa terus menatap wanita yang kau cintai dari dekat,” Dion lebih memilih mengalah sebelum Davian mengamuk. Davian mengangguk puas.
“Memang kemana istrimu sekarang?”
“Sena sibuk dengan kegiatan amalnya. Sekarang dia bersama beberapa relawan dari UNICEF sedang pergi mengunjungi korban gempa di China.”
“Salahmu mengapa menikahi wanita yang lebih suka beramal di banding suaminya,” timpal Davian.
“Aku tak peduli. Yang penting kami saling mencintai,” Dion diam sejenak.
“Aku serius Davian. Cobalah membuka hati untuk Alena karena dalam situasimu sekarang, memaksakan diri menikah dengan Jeane hanyalah tindakan sia-sia. Orang tuamu tidak pernah merestui kalian.”
Davian menghela napas. “Aku akan berusaha.”
•••
Kondisi rumah tangga Davian-Alena tidak kunjung membaik bahkan setelah lewat tiga minggu dari waktu pertengkaran mereka. Alena malah merasa jarak antara dirinya dengan Davian semakin menjauh hingga satu tahun cahaya.
Alena hanya menghela napas saat melihat Davian kembali berakting di depan Ayahnya yang masih terbaring sakit. Kali ini Ayahnya meminta sesuatu yang mengejutkan dari mereka berdua.
“Bolehkah Ayah meminta kalian memberikan Ayah cucu secepatnya?”