I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#73



Davian belum mengedipkan matanya, melongo dan aku mulai cemas. Apakah aku sudah mengatakan hal yang salah? Normal bagi korban sepertiku marah pada pelaku yang mencoba membunuhku. Mungkin seharusnya aku memang marah dan membenci Jeane.


Tak kusangka Davian memelukku dengan erat. Berkali-kali aku merasakan dia menghela napas lega.


“Alena-ku memang gadis berhati mulia, terima kasih Tuhan.” Dia mencium pipiku lalu kembali berlutut,


“Kupikir kau akan membencinya, atau menyuruhku untuk memenjarakan Jeane seumur hidup. Aku sangat lega ternyata kau mau memaafkannya.”


Davian menceritakan kisah yang cukup mengejutkanku. Tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Jeane dan yang lebih membuatku menganga adalah kenyataan bahwa Jeane menderita penyakit Skizofrenia. Tak kusangka, Jeane terlihat normal. Dia anggun, cantik, dan pintar.


“Atas persetujuan Ayahnya, Jeane dikirim ke panti rehabilitasi di luar negeri. Dia akan menjalani terapi di sana selama satu tahun.”


Aku menutup mulutku, masih tidak bisa mempercayainya, “Bagaimana kondisinya saat ini?”


“Dia terus merasa ketakutan dan paranoid setiap kali bertemu orang. Dokter yang pernah menanganinya di Prancis dahulu sengaja di datangkan kemari untuk merawat Jeane.”


“Jeane yang malang,” lirihku kasihan. Setelah mendengar seluruh cerita tentang gadis itu, aku tidak bisa marah lagi. Aku hanya bertanya-tanya apa yang membuat Jeane menderita penyakit semengerikan itu. Aku menatap sedih suamiku.


“Kau tidak perlu mencemaskannya karena Jeane sudah ditangani oleh orang yang tepat.” Davian mencubit pipiku gemas. Ia bangkit, berjalan ke belakangku bersiap mendorong kursi rodaku.


“Sekarang ayo kita kembali. Ibu pasti sedang mencari kita.”


ALENA POV END


***


Alena menjalani terapi hari-hari berikutnya untuk memastikan tangannya bisa berfungsi normal seperti sedia kala. Meskipun keadaannya sudah jauh lebih baik, tetapi Davian belum mengizinkannya pulang.


“Aku rindu rumah.”


“Tidak, kau masih harus dirawat.”


“Tapi aku bosan di sini.”


“Bukankah ada aku?”


“Astaga, inikah cara kalian menyambutku? Dengan bertengkar dan tidak mempedulikan sama sekali siapa yang datang membesuk.”


“Malvin!” Alena mengerjap senang melihat kakaknya setelah hampir satu minggu ini tidak muncul. Sebenarnya semenjak dia siuman baru kali ini ia melihat Malvin datang menjenguknya.


“Tak perlu berdiri, biar aku yang datang.” Malvin mencegah Alena bangkit dari tempat tidurnya. Ia mendekat lalu memeluk Alena selayaknya kakak yang merindukan adiknya.


“Hei,” Davian bersedekap tidak suka. Ia tahu mereka memang kakak-adik. Tetapi dia tetap tidak suka melihat keduanya saling berpelukan seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.


“Senang melihatmu kembali sehat,” bisik Malvin lalu melepas pelukannya. Ia mengamati Alena baik-baik lalu tersenyum puas melihat keadaannya yang jauh lebih baik dari bayangannya.


“Kemana saja? Aku hampir menangis karena berpikir kakakku sendiri melupakan adiknya yang dirawat di rumah sakit.” keluh Alena. Malvin tertawa.


“Aku sibuk mengurus perusahaan, tentu saja. Selain itu aku juga harus bolak-balik ke kantor polisi untuk menyelesaikan kasusmu.”


“Sunhguh?” Alena melebarkan mata. Ia menoleh pada Davian sejenak sebelum bertanya kembali,


“Bagaimana perkembangannya?”


Malvin diam sejenak, membuat Alena tidak nyaman di tempatnya karena gelisah, namun beberapa saat kemudian ia tersenyum menenangkan,


“Setelah kedua belah pihak sepakat untuk menutup kasus ini, Jeane harus menjalani terapinya. Kau tenang saja, keadaannya sudah semakin membaik meskipun terkadang dia mengalami serangan. Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Kau sebaiknya mencemaskan kondisimu sendiri. Hmm, bagaimana tanganmu?”


“Sudah bisa digerakkan meskipun masih sedikit kaku,” Alena mencoba menggerakkan tangannya yang diperban tetapi harus meringis karena syaraf-syaraf yang kaku dan terasa sakit.


“Syukurlah.” Malvin mengacak poninya.


“Dan bagaimana keadaan keponakanku di dalam sana? Kurasa dia sudah tidak sabar ingin melihat dunia ini.”


Senyum indah seketika merekah di wajah Alena. Dia dan Davian tersenyum lebar dan menatap perut Alena yang besar dengan bahagia.


“Dia tumbuh dengan sehat. Aku yakin yang paling tidak sabar di sini adalah kau,”


“Ya, tentu saja.” sahut Davian lalu mereka bertiga tertawa.


***


XOXO