I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#58



Davian merebahkan tubuhnya di samping Alena tanpa melepas pagutan bibir mereka. Ia sangat nyaman dengan posisi ini. Entah kenapa rasanya ciuman kali ini begitu ringan, lepas, dan tanpa beban apapun. Ia justru merasa bahagia seperti saat pertama kali jatuh cinta pada Alena.


“Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasa sebahagia ini ketika sedang mencium istriku,” gumam Davian begitu ia menjauhkan kepalanya. Ia menatap dalam iris mata hitam Alena. Ia yakin Alena pasti bisa merasakan begitu banyak cinta yang ia berikan untuknya hanya dengan menyelami sorot matanya saja.


Alena yang paham maksud Davian tersenyum lepas, “Maaf jika sebelumnya aku membuatmu terbebani,”


Ia membenamkan wajahnya dalam dada Davian yang hangat, demi menyembunyikan semburat merah yang tiba-tiba saja menghiasi kedua pipi putihnya.


“Tak perlu merasa bersalah, aku sudah cukup menyakiti hatimu saat kita di masa-masa awal pernikahan dulu. Akulah yang seharusnya meminta maaf.” Alena bisa merasakan tangan kekar Davian memeluknya begitu erat membuatnya merasa begitu istimewa dan terlindungi. Ia melingkarkan tangannya di punggung Davian sebagai balasannya. Diam-diam ia tersenyum, bersyukur karena dahulu ia memilih untuk menikah dengan Davian dan tidak menuruti kata hatinya yang terkadang keliru itu. Jika tidak, mungkin ia-lah yang paling terluka saat tahu Malvin adalah kakak kandungnya dan Ayahnya selama ini menyembunyikan fakta itu darinya.


“Sayang,” Davian memanggil istrinya ketika tiba-tiba saja suasana hening. Ia mengangkat kepalanya untuk melihat kondisi Alena, setelah sadar Alena sudah tertidur lelap dari caranya bernapas yang teratur, ia tersenyum.


“Selamat tidur,” ia mengecup puncak kepala Alena lalu ikut menyusul Alena ke dunia mimpi detik berikutnya.


***


Malvin duduk di depan Ayahnya dengan kepala menunduk. Ia menerima apapun yang akan Ayahnya putuskan hari ini. Ia sudah menceritakan pada keluarga yang sudah membesarkannya bahwa ia sudah tahu kronologis kisah orangtua kandungnya dari Ibu Alena. Ia tahu Ayahnya pasti akan marah karena ia melakukan tindakan lancang itu namun ia berharap Ayahnya paham. Ia juga ingin tahu sejarah hidup kedua orang tua kandungnya.


“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” suara tinggi Tuan Fahri mengganung. Pria itu mengangkat dagunya dengan angkuh dan tegas, memperlihatkan sikap wibawa seorang Ayah.


“Apa kau akan meninggalkan rumah ini?”


Malvin mengangkat kepala agar bisa memandang ekspresi Ayahnya secara langsung. Ia terdiam, merenungi pertanyaan terakhir Ayahnya sebelum menjawab dengan nada yakin,


“Tidak, Ayah.” Ujarnya lugas membuat pria paruh baya di depannya membelalakkan mata.


“Tidak? Mengapa? Bukankah kau sudah tahu Ayah kandungmu bukanlah aku."


Malvin memperlihatkan senyum yang selalu muncul di saat ia sudah yakin dengan keputusan yang diambilnya, ia kembali memandang Ayahnya dengan sorot mata tenang.


“Bagiku, Ayahku tetaplah dirimu. Bagaimana bisa aku mengkhianati Ayah yang sudah rela menghidupiku. Aku tidak pernah kekurangan kasih sayang sedikit pun selama ini. Karena itu aku akan tetap menjadi anakmu.”


Tuan Fahri menghapus airmata yang menitik di sudut mata. “Yah, jika itu keputusanmu.”


Ketika ia akan mengatakan kalimat selanjutnya tiba-tiba saja terdengar suara ketukan. Seorang wanita masuk ke dalam lalu membungkuk hormat pada Malvin, pemilik dari ruangan tempat mereka berada sekarang.


“Tuan, ada tamu.”


“Oh ya? Siapa?” ujar Malvin.


“Kami,” Davian muncul bersama Alena bahkan sebelum Malvin mengizinkan mereka masuk.


Malvin dan Ayahnya sama-sama terkesiap. Suasana sempat menjadi canggung meskipun Alena sudah mati-matian memperlihatkan senyum ramah. Ia menggenggam erat tangan Davian karena tidak kuat dengan tatapan penuh selidik Tuan Fahri.


“Tidak biasanya kalian datang kemari. Ada apa?” Malvin bertanya ramah.


Dilihat dari ekspresinya, Alena yakin Malvin sudah tidak terbebani sama sekali dengan masalah sebelumnya. Malvin terlihat seperti yang dikenalnya. Memang begitu seharusnya.


“Ada sesuatu yang ingin kami sampaikan,” kali ini Alena berkata. Malvin terdiam melihat keseriusan di wajah Alena dan suaminya. Ia menoleh sekilas pada Ayahnya yang mengangguk paham.


“Aku sepertinya harus pergi,” ujarnya lalu pergi meninggalkan ruangan. Tidak seperti Malvin, Tuan Fahri sepertinya masih belum bisa menerima masalah lalu karena pria itu tidak menunjukkan raut ramah sama sekali saat melintasi Alena dan Davian.


Malvin segera mempersilakan mereka duduk di sofa set yang tadi di tempat dirinya dan Ayahnya.


“Maaf, soal Ayah. Sulit baginya menerima semua ini,” ujar Malvin menyesali sikap tidak ramah Ayahnya barusan.


“Oh, Kau tetap memanggil Tuan Fahri dengan sebutan ‘Ayah’,” Davian menyimpulkan sendiri hipotesanya.


***


XOXO