
“Apa?” Davian mengeryitkan kedua alisnya tegas.
“Gadis sepertinya tidak pantas untuk dihormati!”
“Apa?” Davian terperanjat dan entah kenapa ia kesal sekali, dan marah. Alena sudah menjelek-jelekkan Jeane di hadapannya? Benar-benar tidak bisa dimaafkan.
“Kau tidak bisa seenaknya mengatakan hal jelek tentang Jeane karena kau tidak tahu apapun tentangnya!”
“Aku memang tidak tahu apapun dan aku tidak berminat untuk tahu seperti apa Jeane. Aku hanya meminta satu hal, jika ingin mengkhianatiku, lakukan dengan halus. Jangan sampai aku mengetahui apapun tentang itu.” Alena mencoba menahan airmata namun percuma, buliran bening itu tetap saja jatuh dari kelopak matanya. Davian sudah menghancurkan hatinya, lantas harus berapa banyak airmata lagi yang keluar untuk menebusnya?
Davian membuang napas dengan keras lalu menatap Alena dengan mata tajamnya. Alena memalingkan wajah, ia tidak mau menatap Davian. Wajah tampannya, sorot matanya yang misterius, dan segala hal yang ia lihat dalam diri Davian mampu menghipnotisnya. Itu tidak boleh terjadi.
“Jadi apa yang kau inginkan?” Davian bertanya dengan suara rendah dan dingin. Ia mencoba menahan emosi sebisa mungkin. Jika ia sampai kalap, mungkin segala benda yang ada di sekitarnya akan menjadi sasaran. Ia mengangkat wajah menatap Alena yang tetap memalingkan pandangannya.
“Kau ingin bercerai denganku?” aneh, ia merasa sudut hatinya menjengit nyeri saat mengatakannya. Ia menatap Alena, sengaja untuk melihat ekpresinya. Dan benar saja, rasa sakit itu kembali menyerang ulu hatinya saat melihat betapa menyedihkannya ekspresi Alena. Gadis itu berkali-kali menggigit bibirnya yang bergetar menahan isak tangis.
"Jika itu memang yang terbaik.” Gadis itu lalu berbalik meninggalkan Davian yang menggeram kemudian menendang meja di depannya dengan keras.
Alena tidak peduli saat ia kembali mendengar suara pintu yang terbanting keras karena ia pun melakukan hal yang sama. Perasaan pedih, sakit, marah, cemas, takut, semuanya berkecamuk. Ia tidak bisa berpikir jernih dan seluruh tubuhnya seolah bergerak sendiri mengambil koper, lalu memasukkan baju-bajunya ke sana. Tidak ada alasan lagi baginya tinggal dengan pria egois semacam Davian. Perasaannya selama ini pasti hanya salah paham. Ia tidak mencintai Davian.
Beberapa lembar foto berjatuhan saat Alena menarik salah satu baju dengan tergesa-gesa. Seluruh gerakannya terhenti. Airmatanya pun berhenti. Kini perhatiannya terfokus pada dua lembar foto yang tergeletak di lantai. Ia kembali terenyuh dan airmatanya semakin menetes keluar. Ia membungkuk, lalu mengambil kedua foto itu.
Bagaimana mungkin ia melupakan kedua orang tuanya? Saat melihat foto pertama, yang merupakan foto kedua orang tuanya membuat Alena merasa begitu sedih dan menyesal. Ia sudah menjadi anak durhaka.
“Maaf Ayah, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu,” Alena mendekap erat foto itu. Perceraian ini mungkin akan berdampak buruk jika Ayahnya mengetahuinya. Bagaimana bisa ia begitu ceroboh memutuskan perceraian? Ia lupa pada kondisi kesehatan Ayahnya yang tak kan kuat jika mendengar berita mengejutkan.
“Maaf, aku tidak bisa bahagia, Malvin…” lirihnya sedih. Mata Malvin yang jernih di foto itu, senyumnya, membuat Alena merasa begitu kacau sampai membuatnya hampir gila. Ia menenggelamkan kepalanya dalam kedua telapak tangannya, kembali menangis.
•••
“Aaarrrrrggghhhhh!!!” Davian melampiaskan emosinya dengan berteriak kencang. Tidak akan ada siapapun yang mendengarnya karena suara teriakannya teredam oleh suara bising mesin-mesin mobil yang melaju di jalanan.
Sekarang ia butuh hiburan. Ia mencoba mengontak Jeane namun yang terdengar dari ponselnya hanya bunyi nada tunggu. Kesal, Davian melemparkan ponselnya ke kursi samping. Rupanya memang tidak ada jalan lain selain perceraian. Sejak awal seharusnya pernikahan ini tidak pernah ada. Seharusnya ia tidak setuju menikah dengan Alena hanya karena kedudukan dalam keluarga.
Davian terlalu tenggelam dengan pikiran yang terbagi-bagi hingga ia tidak sadar bahwa mobil yang dikemudikannya mengarah ke sisi kanan jalan dan insiden pun tak bisa terelakkan.
Brakkkk!!!!!
Mobil yang dikendarai Davian menabrak sebuah pohon besar di sisi jalan. Dunianya menggelap selama beberapa saat dan Davian merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Dengan pandangan yang mengabur, Davian berusaha melihat keadaan sekelilingnya. Asap putih mengepul dari kap depan. Untunglah, ia hanya menabrak sebuah pohon. Ia pun bersyukur karena sabuk pengaman yang dikenakannya berhasil meredam benturan. Kepalanya hanya sedikit berdenyut karena terbentur setir. Ia mencoba melepas safety belt berniat keluar untuk melihat keadaan.
“Aahhh..” gerakannya terhenti karena Davian merasakan sakit yang menusuk di tangan kirinya. Ia harus meminta bantuan seseorang. Ia meraih ponsel yang terjatuh ke bawah kursi dengan susah payah setelah itu mencoba menghubungi Jeane. Tetap tidak diangkat.
Bagaimana ini? Pandangannya sudah berkunang-kunang dan ia tidak mau kehilangan kesadaran di tempat sepi dan tak dikenal seperti ini.
“Alena,” tiba-tiba terlintas pikiran untuk menghubungi gadis itu. Haruskah ia melakukannya setelah tadi bertengkar hebat dengan gadis itu? Bagaimana jika Alena tidak akan menjawab panggilannya seperti Jeane?
Tangannya yang memegang ponsel bergetar. Di tengah rasa bimbang dan putus asa, akhirnya Davian memutuskan untuk menekan tombol hijau di ponselnya. Beberapa detik kemudian, terdengar nada tunggu dari ponsel Alena.
“Bagaimana ini?” lirihnya dengan suara pelan. Segalanya berakhir jika Alena sampai tidak menjawab panggilannya.