I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#15



“Kau tidurlah lebih dulu, aku masih belum mengantuk,” ucap Davian. Alena tidak jadi memejamkan matanya. Ia justru kembali mendudukkan dirinya.


“Kenapa? Apa tidak bisa tidur?”


“Em,” Davian menggumam singkat, terdengar ragu. Alen justru menatapnya curiga.


“Ada apa sebenarnya?”


“Aku hanya tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan wanita,” ucap Davian gugup. Ia terlihat gelisah dan canggung. Mendengar pengakuan Davian, Alena terkejut bukan main. Tidak terbiasa tidur satu ranjang dengan wanita? Itu benar-benar ganjil kedengarannya. Bukankah dia dan Jeane sudah sering tidur satu ranjang? Mengapa masih juga canggung?


“Tidak pernah? Meskipun itu dengan Jeane?” Alena bertanya karena terpaksa dan penasaran. Ia tahu kini hatinya bergemuruh karena ditelinganya kembali terngiang ucapan tak berperikemanusiaan dari gadis itu. Jeane dengan santainya berkata bahwa dia dan Davian pernah tidur bersama.


Kali ini justru Davian yang tampak terkejut. “Apa maksud ucapanmu?”


Alena tergugu, “Yah, kau dengan Jeane, tidur bersama. Terkadang pasangan kekasih pasti pernah melakukannya,”


Davian melebarkan mata begitu paham apa maksud Alena sebenarnya. Ia terkejut, bagaimana bisa Alena berpikir seperti itu?


“Kau berpikir aku sering tidur bersama Jeane?” Davian balik bertanya dengan nada tersinggung. Ia tak habis pikir, darimana datangnya gagasan itu?


Alena menundukkan kepalanya, menatapi tangannya yang meremas selimut dengan gelisah. “Aku hanya menebak.”


Daviann berdecak, antara sebal dan kesal. “Apa Jeane mengatakan sesuatu padamu tentang hal itu?” nada suara Davian terdengar menyindir.


Alena menoleh sejenak untuk mengetahui bagaimana ekspresi Davian. Pria itu seperti menuntut penjelasan padanya dengan raut curiga. Seharusnya ia yang berekspresi seperti itu. Davian membuatnya tampak seperti penjahat saja. Padahal di sini posisinya adalah korban.


“Tidak begitu tepatnya, dia hanya… sedikit bercerita tentang kalian,” Alena menggigit bibirnya, ragu apakah harus menceritakannya atau tidak. Ia takut jika menceritakannya, Davian akan membencinya dan mereka kembali bertengkar hebat.


Davian menghembuskan napas keras melihat reaksi Alena. “Aku memang sering menginap di tempatnya. Tapi kami tidak pernah tidur bersama. Meskipun aku tidur di ranjangnya, kami tidak ‘tidur’ seperti yang kau maksud.” Jelasnya.


“Apa?” Alena berseru takjub. Davian tidak pernah tidur bersama Jeane? Suaminya hanya pernah menginap di apartement Jeane saja? Rasa bahagia membuncah dalam hatinya seketika. Penjelasan Davian membuat kabut yang mengungkungnya lenyap sudah. Ia lega. Sangat lega. Rupanya, saat itu Jeane hanya berkata omong kosong saja padanya. Ya ampun, jadi selama ini ia marah untuk alasan yang tidak benar?


“Kenapa kau malah tertawa? Cepat tidur!” ia heran karena kini Alena justru tersenyum tidak jelas. Entah apa yang lucu. Davian mematikan lampu meja dengan sebelah tangannya yang bebas. Keadaan menjadi gelap. Beruntung sinar bulan yang masuk melalui celah-celah gordin tipis membuat keadaan kamar tidak terlalu gelap.


“Ingin ku nyanyikan lagu agar kau bisa tidur?” tanya Alen. Davian menoleh. Ia agak sangsi mendengarnya.


“Kau yakin? Suaramu tidak akan membuat telingaku pecah bukan? Besok ada rapat penting dan aku tidak ingin menjadi tuli saat rapat nanti,” gurau Davian. Alena terkekeh lalu memaksa Davian agar tidur dengan menyandar di pundaknya. Meskipun Davian mungkin tidak menyukainya, namun ia merasa senang melakukan ini. Tak peduli jantungnya berdebar kencang, ia sangat menikmati kali pertama bisa berada sedekat ini dengan Davian. Tanpa perdebatan ataupun pertengkaran.


“Kau ingin lagu apa?” tanya Alena.


Davian menyadari pikirannya mendadak kosong. Ini pertama kalinya ia diperlakukan selembut ini. Sejujurnya, saat dengan Jeane ia tak pernah mendapatkan perhatian semacam ini. Gadis itu hanya peduli dengan dirinya sendiri. Selalu saja minta dimanjakan dan tak pernah sekalipun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Alena padanya sekarang.


Kini, dalam dekapan Alena ia merasa nyaman dan damai. Ketika Alena kembali bertanya, Davian memaksakan diri memutar otaknya.


“Em, bagaimana dengan lagu ‘Here I Am’?”


“Hem, itu kan lagu yang sulit. Tapi baiklah. Janji tidak akan menertawakan?”


“Okay.”


Alena menarik napas sebelum mulai bernyanyi. Kemampuan olah vokalnya memang tidak sebaik Christina Aguilera, tapi setidaknya ia bisa bernyanyi walau sedikit. Dan saat lirik pertama mengumandang, Davian sempat menahan tawa karena suara Alena memang tidak sebagus Beyonce. Tapi ia tidak peduli karena yang ia dengar adalah ketulusan Alena. Gadis ini benar-benar bernyanyi untuknya dan entah mengapa, dengan hal sederhana ini ia menjadi bahagia. Menurutnya, hal sederhana seperti ini sangat romantis. Ia tak tahu kapan lagu itu mulai tidak terdengar lagi. Yang ia tahu, sekarang ia terhanyut dalam dunia miliknya seorang.


•••


Keesokan paginya, Davian terbangun dengan kepala yang hampir meledak. Ia heran mengapa tiba-tiba saja isi kepalanya menjadi lebih berat dari sebelumnya. Ia merasa seperti sedang menaiki roller coaster berkecepatan tinggi. Ia memaksakan diri untuk bangun dan meraih gelas minum yang ada di nakas samping. Ia kembali heran karena tenaganya menghilang entah kemana sehingga mengangkat tangan saja ia kepayahan. Alhasil, gelas berisi air yang ingin diambilnya terjatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping.


Alena yang tengah menyiapkan sarapan terkejut mendengar suara benda pecah dari arah kamar suaminya. Ia bergegas ke kamar untuk melihat keadaan. Matanya membulat kaget melihat Davian yang terkulai lemah di atas ranjang.