
•••
Alena bersiap-siap menerima amukan Davian. Karena itu ia pasrah saja ketika Davian menariknya jauh-jauh dari kafe tempat pertemuannya dengan Malvin tadi. Mereka berhenti di tepi sungai yang jernih. Davian mendudukkannya di atas bangku yang ada di bawah pohon rindang.
“Mana berkasnya!” ucap Davian datar dan dingin. Alena menyerahkan berkas di tangannya dengan kaku. Davian mengambilnya, melihatnya sekilas lalu meletakkan berkas itu di belakangnya.
“Huh, berkatmu meeting hari ini kacau balau,” keluh Davian membuat Alena merasa semakin bersalah. Seharusnya tadi dia memprioritaskan berkas yang Davian titipkan padanya. Bukan justru mengobrol dengan mantan pacarnya.
“Maafkan aku,” Alena menundukkan kepalanya. Hingga detik ini ia belum berani menatap Davian. Ia merasa malu memperlihatkan wajah jeleknya pada Davian.
“Jika merasa bersalah, angkat wajahmu sekarang!” katanya dengan nada meninggi. Bukannya menurut, Alena justru semakin menekuk wajahnya. Cara bicara Davian yang membentaknya seperti menegaskan bahwa dirinya memang menderita hidup bersama Davian. Menderita karena ia tinggal bersama pria yang membenci dirinya.
Alena terisak. Ia merasa begitu menyedihkan. Bertemu Malvin rupanya hanya membuka luka lama yang hampir tidak terasa lagi sakitnya.
“Kau ini kenapa susah sekali kuatur,” Davian tidak sabar lagi lantas tangannya terangkat menyentuh dagu Alena lalu mendongakkan wajah gadis itu ke arahnya. Ia mendesis prihatin melihat ekspresi istrinya sekarang. Alena berusaha memalingkan wajahnya namun di tahan oleh Davian. Pria itu kini menangkup wajahnya dan pandangannya pun melembut.
“Menangis lagi, kali ini apa alasannya?” tanyanya khawatir dan tangannya sigap menghapus airmata di pipi Alena. Ia kaget mendengar nada yang tidak biasa dari cara Davian berbicara.
“Kau menangis bukan karena cerita melankolismu pada pria tadi kan? Kau bercerita padanya bahwa hidupmu begitu menderita dan kau ingin pergi meninggalkanku, begitu?”
Alena mengerjapkan mata, apa Davian tadi mendengar semua pengakuannya pada Malvin?
“Lalu, pria tadi. Apa dia Malvin yang sudah kau campakkan itu?” tanya Davian, kali ini Alena mendengar nada tidak suka.
“Davian, aku,..”
“Sssst..Kau terlalu banyak bicara. Sesekali kau harus diam dan jika kau ingin menumpahkan isi hatimu, datanglah padaku.” Davian mencegah Alena berkata lebih banyak lagi. Ia melingkarkan tangannya memeluk gadis itu dengan lembut. Alena tak menyangka Davian akan memperlakukannya seperti ini. Perubahan sikap Davian benar-benar mengejutkannya.
“Apa aku terlalu buruk hingga kau memilih menangis di hadapan pria itu dibanding di hadapanku?” bisik Davian. Alena menggeleng lemah.
“Maafkan aku,”
“Berhenti meminta maaf atau aku akan menghukummu setibanya di rumah nanti,” Alena kali ini tersenyum dan ia balas melingkarkan tangannya di punggung Davian. Rasanya hangat sekali. Bolehkah ia berlama-lama dalam posisi ini? Davian memeluknya dengan lembut seperti ini? Hidupnya bisa menjadi sempurna jika Davian mau memperlakukannya selayaknya seorang istri.
“Alena..,” bisik Davian.
"Iya?”
“Aku mencintaimu.”
Alena terkejut bukan main mendengar pernyataan Davian di telinganya. Ia melepaskan pelukan pria itu lalu menatap wajahnya. Davian begitu serius ketika mata mereka saling bertemu.
“Ka-u mencintaiku? Itu benar?”
“Aku tidak perlu mengulanginya, bukan?” ucapnya mendekat, lalu mengecup bibir Alena lembut sebagai bentuk penegasannya.
“Apa kau juga mencintaiku, Nona?” Davian bertanya setelah wajahnya menjauh. Alena memegang bibirnya dan pipinya merona malu.
“Sejak kapan ku mencintaiku?” bukannya menjawab Alena malah balas mengajukan pertanyaan. Davian mengerang gemas.
“Kau terlalu berisik, Nyonya Fernandez. Bisakah kau hanya menjawab pertanyaanku?”
“Kenapa? Aku penasaran.”
“hmmftt..” Davian mendesah lalu menarik Alena ke dekatnya.
“Tidak tahu,” bisiknya. Pandangannya lurus menatap beningnya air yang mengalir di sungai tepat di hadapan mereka. Alena merasa dirinya menghangat dan airmatanya kering sudah. Ia mendongak menatap Davian yang tampak mempesona, selalu mempesona di matanya. Pria itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipi yang begitu indah.
Alena tertegun memandangi ekspresi mengagumkan suaminya. Ia tidak tahu memandanginya berapa lama. Hanya saja fantasi itu memudar saat Davian menoleh padanya. Tak di sangka efek yang ditimbulkan kala Davian menatapnya kini lebih kuat. Debaran jantungnya mengencang dan pandangannya mulai berkunang. Pikirannya kosong. Bahkan ia tidak menyadari sekarang jarak di antara dirinya dan Davian begitu dekat. Hal buram itu menjadi jelas begitu nafas Davian yang hangat menerpa pipinya.
________
XOXO