
“Ini rahasia tentangku dan Malvin...” tanpa sadar Davian menggenggam erat tangan Alena. Ia mendadak ragu apakah ia siap mendengarnya atau tidak. Ia takut hal yang akan diakui Alena adalah sesuatu yang membuatnya patah hati. Tidak mungkin bukan Alena mengatakan bahwa dia akan meninggalkannya? Hatinya takut membayangkan hal tersebut.
“Selama ini aku menahan diri tidak bercerita kepadamu karena aku belum siap. Tapi, setelah kupikirkan baik-baik kau seharusnya tahu hal ini agar tidak ada lagi yang perlu dicurigai,” Alena menarik napas sejenak sementara Davian berdebar-debar. Mata Alena kini menatapnya lurus, begitupun yang dilakukan Davian. Mereka kini saling menatap dan Davian bisa melihat berbagai macam kilatan emosi di dalam manik mata Alena. Ia menemukan kilatan sedih, frustasi, dan penyesalan.
“Aku dan Malvin, kami bersaudara.”
Davian merasakan dunia di sekitarnya mendadak hening setelah mendengar berita mengejutkan dari bibir Alena langsung. Apa telinganya sudah mulai rusak? Bagaimana bisa ia mendengar kalimat yang berbunyi; ‘Aku dan Malvin bersaudara?’. Matanya pun melebar takjub, tak percaya, dan kaget. Tidak mungkin.
“Tidak mungkin,” tanpa sadar Davian menyuarakan isi otaknya. Ia tercengang menatap Alena meminta penjelasan yang sejelas-jelasnya. Lelucon tak lucu apa ini?
“Kau bercanda?” Bola mata Alena mulai berair lagi dan Davian bisa merasakan tangan yang digenggamnya bergetar.
“Tidak Davian, aku tidak bercanda..” lirihnya sarat akan luka.
Detik berikutnya Alena menceritakan semuanya yang terjadi hari itu di ruang rawat Malvin. Tak ada satupun yang terlewati karena setiap patah kata yang diucapkan Tuan Radhian menggema dengan jelas dalam pikirannya, membuatnya pusing sekaligus frustasi. Bagaimana Tuan Radhian menceritakan perlakuan buruk Ayahnya pada ibu kandung Malvin sampai membuatnya bunuh diri hingga kenyataan bahwa ternyata Ayah yang disanjungnya menyembunyikan kenyataan itu selama bertahun-tahun darinya. Alena merasa dikhianati dan dibohongi. Jika memang sejak awal Ayahnya tahu Malvin adalah anak kandungnya, mengapa tidak mengatakan hal itu sejak awal? Kenapa Ayahnya membuat ia terus bertanya-tanya dan curiga?
Alena menangis setelah menceritakan beban itu. Ia merasa sakit sekaligus lega karena akhirnya bisa membagi penderitaan itu dengan orang lain juga. Sebelumnya ia sangat bingung, sedih, dan sangat malang harus menanggung semua itu seorang diri. Ia tidak sanggup menceritakannya pada siapapun. Ia sangat kecewa dan malu pada dirinya sendiri.
“Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi semua ini. Aku tidak percaya Ayah membohongiku selama ini. Kenapa dia membuatku harus membenci seseorang yang ternyata kakakku sendiri? Seharusnya yang kubenci adalah Ayahku..”
“Semuanya sudah terjadi. Apa yang bisa kita lakukan?” hiburnya. Davian mengusap rambut panjang Alena dengan lembut berharap kasih sayangnya bisa meredakan sedih di hati Alena.
“Apa aku harus membenci Ayahku?” lirih Alena sambil menatap Davian dengan lelehan airmata di pipi. Davian menggeleng pelan sambil menghapus bulir bening itu dari wajah pucat Alena.
“Kau tidak bisa menghakimi Ayahmu hanya karena pendapat buruk yang kau dengar dari satu pihak saja. Apa kau sudah bertanya pada bundamu?” Alena menggeleng dan ia terkesiap menyadarinya.
“Kau harus mendengar kisah dari sisi Ayahmu baru bisa memutuskan apa yang akan kau lakukan. bundamu pasti tahu cerita sebenarnya. Mungkin, Ayahmu memiliki alasan mengapa dia melakukan semuanya.” Ucap Davian. Ucapan Davian memang benar. Ia harus mendengar cerita dari sudut pandang keluarganya. Jika Ayahnya masih hidup mungkin ia bisa menceritakan kisah sebenarnya. Harapan satu-satunya kini hanya bundanya saja.
"Davian., maukah kau menemaniku menemui Bunda?” pinta Alena. Ia tidak akan sanggup jika harus mendengar ceritanya seorang diri. Davian mengangguk yakin. Apapun akan ia lakukan demi ketenangan hati Alena.
“Pasti sayang.. pasti.”
________
XOXO