I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#36



Rumah sakit selalu menjadi tempat yang memberikan aura buruk bagi Malvin. Ia tidak suka bau obat yang tercium di tiap sudutnya meksipun ruangannya sudah dipasangi pengharum ruangan beraroma mawar. Ia ingin merasakan udara segar. Karena itu Malvin mencoba turun dari tempat tidurnya lalu berjalan keluar rawatnya perlahan-lahan sambil menarik tiang tempat infusnya tergantung.


“Auh!!” Malvin merasa linu di kakinya ketika ia akan melangkah melewati lobi rumah sakit. Ia hampir saja jatuh tersungkur jika tak ada sepasang tangan yang menahan pinggangnya.


“Kau tidak apa-apa?” suara lembut yang terdengar di belakangnya membuat Malvin menoleh. Ia terkesiap melihat gadis yang ditemui di pesta kemarin ada di hadapannya. Senyum manis gadis itu tidak membuat wajah heran bercampur kaget Malvin menghilang. Perhatian Malvin kini tertuju pada jubah putih panjang yang dikenakannya lalu turun ke tangan gadis itu yang masih bertengger di pinggangnya.


Menyadari tatapan Malvin, gadis itu segera melepaskan tangannya setelah yakin Malvin tidak akan jatuh lagi.


“Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini,” Malvin belum menjawab. Ia masih terpaku pada baju dokter yang dikenakannya.


“Kau lupa padaku? Kita pernah bertemu di pesta. Namaku Yuka.” Yuka mengulurkan tangannya kembali karena waktu itu ia belum sempat berkenalan dengannya.


Alih-alih menjawab atau paling tidak menjabat tangan Yuka. Malvin justru bertanya dengan nada heran.


“Kau dokter?”


“Sebenarnya belum bisa dibilang begitu. Baru seminggu aku bekerja di sini, masih banyak yang harus kupelajari.” Ucapnya agak berbisik. Malvin tidak terlalu terpengaruh wajah ceria Yuka karena ia tidak memiliki ide apapun untuk melanjutkan pembicaraan mereka. Akhirnya ia hanya menghangguk singkat lalu pamit pergi.


Yuka agak kecewa dengan sikap acuh tak acuh Malvin. Pria itu tak berubah. Pikirnya. Karena masih penasaran dengan sosok Malvin. Yuka malah menghampiri pria itu lagi.


“Sudah berapa lama kau di sini?” tanya Yuka sambil berjalan di samping Malvin yang melangkah dengan begitu pelan.


“Sepuluh hari.”


“Kecelakaan?”


“Ya.”


Yuka mengerucutkan bibir. Lagi-lagi dijawab dengan lugas dan singkat. Jika begitu terus ia bisa kehabisan bahan pembicaraan.


“Ah, andai aku sudah bekerja di sini waktu itu. Aku pasti akan membantu menanganimu,” Yuka bermaksud bergurau agar Malvin paling tidak tersenyum padanya. Tetapi reaksi Malvin selalu membuatnya gemas. Pria itu kini malah menghentikan langkah, lalu menoleh padanya.


“Kau tidak ada pasien yang harus ditangani?”


“Sebenarnya ada sih.”


“Kalau begitu kau boleh pergi menemui pasienmu dan tinggalkan aku sendiri,”


“Kau boleh ikut jika tak keberatan,” ucap Yuka sambil tersenyum manis. Ia memutar pandangan ke arah lain lalu menunjuk sekumpulan pasien anak-anak yang berkumpul di dekat akuarium yang ada di lobi rumah sakit.


“Kau dokter anak?” lagi-lagi Malvin menjawabnya dengan pertanyaan.


“Tidak juga. Aku dokter spesialis penyakit dalam. Mereka adalah anak-anak yang menderita penyakit-penyakit parah. Dan aku ingin memberikan sedikit hiburan untuk mereka. Kau mau ikut?”


Malvin diam sejenak. Sepertinya ini bisa menjadi penghiburan juga untuknya. Malvin mengangguk kemudian.


•••


Alena tiba di kafetaria rumah sakit dengan perasaan gugup. Ia melihat Tuan dan Nyonya Radhian duduk di kursi yang terletak di dekat counter minuman lalu berjalan menghampiri mereka.


“Selamat siang,” Alena membungkukkan badannya untuk memberi hormat ketika tiba di hadapan mereka.


“Duduklah,” Nyonya Radhian terlihat lebih ramah hari ini. Alena tidak terlalu gugup lagi setelah melihatnya. Ia duduk di kursi kosong yang ada di hadapan Tuan Radhian yang duduk tegap.


“Kau tentu tahu kenapa aku mengajakmu berbicara hari ini,” Tuan Radhian mengawali obrolan dengan suara ringan. Alena mengangguk. Diam-diam ia meremas ujung bajunya untuk menyalurkan tubuhnya yang sedikit bergetar.


“Ini tentang Malvin.” Nyonya Radhian hanya menunjukkan raut pasrah dan tak mengatakan apapun.


“Malvin tahu kau mendonorkan darahmu untuknya.”


Apa? Alena membelalakkan matanya lebar. Ia menatap pria paruh baya di depannya dengan wajah terkejut. Sebenarnya itu tidak sopan namun Alena tidak tahu bagaimana cara menyembunyikannya.


“Dia pasti akan bertanya macam-macam soal ini dan aku ingin memintamu agar tidak berkata apapun seandainya Malvin bertanya padamu karena kami akan melakukan hal yang sama,” Karena Alena masih mengatupkan bibirnya Tuan Radhian kembali berkata,


“Ini masalah serius bagi kami. Karena itu kau harus berjanji.”


Alena merasa darah di sekujur tubuhnya membeku. Jantungnya berdebar kencang dan yang ingin ia lakukan adalah menangis. Tarikan nafasnya semakin pendek dan ia takut tidak akan sanggup menahan rasa frustasi yang menyesakkan dadanya. Karena itu dengan segenap kekuatan yang tersisa Alena menatap Tuan Radhian intens.


“Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun jika Anda menjawab satu pertanyaanku.” Tuan Radhian dan istrinya saling memandang sejenak,


“Katakanlah,” ucap Tuan Radhian mengizinkan.


“Apa Malvin anak kandung Anda?”


________


XOXO