I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#23



Alena mengerjapkan matanya beberapa kali untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Dan rupanya benar, sosok yang berdiri di hadapannya adalah Malvin. Mantan kekasih yang tersingkirkan dalam hidup Alena. Ia memaksakan bibirnya bergerak meski rasanya sulit sekali.


“Apa kabar?” Alena mendapati suara yang keluar dari tenggorokannya begitu pelan dan kini ia berusaha sekuat tenaga untuk tersenyum.


Malvin membalas senyum terpaksa Alena. Ia berjalan satu langkah mendekati Alena. Tangannya ingin sekali bergerak merangkul gadis yang begitu dipujanya. Menyelubungi tubuh ramping gadis itu dengan kehangatan dari lingkaran tangannya. Namun sekali lagi kenyataan membuatnya terbanting kembali ke bumi dengan keras. Kenyataan bahwa gadis yang sangat ia rindukan bukan lagi miliknya. Bukan lagi haknya. Itu artinya dia sudah menjadi milik pria lain. Tenggorokannya tercekat.


“Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?”


“Aku juga baik-baik saja,” Alena mengerjap sadar berkas-berkas yang digenggamnya tadi berserakan di atas trotoar. Astaga, Davian bisa mengamuk bila melihat berkas yang lebih penting dari uang satu miliyar itu kotor sedikit saja. lantas ia cepat membereskan kembali berkas-berkas itu. Malvin ikut berjongkok membantunya.


Alena tanpa sengaja menyentuh tangan Malvin ketika akan meraih salah satu berkas. Ia tersentak lalu buru-buru menarik tangannya.


“Maaf,”


“Tak apa. Kau bekerja?” Malvin bertanya karena ia menemukan lembar-lembar laporan keuangan di antara berkas itu. Mereka kembali berdiri setelah mengambil semua berkasnya.


“Iya. Tapi berkas ini milik suamiku.” Mimik Malvin berubah, rahangnya tampak mengeras.


“Kau bekerja menggantikan ayahmu?” Kali ini ekspresi Alena yang berubah menjadi lebih tegang. Ia lupa, tentu saja Malvin belum mengetahui tentang kematian Ayahnya.


“Ayahku, dia sudah meninggal,” lirihnya.


Deg.


Mengapa Malvin menyadari hatinya terguncang saat mendengar ayah Alena meninggal? Mungkin karena ia merasa bersalah karena secara tidak langsung, dirinya menjadi sumber masalah bagi keluarga Alena. Dan ia belum meminta maaf.


“Maaf, aku tidak tahu.” ujar Malvin ketika mereka kini duduk berhadapan di salah satu kafe tempat mereka biasa berkencan dahulu.


“Tidak masalah. Kau tidak ada di sini saat Ayah meninggal,” Malvin tersenyum,


“Kau benar-benar anak berbakti. Sebagian anak mungkin akan lari dari tanggung jawab di saat dirinya harus mengemban tugas berat di usia yang masih sangat muda,” ungkapnya kagum. Alena memang sosok gadis yang sangat langka.


“Aku tak punya pilihan lain. Ayah tidak memiliki anak lelaki yang bisa meneruskan bisnisnya. Meskipun hak penerus perusahaan belum diserahkan seutuhnya padaku, aku yang mengambil alih pekerjaan Ayah untuk sementara.”


“Kau bisa meminta bantuanku. Jika suamimu terlalu sibuk untuk membantumu, kau bisa datang padaku kapanpun kau minta. Aku akan senang hati mengulurkan tanganku.” Alena terdiam, pikirannya mengelana ketika Malvin mulai menyinggung Davian. Menyadari kediaman Alena, Malvin mulai beranggapan macam-macam.


“Apa kau bahagia?” tanyanya dengan suara rendah. Alena mengangkat kepalanya dengan wajah terperangah. Apa dirinya tampak tidak bahagia?


“Bukankah kau sudah berjanji untuk bahagia ketika hidup bersamanya? Aku hanya akan merelakan pernikahanmu jika kau bisa bahagia dengan suamimu,”


“Banyak masalah akhir-akhir ini,” ungkap Alena setelah beberapa saat terdiam. Ya, ia memang butuh sekali teman bicara dan satu-satunya yang ia percayai adalah Malvin. Ia tidak bisa membagi kisah seperih apapun dengan orang lain sekalipun itu Ibunya.


________


XOXO