I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#22



“Aku tidak marah ataupun menyalahkanmu. Kenapa aku harus melakukannya?” Davian menghela nafas berat,


"Aku takut kau menyalahkanku karena kematian Ayahmu. Karena menjagaku, kau tidak bisa melihatnya untuk terakhir kali.”


Alena melebarkan matanya, terkesima atas ucapan Davian. Jadi ini alasan mengapa sejak tadi pria itu terus menatapnya dengan wajah cemas dan menyesal? Ia harus menjelaskannya pada Davian bahwa semua ini terjadi karena takdir, bukan salah siapapun dan sekalipun ia tak pernah menyalahkan Davian atas kematian sang Ayah.


“Tak pernah sedetikpun aku berpikir itu adalah kesalahanmu. Sungguh. Aku memilih untuk tetap menjagamu saat itu. Aku tak merasa terbebani sekalipun atas keputusan itu karena aku sudah tahu apa resikonya. Tak perlu mencemaskanku.”


Davian merasa sesuatu dalam hatinya bergeser. Entah kenapa hari ini ia merasa Alena terlihat begitu berbeda. Tiba-tiba ia merasa telah menemukan sosok wanita impiannya dalam diri Alena. Sesuatu yang dulu sangat ia impikan namun tak pernah ia temukan dalam diri wanita mana pun, termasuk Jeane. Tapi, sesuatu itu apa? Mendadak, sesuatu yang pernah diucapkan Dion menggema di telinganya.


Hati manusia adalah komponen paling rumit yang dibuat Tuhan. Kau bahkan tidak bisa mengira nama siapa yang sebenarnya terukir di hatimu. Tanpa kau sadari, mungkin saja di hatimu nama Jeane perlahan terhapus dan digantikan oleh nama Alena.


Ia mengerjap. Ya Tuhan, jangan katakan dirinya baru saja menyadari bahwa... bahwa ia jatuh cinta pada Alena?


•••


Malvin tersenyum, untuk pertama kalinya sejak menginjakkan kakinya di negar ini. Sejak kembali, ia bertekad untuk melupakan kisah cintanya dengan Alena. Baginya, Alena hanya masa lalu. Setidaknya itu yang ia yakini selama beberapa bulan tinggal di Jepang. Ia terus menghipnotis dirinya sendiri bahwa masih banyak di dunia ini gadis yang lebih baik segala-galanya dari Alena. Meksipun belakangan ia sadar, tidak ada gadis yang memiliki hati sesabar Alena, senyum selembut Alena, dan sikap sebaik Alena.


“Berhenti mengasihani diri sendiri, Malvin!” Benar, bukannya tidak ada. Ia hanya belum menemukannya saja.


“Apa? Katakan yang jelas. Di mana restorannya?” tanya Alena agak keras karena pembicaraannya dengan Davian terganggu karena sinyal ponsel yang buruk. Davian memintanya untuk mengantarkan berkas penting yang tertinggal ke sebuah restoran.


“Etoile. Kau tahu kan restoran Perancis?”


“Ah, restoran di ujung jalan itu?” Ia segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jas lalu berdecak.


“Aku juga sibuk Tuan Fernandez, tapi kenapa sekarang kau suka sekali menyusahkanku?” meskipun mengeluh namun Alena mendapati bibirnya tersenyum manis. Sekarang mereka berdua sama-sama sibuk. Dan kabar baiknya, hubungan mereka justru menjadi lebih baik dari sebelumnya.


Hingga kini, Alena masih berharap Davian akan mengungkapkan bagaimana perasaan yang sesungguhnya padanya. Apakah cinta, atau hanya rasa penebusan dari rasa bersalahnya? Alena mengembangkan senyum terbaiknya lalu mulai melangkah menuju restoran yang hanya berjarak sekitar satu blok lagi. Tetapi, ketika berjalan beberapa langkah, senyum indah itu perlahan memudar seiring dengan langkah riangnya yang terhenti. Tubuhnya membeku dan matanya terpaku melihat sosok yang berdiri di depannya.


“Malvin.” bisiknya tak percaya. Tanpa disadari, berkas yang ia pegang berjatuhan ke atas trotoar jalan.


Siapa sangka setelah beberapa bulan tak melihat wajahnya, akan tiba juga hari di mana sosok masa lalu muncul kembali. Malvin terdiam dengan mimik serupa dengan Alena. Terkejut sekaligus tak percaya.


________


XOXO