
Jeane meremas sendok yang digenggamnya dengan penuh amarah. Ia tidak bisa memaafkan Alena yang menamparnya tadi. Ia tidak salah bicara bukan. Memang seharusnya gadis itu tahu apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan Davian. Davian mencintainya dan pasti akan meninggalkan Alena cepat atau lambat. Mungkin jika ia mengatakannya, Alena akan mundur secara teratur dan membiarkan dirinya memiliki Davian secara utuh.
“Kau kenapa?” Davian merasa heran melihat Jeane yang terus menggerutu tak jelas. Acara makan siang mereka terganggu akhirnya. Jeane membenarkan posisi duduknya lalu mendesah.
“Istrimu sungguh gadis yang menyebalkan dan tak bisa diajak bergurau. Aku hanya berkata sedikit dia sudah berani menamparku!” keluh Jeane dengan nada agak merengek. Akhirnya tiba sesi mengadu Jeane pada Davian. Tentu saja mendengarnya Davian terkejut.
“Alena kemari?” Davian malah bertanya dengan nada heran, membuat Jeane semakin kesal mendengarnya. Bukan ini reaksi yang ia inginkan dari Davian.
Semenjak mereka bertengkar tempo hari, suasana antara Davian dan Alena menjadi semakin canggung dan dingin. Seharusnya ia merasa lega karena tidak perlu berinteraksi dengan gadis pengganggu itu tapi apa yang terjadi sekarang, ia merasa salah satu sisi hatinya terasa hampa. Apa yang terjadi, ia pasti salah paham akan perasaannya sendiri.
Jeane meletakkan sendoknya dengan keras. Ekspresi Davian yang tampak seperti orang kebingungan membuatnya semakin kesal.
“Kenapa tidak mengatakan apapun? Seharusnya kau menghiburku!!” suara Jeane meninggi, hampir mengalihkan perhatian seluruh pengunjung restoran China itu pada mereka berdua.
“Kau tidak tahu bukan apa yang dilakukan istrimu? Dia sudah menamparku. Hatiku ini sangat terluka. Dia menamparku dan menuduhku sudah merebutmu darinya! Seharusnya aku yang berteriak seperti itu. Dia ia yang sudah merebutmu dariku! Aku butuh penghiburan darimu dan sekarang kau malah berdiam tak jelas seperti ini?”
“Jeane~ssstt…” Davian meminta Jeane memelankan suaranya namun terlambat, sisi sensitif gadis itu sudah terusik. Kini Jeane mulai meneteskan airmata.
“Sampai kapan kau akan membuatku seperti ini? Kau mencintaiku, bukan? Seharusnya kau segera meninggalkan dia.”
Davian terenyuh melihatnya. Ia merasa tidak tega sekaligus bersalah. Lantas ia bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil tempat di kursi samping Jeane, merangkul bahu gadis itu lalu menghapus airmatanya.
“Jangan menangis. Aku berjanji akan meninggalkan Alena. Kau hanya tinggal menunggu. Kumohon bersabarlah,” Davian memeluknya erat. Jeane merasa lega dalam dekapan Davian meski airmata masih mengalir di pipinya.
“Kau harus tepati janjimu,” lirih Jeane, lalu balas memeluk Davian. Tanpa Davian sadari, seulas senyum licik terbit di sudut bibir gadis itu.
•••
Foto pernikahan yang terpajang cantik di salah satu dinding ruang tamu apartement tak membuat Alena tersenyum penuh arti. Pada awalnya di matanya foto dirinya dalam balutan gaun pengantin, berdiri berdampingan dengan laki-laki paling tampan yang pernah ia temui tampak begitu manis dan berhasil membuat wajahnya tersipu. Sekarang, foto itu tak lebih dari sebuah potret penuh kepalsuan. Ia bahkan tidak bisa tersenyum malu lagi saat menatapnya. Hatinya justru merasa sakit dan perih.
Terdengar suara ‘pip-pip’ dari arah luar pintu pertanda seseorang sedang memasukkan kode keamanan rumah. Alena cepat-cepat menormalkan kembali ekspresinya karena ia yakin Davian sudah kembali dari kantor. Pintu berderit terbuka tak lama kemudian. Tepat seperti dugaan, sosok tinggi tegap masuk dengan jas yang tersampir di tangannya.
Biasanya Alena akan langsung menghampiri Davian. Tapi berbeda situasinya kali ini. Ia memilih diam di tempatnya.
Davian bisa membaca suasana dari raut muka istrinya. Maka dari itu ia tidak perlu berbasa-basi lagi. Ia segera meletakkan tas yang dibawanya ke atas meja, lalu berdiri di hadapan Alena.
“Kau menampar Jeane?” tanyanya dingin. Mungkin di telinga orang lain akan terdengar ketus, namun terselip rasa penasaran dan cemas dari intonasinya.
Alena melirik sekilas, lalu menjawabnya tanpa minat. “Wanita itu mengadu padamu rupanya.”
“Wanita itu?” Davian meninggikan suaranya, tersinggung atas jawaban Alena.
“Iya, Jeane. ‘Kekasih gelapmu’,” ujar Alena sinis.
Davian mendesis marah sambil berkacak pinggang. Tadinya ia berniat menanyakan alasan Alena menampar Jeane dengan baik-baik. Rupanya niat itu harus diurungkan.
“Aku tak menyangka kau bisa kasar seperti ini. Aku pikir kau gadis baik-baik yang,” Davian berhenti sejenak untuk mengatakan kata ‘penakut’.
“Kupikir kau gadis yang berhati-hati. Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu tatakrama?”
Alena menoleh saat Davian menyinggung orang tuanya, hatinya bergemuruh. Davian boleh saja menghina siapapun asal bukan orang tuanya. Ia berdiri, lalu menatap Davian tajam.
“Orangtuaku tidak ada sangkut pautnya sedikitpun dengan kejadian hari ini jadi jangan pernah membawa mereka dalam masalah yang kubuat!”
Kali ini Davian terkejut, karena pertama kalinya ia melihat Alena berkata dengan mata menyala-nyala dan penuh emosi seperti ini.
“Jika ada yang harus disalahkan, dia adalah Jeane. Kau tidak mendengar apa yang dia katakan? Dia bilang,” kata-kata Alena tersendat. Ia tidak boleh mengatakannya. Hatinya sudah terlalu hancur. Apa harus ia membuat hatinya berubah menjadi debu saat mengatakannya?