
Beberapa hari setelahnya, Davian mengantar Alena mengunjungi Bundanya yang masih menempati rumah lama keluarganya. Mereka tidak hanya berdua karena ternyata, Malvin meminta ikut bersama. Pria itu sama penasarannya dengan Alena. Dia ingin mendengar langsung cerita dari sisi Ayah kandungnya.
Nia--Bunda Alena sempat terkejut ketika putrinya datang bersama suaminya. Tetapi ia lebih terkejut lagi ketika melihat Malvin pun ikut bersama mereka. Sekarang mereka duduk di ruang keluarga dengan suasana yang canggung. Udara yang terasa berat dan pengap menyubungi ruangan yang sebenarnya luas dengan jendela besar yang terbuka. Nia menghela napas sebelum memulai ceritanya. Ia sudah tahu maksud kedatangan Alena setelah putrinya itu memohon padanya untuk menceritakan kisah cinta mendiang Ayahnya dengan wajah memelas.
“Aku kenal Sarah,” ujar Nia dengan suara rendah dan hangat. Ia memberikan senyumnya pada ketiga orang yang menatapnya dengan wajah tegang.
“Dia adalah wanita yang cantik dan sangat beruntung karena dicintai begitu besar oleh Ayahmu,” Nia menatap Malvin sejenak dan pria itu mengerjapkan mata.
“Mereka saling mencintai bahkan sebelum Ayahmu dijodohkan dengan Bunda.”
Ketiga orang itu terkesiap dan menahan napas bersamaan. Jadi, mereka memang saling mencintai pada awalnya?
“Ayahmu berjanji untuk menikahi Sarah dan itulah yang membuatnya begitu semangat membangun perusahaan yang dirintisnya. Namun segalanya menjadi kacau balau saat Kakek Alena meminta Ayahmu menikah dengan Bunda. Dia sangat kecewa dan mulai menentang ide pernikahan..” bersamaan dengan itu Alena seperti melihat kembali kejadian di masa lalu seperti film yang diputar balikkan versi keluarganya. Kenyataan dibalik sikap permusuhan yang diperlihatkan oleh Ayahnya maupun keluarga Malvin dan semua kejadian itu membuatnya semakin sulit bernapas.
*Flashback*
David menatap marah gadis di depannya, sementara Nia hanya mampu menatap kosong gelas teh yang ada di hadapannya. Ia tidak sanggup berkata, bahkan bernapas pun sulit. Ia tahu keputusannya menyetujui perjodohan ini sangat bodoh namun ia tidak bisa menolak tawaran ayahnya sendiri saat tahu pria yang dijodohkan dengannya adalah David, pria yang dicintainya diam-diam. Nia mengenal David yang satu kampus dengannya sebagai pria yang gigih, ramah pada siapa saja, baik, dan dicintai semua orang. Itulah hal mendasar yang membuatnya jatuh cinta pada David.
“Bukankah sudah kukatakan aku mencintai gadis lain, mengapa kau tetap menyetujui pernikahan ini?”
Tentu saja aku tahu itu, batin Nia. Ia sudah mendengar gosip bahwa David menjalin hubungan dengan seorang gadis dari kampus yang sama. Namun sekali lagi sepertinya perjodohan ini adalah takdir yang sudah digariskan Tuhan untuknya sehingga ia setuju begitu saja tanpa memikirkan perasaan David.
“Alasan klasik,” rutuk David dengki. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Nia memberanikan diri mengangkat kepalanya dan detik itu juga hatinya mencelos kala ia menangkap raut putus asa dan penuh penyesalan di wajah pria calon suaminya itu. Saat itu ia sadar, ia sudah menorehkan luka di hati orang paling dicintainya.
“Aku memberikanmu kesempatan berpikir lagi. Kuharap jawaban yang kudapat berikutnya adalah penolakan darimu. Jika kau masih tetap bersikukuh juga, jangan salahkan aku jika aku menggunakan cara-cara menyakitkan untuk membuatmu mengakhiri perjodohan ini,” ujar David dengan nada dingin.
Niamencoba untuk mengabaikan ancaman David. Ia rela mengambil resiko tidak mendapatkan cinta pria itu asalkan bisa menikah dengannya. Tak apa jika orang mengatakan ia wanita egois karena cinta selalu mampu membuat sesuatu yang buruk menjadi baik.
•••
Beberapa hari setelahnya tanpa sengaja ia melihat David mengajak seorang gadis masuk ke dalam rumah pria itu ketika ia hendak mengantarkan sesuatu atas perintah calon ibu mertuanya.
“Siapa gadis itu?” pikirnya. Mungkinkah itu Sarah, gadis yang dicintai David? Rupanya hubungan mereka belum berakhir juga bahkan di saat pernikahan dirinya dan David tinggal dua minggu lagi.
Sejauh ini Nia tetap bersikukuh pada keinginannya menjadi istri David. Ia tidak peduli pada kenyataan bahwa ada dua hati tersakiti karena keegoisannya. Meskipun didera keraguan, ia tetap mendekati rumah itu dan mengendap-endap seperti pencuri. Dari ambang jendela yang terbuka, ia bisa melihat David sedang duduk berdampingan bersama seorang gadis yang diyakininya adalah Sarah. Ekspresi keduanya sama-sama cemas, kalut, dan putus asa.
“Tunggulah sebentar lagi, Sarah. Aku yakin Nia pasti akan membatalkan rencana pernikahan dan saat itu kita akan menikah.”
________
XOXO