I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#48



Awalnya ia yakin bisa, namun saat pernikahannya dengan David digelar mewah dan meriah, saat itu ia melihat ekspresi dua orang yang begitu menyayat hati. David, suaminya sama sekali tidak gembira di hari pernikahannya dan gadis itu—Sarah, memandang sedih ke arah mereka dari kejauhan. Nia merasa amat bersalah. Meskipun begitu ia tetap berpikir positif. Ia yakin seiring berjalannya waktu suaminya pasti akan berbalik mencintainya.


Siapa sangka usaha Nia menjadi istri yang pantas di mata David tidak membuahkan hasil sama sekali. David benar-benar membuat pernikahan mereka hanya sekedar status. Meskipun tinggal dalam satu atap, namun mereka tidur di kamar yang terpisah. Sejak pernikahan Nia belum merasakan indahnya menjadi seorang pengantin. David tidak pernah menyentuhnya atau sekedar memeluk. Nia yakin suaminya masih mencintai Sarah. Ia merasa dikhianati karena suaminya menaruh hati pada gadis lain dan tahu seharusnya ia tidak perlu merasa sakit. Ia tahu inilah konsekuensinya sejak awal. Sesuatu yang harus ditanggung karena menikah dengan pria yang tidak mencintainya.


Nia sudah berniat mengabulkan keinginan tak terucapkan David saat pernikahan mereka sudah berjalan satu tahun lebih karena suaminya itu tidak kunjung memberikan perhatian padanya. Meskipun di depan para orang tua mereka berpura-pura menjadi sepasang suami istri yang harmonis, namun rumah tangga yang dibangun tanpa cinta bukanlah rumah, tapi hanya bangunan tanpa isi. Ia juga tahu David pasti akan senang jika ia mengajukan cerai dan suaminya itu bisa kembali memeluk Sarah.


David memang tidak pernah mengatakannya secara jujur, namun Nia yakin suaminya itu sangat merindukan Sarah. David selalu pura-pura tersenyum selama ini. Karena sudah tidak tahan melihat wajah penuh sandiwara suaminya, Nia mengajak David berbicara malam itu.


“Jika kau sudah tidak sanggup mempertahankan pernikahan ini, kau bisa menggugat cerai diriku,” Nia berkata dengan suara bergetar pada suaminya yang sedang duduk termenung sambil sesekali menenggak soju. Malam itu turun hujan deras, membuat suasana terasa sepi dan senyap. Namun ketegangan menyelimuti sepasang suami istri yang sedang berbicara di ruang tengah yang remang-remang itu. Nia melihat ekspresi sang suami begitu tertekan, seperti tidak sanggup menanggung beban lagi.


David menoleh padanya, dengan pipi memerah karena pengaruh alkohol yang sudah terlalu banyak ditenggaknya, “Kenapa baru sekarang kau mengajukan hal bodoh itu?”


Nia meremas tangannya sendiri, gugup sekaligus takut. “Tidak ada lagi alasan untukmu menjalani pernikahan ini lagi. Jika kita bercerai, kau bisa kembali pada Sarah..”


“Lupakan Sarah.,” desisnya frustasi, menyela ucapan Nia. Gadis itu jelas terkejut. Ini pertama kalinya ia mendengar David menyinggung soal Sarah dengan nada selemas ini. Apa gerangan yang terjadi?


“Gadis itu menghilang entah kemana. Kudengar dari salah satu temanku dia sudah menikah dan memiliki anak, entahlah..” David meremas rambutnya sendiri, matanya mulai berair dan Nia yakin saat ini suaminya itu sedang mencoba menahan tangisannya.


“Percuma aku mencari gadis yang sudah pergi meninggalkanku, Sarah..dia meninggalkanku..”


Sekujur tubuh Nia melemas, bukan karena ceritanya tentang Sarah, tapi karena ia melihat bahu suaminya bergetar. Memang tidak ada isak tangis, namun ia melihat airmata merebak keluar dari kedua sudut mata pria itu. Dalam keremangan ruangan tempat mereka berada, Nia merasa begitu sakit melihat suaminya menangis diam-diam. Ia berada di sana, tetapi tidak bisa berbuat apapun. Itulah hal paling menyesakkan.


Pelukan Nia memang begitu membantunya. David merasa tidak ragu lagi untuk bersedih karena ia memiliki tempat bersandar sekarang. Tanpa sadar kini kedua tangannya sudah memeluk erat Nia. Untuk pertama kalinya, Nia dipeluk oleh suaminya dan perasaan bahagia yang selama ini ia damba akhirnya bisa ia rasakan.


“Keluarkan semua kesedihanmu, jangan ragu,” bisik Nia. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyuman bahagia. Maaf aku gembira di atas kesedihanmu, batin Nia.


David perlahan mengangkat wajahnya dari bahu Nia. Dengan perasaan campur aduk ia menatap gadis yang selama ini diabaikannya. Ia tidak menyangka setelah sekian banyak luka yang ia berikan, gadis ini masih memiliki sisa perasaan untuk bersimpati padanya. Nia, dia gadis yang luar biasa dan itu adalah istrinya.


“Entah bagaimana aku harus berterima kasih padamu, hari ini kau sudah bersedia menjadi tempatku bersandar..”


“Aku selalu bersedia menjadi tempatmu bersandar,” sela Nia. Ia tidak mau membiarkan rasa bahagia yang baru dirasakannya menguap begitu saja. Ia menggenggam kedua tangan David. Ia rasa ini adalah kesempatan untuk memiliki hati pria ini.


“Bolehkah aku meminta hal lain sebagai ucapan terima kasihmu untukku?” ucapnya sungguh-sungguh.


“Apa?” David merasa berhutang karena itu ia akan mengabulkan apapun yang diminta Nia untuk kali ini saja.


“Cobalah belajar mencintaiku.”


________


XOXO