
Hari ini adalah hari pemeriksaan kandungan untuk Alena. Davian dengan setia menemani istrinya menemui dokter kandungan pribadinya. Dokter mengatakan kandungan Alena baik-baik saja dan dalam keadaan stabil. Mereka lekas pamit segera setelah pemeriksaan selesai.
“Sudah kukatakan, kau harus banyak minum susu. Kenapa kau sulit sekali kunasehati?” Davian berkata, dengan mesra menggandeng tangan istrinya ketika mereka berjalan melewati lobi rumah sakit.
“Tapi aku lebih suka makan buah.”
“Aku tahu, tapi buah yang kau makan hanya anggur dan strawberry, aku curiga jangan-jangan anak kita perempuan,” Davian tersenyum hingga menampilkan lesung pipinya. Lirikan nakalnya membuat pipi Alena merona merah, meskipun ia tahu Davian tidak bermaksud membuatnya tersipu malu.
“Apakah akan masalah jika anak kita perempuan?” Alena berkata dengan nada kecewa. Mendadak saja ia takut Davian akan menelantarkan anaknya hanya karena bayi yang terlahir nanti adalah bayi perempuan.
“Tentu saja tidak, sayang. Aku tidak peduli anak kita perempuan atau laki-laki. Asalkan itu anak yang terlahir darimu, aku akan mencintainya seperti aku mencintaimu.”
Pipi Alena semakin memerah hingga ke telinganya. Akhir-akhir ini Davian pernah ragu mengatakan cinta padanya. Bahkan tak peduli berat badannya semakin bertambah akhir-akhir ini, pria itu justru semakin bersikap romantis. Bangun lebih dulu demi menyiapkan sarapan untuknya adalah kebiasaan baru Davian. Pria itu juga tidak akan ragu untuk menciumnya jika Alena mulai memandanginya cukup lama. Yah, entah karena bawaan bayi, Alena sendiri tidak tahu namun ia seperti mengharapkan Davian lebih sering menciumnya di bandingkan sebelum ia hamil dulu.
Alena tak perlu berkata karena Davian sudah tahu apa yang diinginkannya hanya dari tatapan mata saja. Beruntung sekali ia memiliki suami secekatan Davian.
“Kenapa sekarang kau menatapku?” Alena tersadar begitu mendengar suara Davian. Ia mengerjapkan beberapa kali dan terhenyak sadar melihat Davian menatapnya gemas. Matanya yang jernih itu berkilat-kilat penuh arti.
“Alena,, tidak mungkin aku menciummu di sini. Kau tahu bukan kita berada di tempat umum?”
Alena baru benar-benar tersadar kali ini. Astaga, Davian benar-benar salah mengartikan tatapan matanya. Ia segera memalingkan pandangannya dengan wajah merona malu. Ia memejamkan mata erat sambil menggumam dalam hati
Nak, kenapa kau meminta hal yang tidak-tidak?
Alena tidak bermaksud menyalahkan anaknya, hanya saja ia tidak tahu harus melimpahkan pada siapa lagi penyebab keinginan anehnya selama hamil. Davian tergelak namun tetap sopan. Dasar, sejak kapan suaminya berubah menjadi pria jahil seperti ini?
Semuanya terasa baik-baik saja sebelum keduanya mencapai pintu keluar rumah sakit sampai keduanya berpapasan dengan Jeane. Suasana tiba-tiba saja terasa begitu hening. Jeane hanya berdiri sambil menatap dua orang di depannya. Untuk sesaat pikirannya seperti kosong.
“Wah, tak kusangka kita bertemu di sini, apa yang kalian lakukan?” Jeane tersenyum, terlihat jelas ia memaksakannya.
Davian merasa Jeane sedang menyembunyikan sesuatu namun ia tidak mau merusak rasa bahagianya dengan bertanya yang tidak-tidak. Karena itu Davian balas tersenyum.
“Hari ini jadwal pemeriksaan kandungan Alena,” jawabnya santai. Jeane menggigit bibirnya sebelum menjawab dengan suara tercekat.
“Senang mendengar kalian akan memiliki anak, kalau begitu aku permisi.” Jeane buru-buru melenggang keluar dari rumah sakit. Davian dan Alena hanya berpandangan.
“Sudahlah, mungkin saja dia sedang sakit.” Davian mengibaskan tangan lalu menarik Alena pergi.
***
Setiap kali menatap Malvin. Alena merasakan suatu ganjalan. Ada pertanyaan yang sangat ingin ia tanyakan. Ia seharusnya tahu Malvin bebas menyukai siapapun namun mengingat pernyataan Yuka ketika di bandara, Alena tidak pernah bisa tenang. Malvin boleh tertarik pada siapapun, tetapi kenapa harus Jeane? Meskipun gadis itu sudah menjadi baik tapi tetap saja.
“Semua berjalan lancar, kau tenang saja.” Malvin tersenyum sambil meletakkan cangkir kopinya. Alena tersenyum simpul lalu menyesap teh. Tiba-tiba saja hari ini ia ingin sekali menengok Malvin pasca menjadi CEO baru perusahaan mendiang Ayahnya.
“Aku percaya padamu. Hanya saja ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”
“Apa itu?.”
“Apa kau benar-benar menjalin hubungan dengan Jeane?” Alena bertanya serius.
Untuk beberapa detik Malvin terpaku, reaksinya menunjukkan keterkejutan. Pria itu tidak langsung membantah ataupun membenarkan, tetapi menjawab dengan nada gamang,
“Kau tahu darimana?”
“Menurut gossip yang kudengar…” Alena tidak mau berkata ia tahu semua ini dari Yuka.
“Pasti gadis dokter itu yang mengatakannya,” sela Malvin yakin, karena hanya pada gadis itu ia mengakui Jeane adalah kekasihnya.
Alena mengerjap, kaget. Malvin menatapnya yakin sehingga sulit bagi Alena untuk mengelak.
“Iya,” Alena membalas kata-kata Malvin dengan mata membulat.
Pria ini tahu?
***
XOXO