I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#30



Malvin merasa dirinya tidak diperlukan dalam diskusi seru keempat orang itu. Ia lantas memisahkan diri dan beranjak lunglai ke arah balkon untuk menghirup udara segar. Mendadak saja paru-parunya sulit sekali memompa udara. Setibanya di balkon yang sepi dari keramaian pesta, Malvin menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Dia merenung menatap langit tanpa awan.


Kenapa rasanya takdir tidak ada yang berpihak padanya? Terlalu banyak masalah yang datang sampai ia tidak yakin masih sanggup untuk berdiri. Malvin rasanya ingin menjatuhkan diri ke danau es sampai seluruh tubuhnya membeku. Dengan begitu ia tidak perlu merasa sakit lagi.


“Aku tahu bagaimana sakitnya hati yang terluka,” Malvin menoleh mendengar suara dari arah sampingnya. Seorang gadis tak dikenal tiba-tiba saja berdiri di sana. Gadis itu menoleh ke arah Malvin dan ia menyadari ekspresi mereka serupa. Sepertinya gadis ini baru saja patah hati.


“Dikhianati itu menyakitkan bukan?” tambahnya karena Malvin tak kunjung menyahut. Akhirnya, setelah diam cukup lama Malvin menjawab.


“Akan menyakitkan jika kau tidak mencoba merelakannya,” ia menengadahkan kepalanya ke langit. Mengharap menemukan bintang jatuh sehingga ia bisa mengajukan satu permohonan. Ia berharap agar bisa merelakan Alena bahagia bersama Davian.


“Lalu, apakah kau sudah mencoba untuk rela? Apakah hatimu juga sudah rela?”


Malvin merasa ada yang aneh dengan cara bicara gadis ini. Ia menatap curiga gadis di sampingnya. Gadis itu terlalu banyak bicara untuk orang yang baru saja bertemu.


“Siapa kau?”


“Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Jeane,”


“Malvin,” Malvin menjabat tangan Jeane karena merasa tidak ada yang salah kalau hanya berkenalan. Namun tetap saja ia merasa curiga dengan gelagat Jeane.


“Kau tahu, aku adalah wanita yang dicampakkan Davian karena dia lebih memilih menikah dengan Alena dibanding diriku hanya karena Ayahnya membenciku,” cerita Jeane tanpa ragu, membuat Malvin kembali terkejut. Cukup mendengar nama Davian dan ‘dicampakkan’ cukup membuatnya paham maksud wanita ini mengajaknya berbicara tadi.


“Kau,”


“Jadi apa tujuanmu mengajakku berbicara?”


Jeane merasa tertarik dengan sosok Malvin karena pria ini merespon dengan cepat maksud dibalik obrolan mereka. Alena ternyata bodoh sudah mencampakkan pria sepertinya. Secara fisik, Malvin tak kalah tampan dengan Davian. Apa yang membuat Alena lebih memilih Davian dibanding pria ini?


“Aku ingin mengajakku bekerja sama, bagaimana. Jika kita berhasil kau bisa mendapatkan Alena sementara aku mendapatkan Davian.” Jeane mengajukan penawarannya. Malvin tersentak dan ia sempat terlena oleh tawaran Jeane. Ia memang ingin Alena kembali pada dirinya. Terbayang dalam benaknya wajah bahagia Alena dan kata-katanya bahwa gadis itu mencintai Davian.


Malvin memang ingin Alena bersamanya. Namun ia tidak ingin membuat gadis itu bersedih jika berpisah dengan Davian. Malvin cepat menepis pikiran itu. Ia tidak boleh egois.


“Terima kasih atas tawaranmu tapi aku tidak tertarik sedikitpun. Aku lebih memilih diriku menderita dibanding Alena yang menderita.” Malvin membalikkan badannya membuat Jeane terperanjat kaget. Sebelum dia benar-benar pergi, Malvin menoleh kembali pada Jeane.


“Jika kau memang benar-benar mencintai Davian, kau tidak akan menghancurkan kebahagiaannya.”


“What,” Jeane mencoba mencegah Malvin pergi namun terlambat. Sekarang, dia berdiri sendirian di balkon dengan dada bergemuruh. Bahkan pria tadi pun enggan membantunya mendapatkan Davian? Apa yang terjadi dengan semua orang? Mengapa semua hal seolah berpihak pada Alena? Mengapa tak ada yang memihak padanya??


Tak ada cara lain. Satu-satunya cara hanyalah memberi pelajaran pada Alena!!


________


XOXO