I HATE YOU, BUT

I HATE YOU, BUT
#66



Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kata-kata Jeane? Gadis itu berkata takut membunuh orang lagi dan tidak mau melampiaskan rasa kesalnya karena diperlakukan tidak adil pada orang-orang yang telah membuatnya menderita? Kenapa Malvin merasa Jeane memiliki masalah dengan kejiwaannya? Tidak mungkin. Gadis itu terlihat sangat normal. Kau bodoh Malvin jika sudah berpikir seperti itu. Malvin memaki dirinya sendiri.


Jika Jeane memang sudah sangat frustasi dan berniat melakukan niatnya, sasarannya pasti Davian dan Alena


“Ah, aku bisa gila!!” Malvin berteriak sendiri. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mondar mandir. Ia menoleh pada handphone dan memutuskan untuk menelepon Davian saja.


“Hallo.” tak butuh waktu lama Davian mengangkat panggilannya.


Malvin segera mencecar Davian dengan pertanyaan yang sudah menari-nari dalam pikirannya.


“Apa Alena berada sendirian di apartemen?”


“Ya, kenapa?” Malvin mencengkeram gagang telepon, ragu apakah harus mengutarakan pikirannya.


“Um, apa Jeane berkunjung ke apartemenmu hari ini?”


“Aku tidak tahu. Kenapa?”


“Tidak, aku akan menghubungimu lagi nanti.” Malvin segera memutuskan sambungan sadar bahwa tindakannya terlalu awal. Ia terlalu mencurigai Jeane dan mengait-ngaitkannya dengan Alena. Bisa saja masalah Jeane bukan hanya Alena dan Davian. tetapi kata-kata Jeane sungguh mengusiknya.


Akhirnya Malvin memutuskan menghubungi Jeane.


***


Setelah Malvin memutuskan sambungan, Davian tidak bisa bekerja dengan tenang karena pikirannya teralih pada istrinya tercinta yang ia tinggal di rumah. Ia terusik karena Malvin menyinggung tentang Jean. Apa pria itu tahu Jeane akan berkunjung ke rumahnya sehingga bertanya?


Lebih baik ia menanyakannya saja langsung daripada menebak-nebak sendiri. Davian segera menghubungi istrinya. Davian menanti hingga hubungan tersambung dengan perasaan gelisah,


“Hallo,” serunya senang ketika Alena mengangkat panggilannya.


“Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa Jeane ada di sana? Sungguh? Kenapa, tidak, aku hanya heran karena tadi Malvin menelepon dan bertanya soal Jeane. Dia tidak melakukan apapun padamu bukan? Tidak? Syukurlah.” Davian mendesah lega,


“Kalau begitu sampaikan salamku pada Jeane. Ya, aku akan pulang segera. Jaga diri di rumah dan jika ada hal yang aneh segera hubungi aku.”


Davian kira hatinya akan lega setelah menelepon Alena, ternyata ia justru merasa semakin gelisah. Terusik oleh perasaan cemas yang tidak bisa dijelaskannya. Ini firasat aneh, Davian curiga ini ada kaitannya dengan keberadaan Jeane di rumahnya. Ia sudah mengenal tabiat Jeane selama berpacaran dengannya dulu. Gadis itu tidak pernah benar-benar menyukai sesuatu jika sudah pernah membencinya sekali.


***


“Hal yang paling romantis dari Davian adalah ketika dia mengusap perutku sambil bernyanyi sebelum aku tidur. Padahal siapapun tahu suaranya sumbang sekali tetapi aku sangat menghargai usahanya membuatku tidur nyenyak.” Alena masih menceritakan kisah pernikahannya yang bahagia tanpa menyadari Jeane yang diam-diam menatapnya kejam.


Gadis itu penyebabnya. Dia yang sudah membuatmu menderita. Gadis itu harus dilenyapkan agar kau bisa bersama Davian.


Suara itu kembali berbisik. Jeane menggelengkan kepalanya. Ia meremas bajunya sendiri dengan kencang demi mengenyahkan suara itu.


“Kau tahu, kami sudah menyiapkan nama untuk anak kami.” Ujar Alena lagi.


Jeane memaki dalam hati, meminta Alena menyudahi ceritanya karena ia sudah tidak sanggup lagi. Jeane memejamkan mata sejenak setelah itu ia berkata.


“Sepertinya aku harus pulang.”


“Cepat sekali, kita baru berbincang sebentar.” seru Alena kecewa. Jeane tersenyum palsu sambil turun dari tempat duduknya,


“Ada urusan yang harus kuselesaikan.” Ia memang harus pergi sebelum suara-suara aneh itu semakin menggema, menyuruhnya untuk lepas kendali. Alena memang sudah menghancurkan kebahagiaannya, tetapi bukan berarti ia harus melenyapkan gadis itu. Tiba-tiba saja ponsel Alena berdering, gadis itu mengangkatnya dengan wajah ceria,


“Oh, Davian.” Seru Alena.


Itu pasti panggilan dari Davian. batin Jeane.


“Aku sedang di rumah,” Alena lalu menoleh pada Jeane.


“Jeane memang berkunjung hari ini, Kenapa? Apa? Malvin menanyakan hal aneh tentang Jeane?”


Rahang Jeane mengeras ketika Alena menyebutkan tentang Malvin. Bagaimana bisa Malvin mencurigainya? Memang apa yang sudah dikatakannya pada pria itu?


***


XOXO